Libyan soldiers with an anti-aircraft machine gun mounted on a vehicle deploy in a Tripoli's neighborhood after militias were ordered to leave the capital following weekend clashes on November 18, 2013. The unrest was the deadliest in the capital since the uprising and erupted when the former rebels from Misrata opened fire on protesters, triggering the clashes that killed at least 43 people and wounded 450. AFP PHOTO/MAHMUD TURKIA
Libyan soldiers with an anti-aircraft machine gun mounted on a vehicle deploy in a Tripoli's neighborhood after militias were ordered to leave the capital following weekend clashes on November 18, 2013. The unrest was the deadliest in the capital since the uprising and erupted when the former rebels from Misrata opened fire on protesters, triggering the clashes that killed at least 43 people and wounded 450. AFP PHOTO/MAHMUD TURKIA

Pertarungan Para Bidak di Libya… Keamanan dan Kendali Kekuasaan Tidak Tangan Rakyat, Tetapi Ditentukan Barat!

Oleh: Umar Syarifudin (pengamat politik internasional)

dalam jerat perang saudara yang dikendalikan AS dan Eropa, Libya dianggap sebagai negara gagal (failed state). Uni Eropa mendesak PBB agar hanya mengakui pemerintah sah Al-Sarraj di Tripoli. Sedangkan Amerika Serikat (AS) menunggangi faksi lain membentuk pemerintah tandingan di Benghazi.

Khalifa Haftar, seorang broker kekuatan utama AS di negara Libya, sementara akibat persaingan perebutan kue penjajahan antara AS dan eropa hari ini, Libya telah terpecah menjadi faksi-faksi yang saling bersaing di timur dan barat sejak kemunculan Haftar mendapatkan mandat dari AS untuk menggulingkan kekuasaan Al-Sarraj yang pro Eropa di Libya pada 2014. Sejumlah konferensi telah ditempuh untuk menegosiasikan kue kekuasaan antar faksi-faksi yang terhubung dengan komando kekuatan global AS dan Uni Eropa, tetapi sedikit yang telah dicapai, lalu kembali menghadapi jalan buntu. Fakta hari ini telah bercerita bahwa kondisi Libya mirip dengan Suriah di mana keamanan dan kendali kekuasaan tidak tangan rakyat, tetapi ditentukan Barat.

Secara politis, AS ingin kontrol penuh atas wilayah yang luas Libya, dan itu tidak mudah. Inipun jika si agen – Haftar berhasil memperluas kendali militernya atas wilayah-wilayah luas ini di berbagai titik Libya, di mana kekuatan Al-Sarraj juga masih stabil. Upaya agresif Haftar membawa keuntungan agar bisa mencapai kemajuan di meja negosiasi.

Propaganda dan aksi-aksi melawan pengaruh Eropa di wilayah Sahara, yang dilakukan Haftar di Libya tidak terbatas untuk mencapai tujuan-tujuan lokal saja. Amerika sedang merencanakan, dan secara langsung mengimplementasikan, tujuan regional untuk mengacaukan pengaruh Prancis di wilayah Sahara. Kekosongan di berbagai titik Libya, khususnya di Libya Selatan telah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi aktivitas bersenjata kelompok-kelompok oposisi Afrika di Libya selatan. Kelompok oposisi Chad, Nigeria dan Sudan telah tumbuh dan bahkan menjadi elemen dari persamaan kekuatan internal di Libya, yang merupakan kekuatan yang besar dan tidak diremehkan.

Secara ekonomis, AS ingin control penuh atas Area Bulan Sabit Minyak dan mentransfer pendapatannya ke cabang National Oil Corporation di Benghazi dan mengekspornya, bukannya Tripoli, sehingga mencabut pemerintahan Sarraj dari komando ladang minyak tadi, ini jelas merupakan pukulan serius bagi al-Sarraj dan Uni Eropa. Adapun jika pertempuran kemudian pindah ke pelabuhan minyak untuk mencegah Haftar mengekspornya, ini adalah sebuah resiko dari pengambilalihan paksa ini. Mengingat Milisi Al-Jidran mengendalikan pelabuhan Sidra dan Ras Lanuf, dan secara tersirat pemerintah Al-Sarraj di Tripoli menganggap Al-Jiidran otoritas yang sah untuk penjaga instalasi minyak.

