tengku zulkarnain

Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI Pusat: Indonesia Sudah Jadi Budak Cina

Karena alasan utang dan investasi, pemerintah Indonesia tidak mau mencampuri kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Cina kepada Muslim Uighur. Dalam pandangan Islam jelas itu keliru besar, dalam pandangan HAM juga tidak bisa diterima. Lantas kalau dilihat dari konstitusi RI khususnya Pembukaan UUD 1945 bagaimana? Jawabannya ada dalam perbincangan wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Tengku Zulkarnain. Berikut petikannya.

Tanggapan Anda dengan genosida Muslim Uighur?

Sangat prihatin. Apalagi kejadiannya bukan baru sekarang ini. Muslim Uighur disiksa sudah berpuluh-puluh tahun. Kita bingung, Amerika dan negara-negara Eropa sudah mengecam tetapi mengapa Indonesia tidak mengecam sama sekali. Bahkan ada tokoh yang mengatakan itu adalah separatis. Ini kan pernyataan tokoh yang sangat menyesatkan.

Mengapa?

Bukankah dulu Xinjiang itu dicaplok oleh Cina? Xinjiang itu adalah negeri yang dicaplok oleh Cina, sama dengan Tibet. Tibet itu adalah negeri yang dicaplok oleh Cina. Terus nanti ketika Tibet membuat gerakan mau merdeka, disebut separatis? Sedangkan Tibet dijajah oleh Cina, sama dengan Xinjiang.

Xinjiang ini dulu negeri merdeka. Namanya Turkistan Timur. Kemudian dijajah Cina. Jadi ini bukan masalah urusan dalam negeri Cina. Tapi ini urusan Muslim Uighur yang mau merdeka. Jadi tokoh-tokoh yang tidak mengerti sejarah jangan ngomonglah, bikin malu!

Kedua, katanya tidak ada penganiayaan terhadap Xinjiang. Ucapan seperti itu kan terlalu bodoh. Amerika dengan peralatannya yang canggih, sudah tahu, satelitnya sudah masuk ke dalam dan melihat bagaimana yang terjadi di Xinjiang.

Jerman, yang juga punya satelit canggih bisa memata-matai langsung sehingga bisa melihat ke dalam negeri orang. Begitu juga Australia. Mereka mengutuk yang dilakukan Cina kepada Muslim Uighur, kok Indonesia enggak mengutuk.

Iya, ya…

Saya ingin mengingatkan Presiden Jokowi bahwa Indonesia bahwa politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif dan turut serta menciptakan perdamaian dunia. Jadi jangan diam saja. Malu kita kalau diam saja. Apalagi 87 persen rakyat Indonesia itu beragama Islam. Presiden ini sangat mengecewakan kami sebagai orang Islam. Kalau Presiden Jokowi tetap pasif seperti ini berarti dia melanggar Pembukaan UUD 1945. Ya, jangan dipilih lagi 2019.

Mengapa Cina begitu kejamnya kepada Muslim Uighur?

Dari dulu Cina ini kejam. Sejak zaman kerajaan, raja Cina juga sudah kejam terhadap rakyatnya sendiri. Kalau kita baca sejarah Cina, raja-raja Cina itu sangat zalim kepada rakyatnya. Membangun tembok Cina saja berapa juta orang mati? Cina ini dengan rakyatnya sendiri saja menindas apalagi sama orang lain.

Jadi, tidak usah membutakan mata, kita tahu sejarah Cina itu kelam. Dia sama dia saja bunuh-membunuh dengan dahsyatnya, kerajaan Cina yang satu dengan yang lainnya bunuh membunuh itu ratusan tahun.

Apalagi kepada Muslim Uighur…

Bukan hanya kepada Islam. Lihat, gereja-gereja juga kan ditutup dan dihancurkan oleh pemerintah Cina. Jadi memang ini komunis anti agama!

Ini juga harus menjadi cermin bagi Indonesia, tidak boleh terjadi lagi bangkitnya komunis di Indonesia. Komunis ini musuh semua agama. Lihatlah selain Turkistan Timur, Tibet juga dihajar! Tibet itu kan agamanya Budha!

