Ar-Roya Al-Liwa

Satu Dibakar, Sejuta Berkibar

Oleh: Sigit Nur Setiyawan

Kiranya kita semua masih ingat kejadian terkait penistaan Al Quran oleh Ahox. Satu kalimat terucap yang dianggap menodai agama, maka Ummatpun bangkit melawan. Mulai dari Aksi Bela Islam 1,2,3 dan seterusnya. Puncaknya energi ummat terkumpul dalam aksi akbar 212 yang sungguh spektakuler. Dihadiri oleh 7 juta kaum muslimin yang menuntut keadilan, menuntut agar Ahok dipenjara karena menistakan Al Quran.

Ummat Islam punya Izzah. Jikalau Izzahnya ternoda dan diganggu maka ummat akan bangkit melawan. Mungkin itulah sunatullahnya kita sebagai seorang muslimin. Kita tidak lagi berdikir harus keluar ongkos berapa untuk agar sampai ke Monas pada aksi 212. Tidak peduli seberapa jauh harus menempuh perjalanan. Bahkan jikalau bus bus tak sudi mengangkut kami, kami Ummat Islam rela berjalan dari Ciamis hingga Monas. Begitulah energi ummat jika sudah terpanggil.

Dan kini Ummat merasa terpanggil untuk yang kesekian kalinya. Izzah Ummat diusik bukan oleh orang Kafir namun oleh oknum Banser NU yang membakar bendera Ar Rayah. Bendera hitam bertulis kalimat tauhid di dalamnya. Bendera yang biasanya diberikan oleh Rasulullah kepada panglima pasukan jihad. Bendera yang selalu dinantikan oleh setiap sahabat untuk mengangkatnya. Bendera yang di bawahnya bernaung pasukan pembebas kota kota yang dijanjikan.

Namun bendera yang sangat mulia ini kini justru terhina dengan dibakar. Dibakar dengan diiringi joget joget dan nyanyian seakan akan seperti habis mendapatkan kemenangan besar. Maka wajar seketika itu umat meradang.

Dimana mana digelar aksi. Dimana mana dilakukan protes. Dan di dunia maya justru trafik pencarian bendera tauhid meningkat, lapak online kuwalahan melayani pesanan. Bahkan tak jarang kaum muslimin menyablon mandiri agar tetap bisa ikut aksi dengan membawa bendera tauhid. Itulah yang dinamakan energi Umat. Energi yang tak bisa dinilai dengan uang. Energi yang tak mungkin terbendung oleh sebuah pelarangan. Energi yang tak mungkin terbendung hanya oleh ancaman. Dan energi itu sedang menyelimuti kaum Muslimin.

Kemarahan akan kebodohan pembakaran kalimat tauhid menjadikan umat terpanggil untuk melipatgandakan jumlah. Maka pantaslah sebuah ungkapan akan hal itu. ”Satu dibakar, Sejuta Berkibar”[]

Telah terbit MU Edisi 219