Saat Negara Arab Mesra dengan Israel, Pemimpin Muslim di Asia Tenggara Mengutuk Kekerasan Israel terhadap Palestina

 Saat Negara Arab Mesra dengan Israel, Pemimpin Muslim di Asia Tenggara Mengutuk Kekerasan Israel terhadap Palestina

Oleh: Dr. Fika Komara, Direktur Institut Muslimah Negarawan

Ketika situasi di Palestina memburuk setelah agresi Israel, para pemimpin Muslim di Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei telah mengeluarkan pernyataan bersama untuk mengutuk kekerasan tersebut pada Ahad 16 Mei 2021 kemarin. Pernyataan itu berbunyi, “Kami mengutuk dalam istilah terkuat pelanggaran dan agresi terang-terangan yang berulang kali dilakukan oleh Israel, yang menargetkan warga sipil di seluruh Wilayah Pendudukan Palestina, khususnya di Yerusalem Timur dan Jalur Gaza, yang telah membunuh, melukai, dan menyebabkan penderitaan bagi banyak orang, termasuk wanita. dan anak-anak. Kami juga sangat prihatin dengan perluasan pemukiman ilegal; dan penghancuran dan penyitaan bangunan milik Palestina di seluruh Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur…”

Tiga negara mayoritas Muslim Asia Tenggara mengeluarkan pernyataan bersama yang langka demi mengecam serangan udara Israel di Gaza dan apa yang mereka gambarkan sebagai kebijakan “tidak manusiawi, kolonial dan apartheid” Israel terhadap orang-orang Palestina di tanah Palestina yang diduduki. Salah satu poin paling menonjol dalam pernyataan bersama ini terkait dengan solusi dua negara; “… Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk tetap teguh dalam komitmen mereka untuk menjaga “solusi dua negara” untuk mencapai Negara Palestina yang merdeka, berdasarkan perbatasan sebelum tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.”

Masalah Palestina selalu menjadi salah satu isu paling sensitif di kalangan umat Islam, tidak terkecuali negara-negara Muslim di Asia Tenggara. Anis Huszainey, seorang peneliti Timur Tengah dengan Institut Studi Strategis dan Internasional Malaysia, mengatakan joint statement itu adalah tanggapan terkoordinasi pertama tentang perjuangan Palestina di antara tiga negara tersebut. Apalagi ini dikeluarkan ketika Uni Emirat Arab dan Arab Saudi tampak melunak menyusul normalisasi dengan Israel, maka sikap keras Malaysia, Indonesia dan Brunei dapat membuat masalah Palestina tetap menjadi agenda global.

Di tengah pengkhianatan negara-negara Arab pada Muslim Palestina melalui normalisasi hubungan dengan Israel sejak pertengahan 2020 lalu, sikap tiga negara Muslim di Asia Tenggara, wilayah paling jauh di ujung Timur dunia Islam, seolah seperti angin segar. Hal ini wajar karena pengkhianatan penguasa Arab melalui Abraham Accord tahun lalu sudah diprediksi akan membawa dampak signifikan pada status sensitif Masjidilaqsa, bahkan ini diungkap oleh sebuah laporan oleh LSM Israel bernama Terrestrial Jerusalem.

Ikatan emosional umat Muslim di Asia Tenggara pada Palestina tidak diragukan lagi, mereka memanjatkan banyak doa dan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina. Inilah satu alasan kenapa pemerintah Indonesia dengan cepat membantah rumor bahwa Indonesia tertarik untuk juga melakukan normalisasi dengan Israel tahun lalu, karena pakar menilai ini akan beresiko besar pada politik domestik di Indonesia yang tengah bergolak meredam kebangkitan Islam. Ikatan persaudaraan Islam di antara umat inilah yang menjadi faktor terkuat pada pemimpin Muslim di Asia Tenggara mengambil “sikap aman” agar tetap mendapat dukungan legitimasi dari rakyatnya, meskipun mereka sendiri miskin solusi untuk Palestina.

Di sisi lain, muatan dari joint statement tiga negara Asia Tenggara ini juga mengandung substansi yang perlu dikritisi secara mendalam. Huszainey misalnya, ia mengkritik poin mencari jalan keluar melalui Organisasi Negara-negara Islam (OKI) dan Dewan Keamanan PBB – padahal keduanya di masa lalu telah gagal memberikan hasil yang nyata dalam menyelesaikan masalah Palestina.

Terkait dengan solusi dua negara, tiga negara Muslim ini juga tidak boleh melupakan dua hal dalam solusi dua negara yang mereka usung, yakni pertama Israel punya kebiasaan buruk selalu berkhianat terhadap apa pun bentuk perjanjian internasional, kedua eksistensi mereka tetap bertahan karena dukungan negara-negara Barat. Maka “two state – solution” jelas bukanlah solusi yang benar, karena masih ternodai dengan cara berpikir sekuler yang justru memberikan pengakuan eksistensi negara perampas Israel serta memelihara sistem negara bangsa yang sekuler.

Solusi Islam yang benar dalam pandangan Islam adalah mengerahkan tentara Muslim di Yerusalem dan wilayah Palestina lainnya. Pada saat yang sama, perlu diterapkan solusi jangka panjang yakni pembebasan penuh Palestina yang akan mengakhiri proyek Barat untuk membangun dan mendukung negara zionis. Ini membutuhkan pembentukan kembali Khilafah Rasyidah (kekhalifahan yang dipandu dengan benar) berdasarkan metode kenabian untuk mencabut dan memotong dukungan kekuatan Barat pada negara Yahudi.[]

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *