korean wave

The Korean Wave

Oleh: Fahrur Rozi (@rozyArkom)
*
Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, diketahui telah mengundang grup idol dari Korea Selatan, Girls Generation (SNSD), pada Agustus nanti. Terlepas dari segala kontroversinya, ini menunjukkan popularitas budaya Korea di Indonesia.

Mari kita liat dari konteks lebih luas. Tentang Identitas Korea Selatan. Termasuk ‘serangan’ budaya (Korean Wave) yang juga menyerbu Indonesia.

Di beberapa aspek Indonesia mirip Korsel. Reruntuhan abu Perang Korea (1950-1953) melahirkan generasi meritokratik (tokoh-tokoh berjasa besar) dan sangat menentukan pembangunan Korsel, hingga menjadi negara maju, seperti saat ini.

Daniel Tudor, koresponden untuk majalah The Economist, menulis buku menarik tentang Korea Selatan berjudul Korea, The Impossible Country (2012). Buku ini bercerita tentang kisah Korsel dari negeri yang dibelit kemiskinan dan di bawah kekuasaan tangan diktator menjelma menjadi negeri modern dan makmur; negeri yang enerjik. Ibarat metamorfosa, “from nothing to something”.

Korsel, menurut Tudor, memiliki 2 mukjizat yang telah menjadikan ”Negeri Ginseng” itu seperti sekarang ini. Pertama,”Mukjizat Sungai Han”. Han adalah sungai besar yang membelah Ibukota Korsel, Seoul dan merupakan sungai terpanjang keempat (494 kilometer) setelah Sungai Amnok, Duman, dan Nakdong.

Istilah ”Mukjizat Sungai Han” digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan ekonomi Korsel setelah Perang Korea 1953 yang demikian cepat: dari sebuah negara yang terpuruk karena perang, terbelakang secara ekonomi, pengangguran menumpuk, serta infrastruktur hancur, menjadi negara modern dan makmur.

Kini, perekonomian Korsel didominasi para chaebol, konglomerat keluarga. Di antaranya adalah Hyundai, Daewoo, Samsung, LG, Hanjin, SK Industrie, dan Kumho-Asiana. Produknya dapat dengan mudah kita temui di Indonesia.

Mukjizat kedua adalah transformasi politik dari negara diktator militer menjadi negara demokratis.

Di kawasan Asia, ada negara-negara lain yang sukses secara ekonomi, tetapi tidak secara politik seperti Korsel. Misalnya, Singapura dan China. Kedua negara itu maju secara ekonomi, tetapi secara politik, menurut istilah Tudor, masih di bawah sistem politik otoritarian.

Korsel kini, physically, memang sudah maju dan modern. Namun, apakah sudah sesuai dengan cita-cita para bapak-pendiri bangsanya? Salah seorang pejuang kemerdekaan Korsel, Kim Gu (1876-1949), pernah mengatakan,”Saya tidak menginginkan bangsa kami menjadi bangsa yang paling kuat dan kaya di dunia… Yang kami inginkan hanyalah menjadi ’bangsa terindah di dunia’ yang memberikan kebahagiaan bagi bangsa kita sendiri dan bangsa-bangsa lain.” (Trias Kuncahyono: 2014)

Cita-cita Kim Gu hingga kini belum sepenuhnya terwujud. Sebab, Korsel, sebagaimana negeri ini, direcoki oleh hegemoni Amerika Serikat (AS) melalui para kompradornya yang sibuk saling sikut memburu kekuasaan. Kisruh pemakzulan atas Presiden Park Geun Hye, beberapa waktu lalu, menegaskan hal tersebut.

Disisi lain, saat ini setidaknya ada 54.000 tentara AS yang ditempatkan di Korsel guna membantu pertahanan. Akibat ketergantungan ini, Korsel praktis secara politik, ekonomi bahkan militer disetir oleh AS.

Budaya Korean Pop (K-Pop) yang menyebar seantero dunia juga tak luput dari pengaruh barat. Budaya tradisional Korea pelan tapi pasti tergerus oleh infiltrasi budaya hedonis-materialistik ala Amerika.

Cita-cita kebahagiaan pun jauh panggang dari api. Menurut data WHO, Korsel memiliki angka bunuh diri tertinggi di Dunia. Setidaknya 43 orang bunuh diri setiap hari.

Alhasil, Korea Selatan memiliki semuanya kecuali nyali, kemandirian dan kebahagiaan.

Meski begitu masih jauh lebih baik daripada negeri ini. Tatkala kita memarjinalkan Identitas Keislaman; maka kondisi kita lebih memalukan. Tanpa nyali bahkan tanpa harga diri. Karena itu wajar saja jika untuk merayakan Kemerdekaan, penghiburnya adalah Idol sexy dari Korea Selatan. Memilukan. Bisa dibilang, yang mengundang dan yang menonton adalah orang yang lemah Iman. [fr]

336x280ad