rezim jokowi dholim

Rezim Anti Islam?

Mediaumat.news – Di depan mata, rakyat negeri ini disuguhi  drama kriminalisasi para ulama. Sangat telanjang. Bagaimana tidak, tokoh-tokoh yang dianggap memiliki pengaruh cukup kuat kemudian dicari-cari kesalahannya.  Kenyataan ini terlihat setelah ada Aksi Bela Islam.

Tak hanya itu, para aktivis media sosial pun harus rela dicokok kepolisian dengan tuduhan melanggar UU ITE. Organisasi kemasyarakatan Islam HTI dibubarkan tanpa proses pengadilan.  Pengajian dibubarkan. Belakangan orang gila mencari sasaran tokoh umat Islam.

Anehnya, kasus-kasus yang sangat nyata pelanggarannya terhadap hukum yang dilakukan oleh para pendukung penguasa tak tersentuh. Kasus Victor Laiskodat yang sudah dilaporkan oleh empat fraksi di DPR menguap. Kasus Ade Armando tak ada kabar beritanya. Para penghina ulama bergentayangan dengan bebas.  Penista agama melalui layar televisi seperti Joshua Suherman aman-aman saja.

Bukankah seharusnya hukum tidak pandang bulu? Tak salah bila kemudian masyarakat Muslim menganggap rezim ini anti Islam. “Ya, sebagian memang sudah menganggap bahwa rezim ini represif anti Islam,” kata pengurus MUI Pusat Tengku Zulkarnain dalam perbincangan yang dimuat Media Umat edisi 197.

Sebelumnya, selalu mengidentikkan aksi terorisme dengan Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Barat. Giliran berikutnya rezim Jokowi melabeli gerakan Islam sebagai gerakan radikal. Mereka yang tidak mau berkompromi dengan liberalisme disebut sebagai Islam radikal.

Praktisi hukum Luthfi Hakim menilai, labelisasi gerakan Islam sebagai radikal ini ada dua kemungkinan.Pertama, mungkin penguasa itu tidak suka dengan Islam. Kedua, ada kekuatan asing yang mengontrol negara ini yang tidak suka dengan Islam. “Mereka juga mungkin takut dengan kebangkitan Islam,” jelasnya. []

Sumber: Tabloid Mediaumat Edisi 215