teroris brenton tarrant

Negara-negara Barat Membantai Demokrasi dan Kebebasan di Tiang Salib

Pada hari Jumat, 15/3/2019, umat Islam sangat dikejutkan oleh sebuah tragedi besar menyusul pembantaian salibis yang dilakukan oleh seorang kafir salibis terhadap puluhan kaum Muslim di dua masjid di Selandia Baru, sehingga ini semakin menegaskan kebohongan dan kedustaan mereka yang mengklaim bahwa mereka menghormati kebebasan beragama, berpendapat, atau kebohongan dan kedustaan sejenisnya, yang selalu dibisikkan kaum kafir Barat ke telinga umat manusia.

Sungguh, predator salibis ini tidak akan berani menumpahkan darah kaum Muslim yang suci di rumah Allah, kecuali karena mobilisasi salibis di mana pemerintah Selandia Baru turut meyebarkan, mendukung dan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada media untuk mempromosikan budaya salibis yang penuh kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim. Bahkan ia merupakan budaya bangsa yang mencerminkan kebencian para pemimpin Barat dan organisasi-organisasinya terhadap kaum Muslim di seluruh dunia. Sehingga tidak mengherankan jika kebencian yang membudaya ini ada di negeri-negeri salibis Barat, sebab manusia atau masyarakat itu—seperti yang dikatakan oleh Amīrul Mukminīn Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu’anhu—mencerminkan agama (keyakinan) para pemimpinnya. Ya benar, bahwa manusia atau masyarakat itu mencerminkan agama (keyakinan) para pemimpinnya. Bagaimana tidak, semua bangsa Barat telah mendengar dan masih mendengar para pemimpin mereka menyerukan perang salib terhadap seluruh kawasan Timur Tengah.

Pernyataan Bush pada tahun 2001 adalah contoh situasi taktis mobilisasi masyarakat Barat untuk mempromosikan perang agamis salibis. Allah SWT berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (TQS Al-Baqarah [2] : 120).

Predator kafir bernama “Brenton Tarrant” tersebut dalam melakukan kejahatan salibisnya ini sambil menyanyikan nyanyian perang salib (sejarah Serbia) yang didengarnya melalui headset, di mana nyanyian tersebut mengingatkan sejarah peperangan antara tentara Khilafah Utsmani dengan tentara Eropa dalam pertempuran Wina, tahun 1683, yang menandai awal berakhirnya dominasi Khilafah Utsmani atas Eropa.

Mengingat banyaknya nyanyian dan lagu sejarah perang salib yang dipublikasikan oleh media Barat di internet dan situs-situs lainnya kepada rakyat mereka, maka semua itu tidak lain adalah bukti nyata kebencian rezim-rezim salibis Barat terhadap Islam dan kaum Muslim, juga sebagai bukti konklusif bahwa negara-negara Barat semuanya adalah salibis tanpa kecuali, meski mereka berusaha menutupi kebencian salibisnya dengan slogan-slogan seperti kebebasan berpendapat dan beragama. Allah SWT berfirman: “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (TQS Al-Baqarah [2] : 217).

Jika pembantaian itu terjadi karena warga salibis di negara-negara Barat mendengar nyanyian dan lagu-lagu historis yang memprovokasi untuk membunuh kaum Muslim, maka apa yang akan Anda lihat saat  para pemimpin Barat mengeluarkan perintah untuk membunuh jutaan kaum Muslim, dan mereka melancarkan pembunuhannya dengan senjata pemusnah masal?!

Sungguh, Barat dengan klaimnya atas kebebasan dan hak asasi manusia itu, tidak ubahnya seperti Musailamah Sang Pembohong dengan klaim kenabiannya, yang dengan menyentuh kepala seorang anak, maka anak itu menjadi botak; menyentuh langit-langit mulut seorang anak, maka anak itu menjadi cedal; meludah ke sumur, maka sumur itu airnya menjadi kering; dan menyiramkan air bekas wudhu’nya ke pohon kurma, maka membuat pohon kurma itu mengering.

Slogan-slogan (kebebasan berpendapat dan beragama) seperti itu, yang terus dinyanyikan oleh kaum kafir Barat, maka itu semua hanyalah alat pembius rakyat, dan tirai yang digunakan Barat untuk menutupi kebenciannya terhadap kaum Muslim selama beberapa dekade. Barat telah berbohong dan masih berbohong terkait salibisnya, bahkan mereka menolak kecuali tetap menjadi salibis.

Dunia Barat tengah membantai demokrasi dan kebebasan di atas tiang salib, dan beralih menuju ekstremisme kanan agar ia menjadi pandangan keagamaan di masa depan, dan satu-satunya pandangan bagi bangsa Barat, sehingga mereka berpikir bahwa mereka dapat menghadapi Islam sebagai ideologi, pemikiran dan sistem rabbāniyah (bersumber dari Tuhan).

Dalam menghadapi perang salibis ini yang diperlukan hanya Khilafah ‘ala minhājin nubuwah yang akan membuat kaum kafir salibis melupakan bisikan-bisikan setan.

Barat tahu betul apa yang telah dilakukan tentara Khilafah sepanjang sejarah terhadap pasukan mereka yang pengecut, yang melarikan diri dari hadapannya karena merasa ciut dan tidak berdaya untuk melawannya.

Ingatlah, wahai kaum kafir salibis Barat, bahwa Khilafah Rasyidah akan kembali, sehingga yang mulia semakin mulia, dan yang hina semakin terhina. Mereka akan melihat pasukan Khilafah menginjak-injak benteng-benteng mereka, seperti halnya dulu saat benteng-benteng mereka diinjak-injak oleh nenek moyang kaum Muslim dari generasi para sahabat—semoga Allah meridhai mereka—seperti Abu Ubaidah Amir bin Jarrah, Khalid bin Walid Pedang Allah yang terhunus dan yang lainnya, di antara para pemimpin terbaik sesudah mereka.

Ya benar, bahwa negara kaum Muslim, Khilafah Rasyidah, akan kembali, dan akan duduk di atas takhta bumi, serta menyebarkan risalah Islam dengan penaklukan-penaklukan Islam, baik mereka suka atau tidak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari hujung timur hingga hujung barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku.” (HR. Ahmad). [Abdul Aziz Muhammad]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 16/3/2019.