Ladang minyak besar ini, yang bisa menghasilkan 400.000 barel per hari dan dimiliki oleh perusahaan Spanyol, merupakan subjek konflik besar antara agen Amerika Haftar dan agen Eropa di Tripoli. dengan perkembangan ini, yaitu kontrol Haftar atas blok primer minyak di Libya, memungkinkan milisi ini dengan mudah mengontrol ladang di belakangnya, ke selatan jauh, terutama blok El-Feel, dengan ini pemerintah al-Sarraj akan kehilangan arteri ekonominya dan mengandalkan payung internasional Eropa untuk mencegah Haftar dari mengekspor minyak dan memaksanya untuk mengekspornya melalui lembaga-lembaga minyak Tripoli.

Haftar dengan dukungan militer besar yang diberikan kepadanya oleh Amerika, terutama melalui Mesir, dan mendapatkan dukungan dari UEA telah berhasil mencapai kemajuan-kemajuan perebutan kekuasaan Al-Sarraj di Libya, Amerika terus mendampinginya dan mengarahkannya untuk meningkatkan kontrol militer dan ekonomi seluruh Libya dan secara regional menyiapkan seluruh elemen pemberontakan untuk memotong kaki-kaki Eropa yang ditanam di Afrika. Tentu saja UE tidak diam, UE mengkonsentasikan seluruh dukungan perlawanan, skenario, moral dan tekanan internasional untuk melunakkan aksi-aksi agen Amerika. Oleh karena itu, kondisi Libya berada dalam jalan buntu. Sementara Amerika ngotot mendorong Haftar untuk mencapai tujuannya yang lain, yang meningkatkan beban negara-negara Eropa dalam masalah imigrasi, dan menyerang dari sudut lain pengaruh Prancis di negara-negara tetangga, dimulai dengan Chad.

Walhasil, postur geopolitik Libya patut menjadi renungan bagi umat dan dunia. Kita harus sadar, inilah kondisi kita di dunia muslim, khususnya di Libya tidak henti-hentinya ditumpahkan darah, penganiayaan dan air mata. Di negeri lainnya darah Muslim ditumpahkan di sungai dan mengairi tanah gersang. Tangan kotor kaum penindas dan kolaborator menodai kesucian wanita Muslim. Pelecehan Islam dan kaum muslim berulangkali, perampasan kekayaan kita dan meningkatnya penganiayaan oleh imperialis Kuffar juga terus berlanjut dari tahun ke tahun.

Tanah Isra’ dan Mi’raj yang diberkati yang merupakan kiblat pertama umat Islam masih diduduki oleh entitas Zionis di tahun ini. Entitas Zionis membawa penindasan ke setiap inci Palestina. AS yang arogan memindahkan kedutaannya ke Yerusalem dengan mengambil keberanian dari para penguasa pengecut tanah kita.

Sementara kaum Muslim di Suriah hidup di mana suara bom bercampur dengan jeritan, sementara rakyat Suriah harus menelan fakta pahit bahwa penguasa negeri muslim mengkhianati revolusi umat untuk menumbangkan penguasa kriminal – diktator. Para penguasa itu mengulurkan tangan mereka ke rezim Assad. Revolusi tidak dikerjakan, kecuali oleh segelintir kaum Muslim dan orang-orang Suriah yang ikhlas dan berani.

Inilah kondisi umat sampai hari ini, menjadi tahun kemiskinan, kelaparan dan kematian bagi Libya, bagi Myanmar… Satu tahun keputusasaan bagi Turkistan Timur, satu tahun kekacauan, untuk semua negeri muslim seperti Sudan, Yaman dan seterusnya. Inilah kondisi umat yang berantakan. Karenanya umat ini membutuhkan tampilnya satu penguasa adli dan mukhlis yang akan menyatukan perbatasan, tentara, dan kekayaannya, tahun di mana negara Rasulullah kembali memasuki panggung dunia.[]