Multaqa ulama Aswaja Pantura: Hanya Islam yang Bisa Merawat Kebersamaan

 Multaqa ulama Aswaja Pantura: Hanya Islam yang Bisa Merawat Kebersamaan

Sabtu (12/10) malam setelah shalat Isya, bertempat di Masjid al-Karomah daerah Pantura, telah berlangsung multaqa ulama yang dihadiri lebih dari 30 orang kyai, ustadz, dosen, dan tokoh masyarakat.

Acara ini dipandu oleh Ust. Shohibul Huda, selaku Pengasuh PP. Ribathul Muslimin Blimbing. Acara diawali dengan tilawah al-Quran bi tartil oleh Ust. Pandoko. Setelah itu, kalam pembuka disampaikan oleh Kyai Fathurrahman al-Faruq (Pengasuh MT. Darul Falah) dengan tema materi, hanya Islam yang mampu merawat kebersamaan dan mempersaudarakan komponen umat muslim.

Selanjutnya, materi disampaikan oleh KH. Mudhofir (Pengasuh MT. Mafatihul Khair) dengan tema peran ulama selaku pihak yang memiliki hazanah ilmu dan peran umara selaku pihak yang menerapkan ilmu tersebut. Sebab dua golongan yakni ulama dan umara ini oleh baginda Rasulullah saw dalam satu riwayat, adalah yang memiliki andil akan baik dan buruknya manusia.

Oleh karena itu, wajib bagi kita menghormati ulama dan haram bagi kita melecehkan serta menodai kehormatan ulama, seperti: persekusi dan tindakan dhalim lainnya sebagaimana yang dialami oleh Kyai Heru Ilyasa, ulama Aswaja Mojokerto, juga ulama lainnya.

Ingatlah bahwa memuliakan ulama sama dengan memuliakan Nabi, dan memuliakan Nabi sama dengan memuliakan Allah, dan memuliakan Allah tempat kembalinya adalah surga, demikianlah diterangkan dalam satu riwayat hadits. Artinya jika memusuhi ulama itu sama saja dengan memusuhi Allah SWT.

Adapun peran umara selaku tanfidz (penerap ilmu/ hukum) yang dibawa oleh ulama selaku pewaris Nabi secara hakiki hanya bisa dilakukan oleh ulil amri yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta iman kepada hari akhir. Mereka adalah para umara yang hidup dalam sistem Islam yakni Khilafah Islamiyyah.

Oleh karena itu, keberadaan Khilafah Islamiyyah ini urgen dalam ajaran Islam untuk merawat aneka keberagaman seperti hidup berdampingan warga yang berbeda keyakinan dan juga untuk merajut persaudaraan muslim yang hakiki seperti persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshar.

Acara selanjutnya ditutup dengan doa oleh Ust. Suyatno.[]

Sumber: shautululama.co

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *