dayeuh kolot liqa ulama

Multaqo Ulama dan Tokoh Umat Dayeuhkolot Bandung: Serukan Umat Agar Bersatu Dalam Naungan Rayah dan Liwa’ Sebagai Kemuliaan Islam !

Refleksi tahun 2018 sebagai tahun dimana umat Islam kembali bersatu dalam naungan bendera tauhid, bendera rayyah dan liwa’.

Dimana sebelumnya marak upaya kriminalisai oleh rezim anti Islam kepada Umat Islam dan Ajarannya, mulai dari penangkapan para ulama, habaib dan aktivis dakwah, yang puncaknya yaitu pembakaran bendera tauhid oleh oknum ormas tertentu. Sehingga dengan hal ini menggerakkan jutaan umat Islam untuk berkumpul membela dan meninggikan kalimat tauhid pada aksi reuni 212 di Jakarta, itu semua terjadi di tahun 2018.

Inilah yang menjadi pembahasan awal dalam acara Multaqo Ulama dan Tokoh Umat yang bertajuk, “Saatnya umat bersatu dalam naungan rayyah liwa’ benderanya Umat Islam” di Masjid Ar Rahman Dayeuhkolot Kab. Bandung. Bandung(21/1/2019)

“al liwa’ adalah bendera atau panji sebagai simbol kepemimpinan dalam Islam, yang mana Kholifah adalah pemimpinnya. Namun saat ini fungsi Liwa’ sebagai simbol kepemimpinan dalam Islam tidak tampak karena tidak adanya Kholifah di tengah-tengah kaum muslimin”, papar Ust. Deni Muhyiddin dalam majelis yang dihadiri oleh Ulama, Asatidz dan Tokoh Ummat Dayeuhkolot tersebut.

Acara ini juga dihadiri Ustad Dede Yusuf, Ulama dan Tokoh Dayeuhkolot serta tuan rumah sebagai pembina Masjid Ar Rahman.

Beliau menyampaikan bahwa bendera Tauhid ini (rayyah liwa’) adalah bendera umat islam bukan bendera milik kelompok tertentu, maka ummat Islam wajib membela, meninggikan serta memperjuangkan bendera tersebut agar kembali fungsi nya di tengah-tengah umat.

Hadir juga para tokoh umat wilayah Dayeuhkolot dan sekitarnya, diantaranya Ust. Syukron Abdul Halim (Pengurus Ta’mir Masjid Al Muhajirin Baelendah) yang memberikan pesan bahwa ini semua adalah tugas kita semua kaum muslim wabilkhusus para ulama sebagai warasatun anbiyya.[]

Sumber: shautululama.net