Refleksi Peringatan Maulid Nabi SAW: Jangan Ngaku Cinta Rasulullah Jika Tidak Mengikuti Ajarannya

Mediaumat.news – Sekitar 500-an jama’ah memadati lapangan sepakbola Kampung Hambulu Desa Pondok Udik Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor pada peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad saw, Sabtu malam (6/1/2018). Acara yang diselenggarakan oleh Majlis Ta’lim Darul Fikri (MDF) Al-Islamy ini dihadiri oleh para alim ulama, habaib, asatidz, dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Bogor dan Depok. Tampak hadir juga Bapak Entis Sutisna selaku Kepala Desa Pondok Udik beserta jajarannya.

Acara yang dimulai pukul 8 malam ini disemarakkan oleh shalawatan dari tim hadhroh Formasi. Setelah dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Pimpinan MDF Al-Islamy, Ustadz H Haris Iskandar.

Dalam sambutannya, sosok yang dikenal pemberani ini menyampaikan bahwa acara ini terselenggara atas karunia dari Allah SWT, dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat sekitar majelis yang begitu cinta kepada Rasulullah saw. Hal itu nampak pada antusiasme warga dalam menyukseskan kegiatan ini. Warga pun sudah akrab dan bangga dengan Panji Rasulullah, Ar-Roya dan Al-Liwa, yang terpasang rapi di sepanjang jalan dan di sekitar lokasi acara, paparnya.

Maulid Akbar yang dipandu oleh Ketua MUI Desa Jabon, Ustadz Pupu Syarifudin dan Pimpinan Majlis Al-Qobuliyah Ciseeng, Ustadz Budi Santoso ini menghadirkan  penceramah dari tiga daerah, yakni Ustadz Dede Wahyudin (Pimpinan Majelis Nurul Qolbi) dari Depok, lalu Habib Khalilullah Al-Habsy (Pimpinan Majelis Rathibul Haddad) dari Jakarta Timur dan KH. Tb. Mulyadi Mawahib (Pewaris Sholawat Mu’abbad) dari Megamendung Bogor, tambahnya.

Acara maulid semakin semarak dengan kehadiran Ketua MUI Desa Pondok Udik, Ustadz Syamsudin, yang saat memberikan sambutan menyatakan dukungannya agar masyarakat meramaikan acara-acara majlis ta’lim, karena dengan itulah umat bisa tercerahkan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Dede Wahyudin selaku penceramah pertama menyampaikan bahwa umat Islam dari kalangan rakyat jelata sampai pejabat, memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Namun benarkah itu sebagai wujud cinta kepada Rasulullah saw? Kaum kafir Quraisy dulu begitu mencintai dan takjub dengan Rasulullah. Namun itu berubah menjadi kebencian, karena Rasulullah membawa risalah Islam.

Dengan gaya khasnya yang menarik perhatian audiens, Pimpinan Majelis Nurul Qolbi Depok ini pun menjelaskan bahwa Khilafah adalah ajaran Rasulullah saw. Maka, ketika ada pejabat yang memperingati Maulid Nabi namun ia memusuhi dan membubarkan ormas yang mendakwahkan ajaran Rasulullah saw sesungguhnya ia tidak mencintai Rasulullah. Karena makna cinta kepada Rasulullah saw sebenarnya adalah kekuatan untuk taat mengikuti ajaran Rasulullah, tegasnya.

Sementara itu, Habib Khalilullah Al-Habsy memaparkan ciri umat Rasulullah itu adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka (mukmin).

Habib pun menambahkan bahwa umat Islam saat ini lemah, seperti ikan yang tersaji di piring yang dengan mudah dicabik-cabik.

Dengan gamblang pimpinan Majelis Rathibul Haddad Jakarta ini menyampaikan hadist tentang kondisi umat Islam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad. “Berbagai bangsa akan mengerubuti kalian sebagaimana orang-orang rakus mengerubuti makanan.” Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?” Rasul Saw menjawab, “Kalian pada saat itu bahkan berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya, “Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata, ”Cinta dunia dan takut mati.”

Habib pun menjelaskan lebih lanjut, bahwa kemunduran dan kerusakan yang melanda umat Islam saat ini dikarenakan diterapkannya sistem demokrasi. “Umat harus sadar akan bahaya dan rusaknya demokrasi. Dalam demokrasi siapa saja bebas untuk murtad, kebebasan dalam berbuat yang melahirkan pergaulan bebas, kebebasan memiliki dan kebebasan berbicara. Khilafah adalah ajaran Rasulullah saw, namun dalam sistem demokrasi itu dikriminalisasi”, pungkasnya.

Ulama yang dikenal tegas ini pun menandaskan, “jangan ngaku-ngaku umat Rasulullah, jika menginjak-injak Al-Qur’an”. Tidak mau menerapkan syariah dan Khilafah adalah wujud nyata menginjak-injak Al-Qur’an.

Pada sesi terakhir, KH. Tubagus Mulyadi Mawahib memberikan taushiyah tentang keutamaan bersholawat, sekaligus menyatakan persetujuannya terhadap apa-apa yang telah disampaikan oleh Ustadz Dede dan Habib Kholilullah. Kiyai yang mewarisi Sholawat Mu’abbad ini memberikan penegasan bahwa Khilafah itu untuk keselamatan umat Islam, jadi harus didukung dan diperjuangkan. Ulama kharismatik ini pun mengajak hadirin untuk senantiasa menjaga amalan sholawat kepada Nabi saw.

Acara yang tetap diikuti oleh hadirin sampai sekira pukul 01.30 dinihari ini ditutup dengan pembacaan do’a dan makan bersama. []