Refleksi Tahun 2019: Kemiskinan tak Terkendali

 Refleksi Tahun 2019: Kemiskinan tak Terkendali

Aula Balai Kota Banda Aceh pagi itu (29/12), dikunjungi lebih dari 300 orang dari kalangan mahasiswa, dosen, praktisi ekonomi dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Aceh. Mereka menghadiri Talkshow Refleksi Akhir Tahun 2019 yang bertajuk “Kemiskinan Tak Terkendali; Realitas dan Solusinya dari sudut pandang Islam”.

Acara yang diselenggarakan oleh Kajian Ekonomi Islam (KEIS) ini, menghadirkan Yusrizal, Ph.D (Pengamat Kebijakan Publik) sebagai pembicara kunci, dan 3 Pemateri Lainnya Bapak Mahdi Muhammad, SE (Praktisi Ekonomi/Mantan Kepala Bank Indonesia Banda Aceh), Dr. Zulfachrizal (Dosen Pertanian & Peneliti PUI PT. Nilam Arc), serta Ust. Ferdiansyah Sofyan (Pengasuh Tetap KEIS).

Pada Kesempatan tersebut, Yusrizal, Ph.D menjelaskan satu pembahasan yang tergolong unik, beliau menyampaikan bahwa Ilmu Ekonomi dan Sistem Ekonomi adalah dua bidang yang berbeda. Beliau melanjutkan, sebagaimana sains yang lain, ilmu ekonomi bersifat universal dan netral tidak terkait dengan akidah tertentu, ia membahas tentang harta kekayaan baik memperbanyak kuantitasnya menjamin pengadaannya. Sementara sistem ekonomi lebih bersifat spesifik, ia terpengaruh dengan pandangan hidup tertentu dan dibangun dari akidah tertentu, karena itu sistem ekonomi adalah aturan hukum yang mengatur aktivitas manusia yang berhubungan dengan distribusi, pertukaran dan konsumsi barang dan jasa. Karena itu kesalahan fatal ekonom kapitalis adalah mencampur adukkan antara ilmu dan sistem ekonomi, sehingga kesalahan tersebut berdampak kepada tidak tercukupinya kebutuhan masyarakat baik baik barang ataupun jasa (scarcity problem).

Sementara Bapak Mahdi Muhammad, sebagai seorang yang sudah malang melintang di dunia perbankan menyoroti bagaimana Riba menyebabkan kemiskinan sistemik, menurutnya Riba yang sudah dipraktekkan secara sistemik telah menggerogoti kekayaan masyarakat, menyebabkan kenaikan harga barang, yang berakibat menurunnya daya beli, dan yang berakibat menambah kemiskinan. Dalam presentasinya beliau menunjukkan bagaimana harga barang dan jasa itu harus ditanggung oleh konsumen senilai 25% lalu ditambah pajak 25% sehingga total harga barang naik mencapai 50% persen di atas harga pokok rill (HPP) hal ini menyebabkan daya beli masyarakat melemah.  Di akhir presentasi beliau dengan retoris bertanya kepada audiens, mungkinkah Negara bisa hidup tanpa pajak dan bunga? Jawabnya sangat bisa. Beliau dengan simpel menjawab (karena memang solusi Islam itu sederhana tidak rumit-red) coba pajak dan bunga barang dan jasa yang disebutkan di atas (50%) itu dihilangkan maka harga barang turun 50 %, atau dengan kata lain, daya beli masyarakat akan meningkat sekitar 2 kali lipat. Itu baru satu cara, belum lagi jika kita mengganti sistem keuangan kita dengan dinar dirham, uang zero inflasi, sedekah dan tradisi wakaf kaum muslimin kembali bergeliat maka dapat dipastikan kemiskinan akan bertukar menjadi kekayaan sistemik.

Bapak Dr. Zulfachrizal, sebagai pemateri kedua dan juga seorang dosen di bidang pertanian menyoroti bagaimana pertanian menjadi salah satu kekuatan utama dalam sistem ekonomi Islam. Dan itu yang ditiru oleh Negara adidaya Amerika saat ini, beliau menyebutkan bahwa dalam sejarahnya (AS) memulai roda perekonomiannya dengan mengembangkan pertanian serat tanaman yang diolah menjadi tali tambang yang saat itu sangat dibutuhkan untuk mendukung aktivitas pelayaran perdagangan. Roda ekonomi negara AS yang ditopang oleh pertanian dikembangkan sampai sekitar 100 tahun sampai mereka beralih ke industri namun tetap menjaga eksistensi pertaniannya sampai saat ini. Lihat juga Thailand, di kala krisis ekonomi tahun 1997 terjadi, negara Asia Tenggara yang paling cepat pulih adalah Thailand. Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa itu bisa terjadi karena Thailand memiliki fundamental pertanian yang paling kuat dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Terakhir, sebagai Pengasuh Tetap KEIS, Ust Ferdi di awal pemaparannya mengutip pernyataan seorang sejarawan barat Will Durant, Dalam buku yang ditulisnya berjudul The Complete Story of Civilization, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”, Tidak hanya Durant, Seorang Sejarawan Islam di Barat Montgomery Watt juga mengungkapkan “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan Islam yang menjadi penggeraknya “dinamo”, Barat bukanlah apa-apa”.

Hal ini tidak lain, “karena Ekonomi Islam bergerak pada sektor riil, bukan seperti ekonomi kapitalis yang ditopang oleh pasar uang dan pasar saham”. Jelas Ust Ferdi. “Ekonomi Islam menepatkan fungsi uang sebagai nilai pertukaran (standard of exchange value) dan media pertukaran (medium of exchange) bukan komoditi yang diperdagangkan”, Sambungnya. Beliau juga menjelaskan bahwa system ekonomi Islam berdiri diatas 3 kaidah utama yaitu Milkiyah Ammah (kepemilikan umum),  Tashruf fil Milkiyah (Pengelolaan Kepemilikan) dan Tauzi’u Tsarwatu baina an-nash (Distribusi Kekayaan di tengah-tengah manusia), yang apabila 3 prinsip ini dijalankan oleh Negara, maka persoalan kemiskinan hanya tinggal mimpi. Di akhir kata beliau menawarkan membaca beberapa kitab penting yang ditulis oleh ulama-ulama klasik seperti kitab al-amwal karya Abu Ubaid, al-amwal fi dawlah khilafah karya Abdul Qadim Zallum dan nizomul iqtishodi fil islam karya Taqiyuddin an-Nabhani, karena kitab-kitab tersebut secara detail menjelaskan tentang sistem keuangan Negara yang kita kenal sebagai APBN saat ini.

Talkshow ini juga mendapat apresiasi luar biasa dari berbagai kalangan mulai tingkat mahasiswa, guru, dosen, dekanat, rektorat kampus dan guru besar. Diantaranya Muhammad Ghufran, SE (Lulusan Terbaik FEBI UIN Ar-Raniry), Arinah Rahmati, M,Ag (Dosen Ekonomi STIS Pidie Jaya), Andri Nirwana, PhD (Dekan Fakultas Agama Islam USM), Dr. Hafas Fuqani, M.Ec (WaDek I FEBI UIN Ar-Raniry), Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA (Guru Besar UIN Ar-RAniry), Prof. Dr. H. Bustami Syam (WaRek Bid. Perencanaan USU), Dr. Murniati Mukhlishin (Rektor Institut Tazkia), Dr. Qurrah Ayuniyyah, M.Ec (Lulusan Terbaik 2019 Fak. Ekonomi IIUM)[]

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *