isra miraj khilafahajaranislam

Peringati Isra’ Mi’raj, 4000 Ulama dan Aktivis Islam di Jakarta Serukan Khilafah

Mediaumat.news – Sekitar 4000 kiai, ustadz, santri dan aktivis Islam memenuhi lantai satu dan dua dan pelataran  masjid. Sekat setinggi dua meter memisahkan antara jamaah lelaki dan wanita. Perhatian mereka tertuju kepada para ulama berjejer duduk di depan menghadap jamaah yang satu per satu tampil berorasi.

“Hari ini di 35 titik di Nusantara mengadakan acara yang sama untuk peringatan Isra’ Mi’raj, hari ini adalah hari bersejarah bagi kaum Muslim. Kita hadir di tempat ini, untuk menyemangati umat agar berupaya melakukan “isti’nafil hayatil islamiyyah (melanjutkan kembali kehidupan Islam),” ujar Perwakilan Majlis Dzikir Ratibul Hadad KH Ahmad Junaidi Ath Thayyibiy, penyelenggara Tabligh Akbar Peringatan Isra’ Mi’raj di Jakarta dalam sambutannya, Sabtu (14/4/2018) di Masjid Al Munawar, Jakarta Selatan.

Tampillah Ustadz Farid Wadjdi aktivis Islam dan juga Pemimpin Redaksi Tabloid Media Umat. Dalam orasinya ia menyatakan setidaknya tiga hal yang harus menjadi renungan kaum Muslimin ketika memperingati Isra’ Mi’raj.

Pertama, sesungguhnya peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab ini adalah ujian keimanan bagi kaum Muslimin. Mereka yang imannya lemah semakin lemah, orang kafir yang sedari awal benci membangun propaganda dengan menuduh Rasulullah SAW berdusta. Tapi bagi Abu Bakar ra dengan keimanan yang kuat, dengan tegas menyatakan Isra Miraj yang dilakukan Rasulullah SAW pasti benar. Abu Bakar menyampaikan dua argumen. “Apa sulitnya bagi Allah yang Maha Besar menjalankan manusia dalam satu malam? Yang menyampaikan kabar ini adalah Rasulullah SAW, mustahil kalau Rasulullah SAW berdusta.”

“Sikap kita sekarang harus memiliki keimanan yang sama dengan Abu Bakar, apa yang disampaikan Rasulullah, wajib kita yakini, wajib kita amalkan!” tegasnya.

Kedua, perjalanan Rasulullah dari Masjid Al Haram ke Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha), menunjukkkan tentang pentingnya Masjid Al-Aqsha dan Palestina. Maka kaum Muslimin pun merupaya membebaskan Palestina.

“Alhamdulillah, futuhat Palestina bisa dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Ketika Palestina jatuh ke pasukan salib, kaum Muslimin pun berlomba membebaskan Palestina, Alhamdulillah Panglima Shalahuddin Al Ayubi berhasil membebaskan Palestina dan itu pun terjadi di bulan Rajab,” bebernya.

Ketiga, pada bulan Rajab juga, Inggris bekerja sama dengan pengkhianat Kamal Attaturk menumbangkan Khilafah Utsmani pada 28 Rajab 1342 H/ 3 Maret 1924 M.

Sedangkan Pengasuh Ma’had Syaraful Haramain KH Hafidz Abdurrahman menegaskan  umat Islam memang membutuhkan kekuasaan dan negara. “Tetapi bukan sembarang kekuasaan, bukan sembarang negara. Tetapi kekuasaan dan negara yang memenangkan Islam!” tegasnya.

Itulah yang tampak di dalam doa, “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (shulthanan nashiraa),” tegasnya mengutip Al-Qur’an Surat Al-Israa Ayat 80.

Makanya, Rasulullah SAW menolak kekuasaan, harta dan wanita yang ditawarkan kafir Quraisy, karena kekuasaan yang mereka tawarkan bukan untuk memenangkan Islam. Rasulullah SAW terus berdakwah dan melakukan thalabun nushrah, meminta dukungan politik dari para ahlul quwwah. Ketika semua upaya yang dilakukan terasa buntu, maka Allah pun mengiburnya dengan Isra’ Mi’raj. Setelah Isra’ Mi’raj, Allah pun memberikan pertolongan (nushrah) dengan tegaknya kekuasaan dan negara yang memenangkan Islam di Madinah. Sepeninggalnya Rasulullah SAW, kepemimpinan Islam pun diteruskan oleh para khalifah.

Maka setelah Rasulullah SAW wafat, ini yang diwasiatkan Nabi SAW, “Wajib atasmu berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang terpetunjuk sesudahku. Maka peganglah kuat-kuat dengan gerahammu,” bebernya mengutip hadits riwayat Imam Bukhari.

“Apa sunnah Nabi? Apa sunnah khulafaurrasyidin? Khilafah!” tegasnya.

Orator lainnya, Pengasuh Ponpes Al Husna, Cikampek Kiai Ahmad Zainuddin Qh mangatakan menegakkan khilafah itu hukumnya wajib dan menegakkan demokrasi itu haram.  “Jika kita lihat ulama-ulama bayaran yang menjadi saksi ahli pemerintah di PTUN kemarin yang menyatakan bahwa khilafah itu haram dan demokrasi itu wajib. Kan itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal dan berdosa karena apa yang dilakukan itu adalah sebuah kebohongan!” tegasnya.

Di tempat yang sama, Pengasuh Majelis Taklim An Nur Pamijahan KH Muhyidin mengingatkan kepada umat bahwa khilafah ini adalah bisarah dari Rasulullah. “Dan mestinya kita sebagai seorang Muslim mendengar tentang kabar baik ini harusnya merasa bergembira karena ini adalah janji dari Allah SWT dan Rasulullah SAW,” bebernya.

Diapresiasi

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00-11.30 tersebut diapresiasi orator dan peserta acara. Secara kompak berulang kali orator para peserta dengan antusias meneriakkan khilafah. “Khilafah, khilafah, khilafah,” pekik peserta begitu orator memancing kata yang satu ini.

“Acara ini sangat berkesan sekali karena acara ini mengajak umat Islam mencintai menjunjung agama Islam. Dan acara ini juga dikemas dengan luar biasa,” ujar Ketua DMI Kabupaten Bekasi KH Mahmuddin Al Hafidz.

Pernyataan senada diungkapkan pula oleh Wakil Ketua Umum Presidium Alumni 212 KH Asep Syaripudin. “Acara ini sangatlah bagus, bagaiamanapun juga umat harus diingitkan mengenai perjuangan khilafah itu pernah ada, dan pernah juga dibungkam tapi pasti akan bangkit lagi,” ungkapnya.

Ketua MUI Depok KH Ahmad Nawawi juga menegaskan para pejuang khilafah bukanlah pejuang yang didasari oleh kebencian. Justru mereka memperjuangkan ajaran Islam tersebut adalah bentuk kepedulian kepada seluruh manusia.

“Para pejuang khilafah ini juga bukan pejuang yang dilandasi oleh kebencian, walaupun saya bukan dari HTI, namun saya memandang bahwa mereka tidak ada kebencian, harus disambut mereka itu, jangan dibalas air tuba,” pungkasnya.[] Ghifar-Fatih/Joy