IAIN Kendari larang mahasiswa ikut aksi 212

Setelah Nyata Rezim Diktator Kini Menyusul Kampus Menjadi Diktator

Oleh: Nasrudin Joha

Ini adalah musibah terbesar civitas akademika, musibah intelektual, musibah ruang kampus yang terbiasa dengan perbedaan pendapat dan argumentasi. Setelah rezim melalui struktur resmi negara menghalangi Reuni Akbar 212, melalui tangan aparat, ulama pesanan, menteri kecebong, kini kampus pun ikut-ikutan latah melarang mahasiswa mengikuti aksi reuni akbar 212.

Adalah kampus IAIN Kendari, telah menerbitkan ujaran diktatorisme dengan mengumumkan pelarangan bagi mahasiswa ambil bagian sebagai pejuang agama Allah dalam aksi reuni akbar 212. Tidak cukup dengan larangan, bahkan pihak kampus juga mengancam akan memberikan sanksi kepada mahasiswa.

Sebuah pengumuman lucu yang diterbitkan institusi pendidikan. Lembaga Pendidikan telah berubah menjadi institusi algojo untuk memenggal setiap leher-leher mahasiswa untuk mengutarakan kebenaran. Perbedaan tidak lagi dipahami sebagai rahmat. Kampus telah pula ikut menjadi “penafsir tunggal kebenaran”. Kebenaran versi kampus adalah kebenaran mutlak, tidak boleh dikritik, tidak boleh dibantah.

Kampus bertindak layaknya militer, pasal-pasal kejumawaan lazim dipertontonkan. 1. Pasal satu kampus tidak mungkin salah. 2. Pasal dua, jika kampus keliru maka tinjau pasal satu.

Ini adalah peradaban dekil, primitif peninggalan era megantropus erectus. Populasinya sudah punah, tetapi ajarannya ternyata masih dipertahankan kampus. Inilah, kediktatoran kampus. Inilah, pembungkaman daya kritis mahasiswa.

Wahai umat,

Wahai pemuda,

Wahai mahasiswa,

Anda tidak boleh diam, tidak boleh menyerah, tidak boleh menunjukkan ketundukan pada kedzaliman yang Anda saksikan. Anda melihat, semua kegaduhan dan kerusakan ini bermula dari rezim represif anti Islam, di bawah komando Jokowi.

Anda harus menghukum rezim ini dengan mengungkapkan penentangan, serangan politik, pemutusan legitimasi agar rezim khianat ini segera jatuh dan tersungkur.

Anda harus tunjukkan, bahwa Anda bukan mahasiswa gadungan. Bukan pemuda pengecut yang lari dari gelanggang pertarungan, atau terbirit karena ujaran kediktatoran.

Ini adalah saat yang tepat, untuk membuat perhitungan terhadap rezim zalim ini. Anda harus membuat pilihan, memenangkan pertarungan atau rezim mengalami kekalahan.

Wahai rezim diktator,

Wahai rezim represif anti Islam,

Hanya ada dua pilihan bagi Anda. Anda kami kalahkan dalam pertarungan politik ini, atau kami menangkan pertarungan ini. Tidak ada pilihan ketiga.

Anda harus bertanggung jawab secara tanggung renteng, atas deretan kerusakan yang menimpa Umat. Kami telah menginventarisasi seluruh kedzaliman yang Anda produksi, selanjutnya pada saatnya nanti kami akan menuntut balas. [].