Tidak usah berharap Cina itu akan memberikan toleransi kepada umat beragama. Hanya orang gilalah yang berharap Cina itu memberikan toleransi kepada umat beragama.

Wapres Jusuf Kalla mengungkapkan utang dan investasi yang menjadi alasan pemerintah Indonesia untuk tidak mencampuri kejahatan kemanusiaan Cina kepada Uighur…

Kalau Pak JK mengatakan begitu, maka jelaslah Indonesia sekarang ini sedang terjajah oleh Cina. Jadi budaknya Cina kalau begitu. Sekali lagi, kalau ucapan Pak JK benar begitu, saya katakan Indonesia sudah jadi budak Cina, tidak berdaya mengatakan kebenaran, tidak berani menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945 gara-gara tersandera utang.

Padahal Presiden Soekarno dulu tegas ya terhadap penjajah Amerika dan Inggris…

Ya, dulu Bung Karno katakan, Go to hell with your aid! Persetan dengan bantuanmu! Inggris kita linggis, Amerika kita setrika. Padahal waktu itu Indonesia termasuk negara yang termiskin. Kok sekarang, sudah 73 tahun Indonesia merdeka, malah ketakutan gara-gara utang. Ini kan sangat menghina bangsa sendiri.

Menurut Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, “Penyikapan Cina anti-Islam adalah prematur dan mengenyampingkan fakta sejarah.” Tanggapan Anda?

Ya, itulah dia yang justru tidak memahami sejarah. Xinjiang dulu itu dirampok Cina. Sama dengan Tibet dirampok Cina. Kok dibilang mengingkari fakta sejarah.

Saya tegaskan kepada Yaqut, jangan ngomong! Justru komunis Cina ini tidak pernah kompromi dengan agama.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan “itu menjadi urusan domestik pemerintah Cina”, tanggapan Anda?

Kita tidak campur, tetapi kita kan bisa mengecam agar mereka paling tidak reda. Kita harus memantau mereka, mereka jangan dibiarkan begitu saja melakukan kesewenang-wenangan. Itu kan sudah jelas-jelas kejahatan kemanusiaan. Coba kalau orang Indonesia bunuh orang, itu orang luar negeri ribut!

Amanat UUD 1945 kan kita harus aktif! Aktif tidak boleh pasif. Ucapan mereka ini sama saja menyuruh kita pasif. Terjadi bencana, kita aktif. Terjadi penekanan terhadap suatu agama atau ras, kita juga harus aktif dong.

Bagaimanapun, kejahatan kemanusiaan itu harus dilawan.

Tapi Cina telah menguasai Xinjiang sejak 1949…

Kalau Cina menganggap menguasai Xinjiang sudah lama, ya  dibangunlah Xinjiang itu. Dibinalah Uighur itu sebagaimana membina bangsa Han. Kenyataannya kan beda sikap pemerintah Cina kepada bangsa Han dan bangsa Uighur. Tidak bisa dipungkiri, Cina luar biasa baiknya kepada bangsa Han, tetapi kepada Uighur selalu menindas.

Mengapa PBNU begitu lembek, apakah karena telah menerima sejumlah uang dari Cina?

Tidak tahu saya, tapi yang jelas kalau setingkat Pak JK saja gara-gara utang bertekuk lutut, tidak berani berkutik apalagi cuma ormas-ormas yang sudah dapat bantuan Cina. Tapi saya tidak menuduh PBNU mendapat bantuan dari Cina, hanya saja PBNU dalam hal ini sangat mengecewakan dan tidak ada keberpihakan kepada Muslim Xinjiang.

Kan pernyataan itu seakan menuduh Muslim Xinjiang melakukan separatis. Itu sangat menyakitkan sekali hati Muslim Xinjiang. Saya saja tersinggung kok dengan ucapannya. Sebagai anak orang Cina yang beragama Islam, saya tersinggung dengan ucapan orang yang mengatakan bahwa yang terjadi di Xinjiang itu separatisme.[]

Sumber: Tabloid Media Umat Edisi 234