miftahul-jannah-dan-khabib-nurmagomedov

Selalu Ada Kebaikan Pada Umat Nabi Muhammad

Oleh : KH Hafidz Abdurrahman, MA

Umat Nabi Muhammad tidak pernah mati. Umat Nabi yang mulia ini hanya sakit. Di tengah sakitnya umat ini pun masih banyak kebaikan yang Allah tunjukkan

Khabib dan Miftahul Jannah adalah miniatur umat Islam hari ini. Mereka hidup dalam sistem Kapitalisme, mereka tidak berada dalam sistem Islam. Baik Khabib maupun Miftahul Jannah bukan ulama’, juga bukan pengemban dakwah. Mereka adalah dua Muslim yang menggeluti profesi sebagai atlit dalam sistem Kapitalistik. Meski demikian, mereka telah menunjukkan ‘izzah dan ‘iffah-nya

Khabib membuka mata kita, bahwa meski dia berada dalam sistem Kufur, sistem Kapitalisme, di tengah berbagai kemaksiatan, di mana kekufuran adalah penguasanya, tetapi pesannya jelas, “JANGAN SEKALI-KALI MENGHINA ISLAM” Itulah pesan yang ingin disampaikan Khabib. Khabib memberi pelajaran kepada kita, akan kehormatan dan kemuliaan Islam, meski di tengah lumpur kemaksiatan. Khabib tidak merendahkan, menghina apalagi menyerang Islam. Khabib juga tidak terima penghinaan yang dilakukan oleh siapapun kepada Islam

Kita belajar dari Khabib bagaimana “ghirah” itu kita jaga, di mana pun kita berada. Meski kita berada dalam sistem Kufur sekalipun, tak lantas kita boleh kehilangan identitas kita sebagai Muslim yang memegang teguh agamanya. Terlebih ikut arus menista, menyerang dan memusuhi agamanya, sekedar untuk “sabuk juara”, sekedar untuk jabatan dan kedudukan yang sebentar lagi kan sirna. Jika “ghirah” itu tiada, maka kata Buya Hamka, hanya kain kafan yang pantas dipakainya

Begitu pun dengan Miftahul Jannah, meski takdirnya hidup dalam kekurangan dalam penglihatan lahir, tetapi Allah anugerahkan kekuatan penglihatan batin. Dengan kekuatan mata hatinya, pandangannya menembus langit, melihat murka Rabb-nya, maka meski dia harus kehilangan “juara” tetapi itu tak membuatnya goyah

Penglihatannya ke langit membuatnya tak hirau dengan pandangan manusia di bumi. Dia hanya melihat “senyum” Rabb-nya. Dia hanya inginkan itu. Ketajaman mata hati yang dia tunjukkan kepada kita, membuat kita malu. Mata kita yang selama ini dianugerahkan kepada kita ternyata tak membuat kita lebih bertakwa ketimbang dia.[]