Tawakal Bukanlah Meninggalkan Sebab

 Tawakal Bukanlah Meninggalkan Sebab

Oleh: Ainun D. N. (Musimah Care)

لَوْ أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى الله حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغدُوْ خِمَاصاً وتَرَوْحُ بِطَان

Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, niscaya Allah memberi kalian rezeki seperti Dia memberi burung rezeki; burung itu berangkat pagi dengan perut kosong dan kembali di sore hari dengan perut kenyang (HR Ahmad, ar-Tirmidzi, an-Nasai, Ibn Majah, Ibn Hibban dan al-Hakim).

Hadis ini dicantumkan oleh Ibn Rajab al-Hanbali di kitabnya, Jami’ al- ‘Ulum wa al-Hikam, hadis ke-49, melengkapi Arba’un an-Nawawiyah menjadi 50 hadits. Imam at-Tirmidzi berkata tentang hadis ini: “hasan shahih.”

Hadis ini merupakan pokok tentang tawakkul (sikap tawakal) dan rezeki. Hadis ini menegaskan bahwa siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan member dia rezeki (Lihat: QS ath-Thalaq [65]: 3).

Sikap tawakal, usaha dan rezeki harus didudukkan dengan tepat. Masalah ini termasuk salah satu masalah akidah yang sudah terkotori oleh debu dalam pemahaman kaum Muslim yang membuat akidah kaum Muslim tidak lagi muntij (produktif).

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘ ‘shqalani menjelaskan di dalam Fath al-Bari bahwa asal dari tawakkul adalah al-wukul. Dikatakan: wakkaltu amri ila fulan, artinya: aku mengembalikan urusanku—dan menyandar-kannya kepada—si fulan. Dikatakan pula: Wakkala fulân, artinya: dia mencukupkan (suatu perkara) kepada si fulan karena percaya dengan kemampuannya.

Kata Ibn Hajar al-‘’shqalani pula, yang dimaksud tawakal adalah keyakinan terhadap apa yang ditunjukkan oleh ayat:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

Tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah Yang memberi rezekinya (QS Hud [11]: 6).

Tawakal bukanlah meninggalkan sebab dan hanya bersandar pada apa yang datang dari makhluk. Yang demikian kadang menjerumus-kan pada lawan dari apa yang diinginkan dari tawakal.

Ibn Rajab al-Hanbali di dalam Jami’ al- ‘Ulum wa al-Hikam menjelaskan, hakikat tawakal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah SWT dalam meraih maslahat dan menolak madarat dari urusan dunia dan akhirat; mewakilkan (menyerahkan) semua urusan kepada Allah SWT; serta perealisasian iman bahwa tidak ada yang memberi, menghalangi, memadaratkan dan memberikan manfaat kecuali Dia.

Realisasi sikap tawakal itu tidak menafikan upaya menempuh berbagai sebab. Allah SWT justru memerintahkan kita menempuh sebab-sebab itu, yakni melakukan ikhtiar dan usaha. Pada saat yang sama Allah SWT juga memerintahkan kita untuk bertawakal kepada Dia. Dengan demikian usaha menempuh berbagai sebab atau menjalankan kaidah sababiyah merupakan bentuk ketaatan badaniah kepada Allah SWT. Adapun tawakal dengan hati kepada Allah SWT merupakan keimanan kepada Dia. Perintah menempuh sebab dan perintah bertawakal adalah perintah pada dua wilayah yang berbeda serta harus ditempatkan dan dijalankan pada wilayahnya masing-masing. Jadi menempuh sebab dan tawakal harus ada pada saat bersamaan dan saling beriringan.[]

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *