Multaqa Ulama Aswaja di Madura: “Menghalangi Penegakan Khilafah Adalah Kemungkaran”

Mediaumat.news – Sekitar 600 ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah dari berbagai kota di Indonesia berkumpul (multaqa) di Madura untuk mengecam siapa saja yang mengkriminalisasi ajaran Aswaja yakni khilafah.

“Siapa saja yang menghalang-halangi, mengancam, mengintimidasi dan mempersekusi orang, kelompok atau jamaah yang memperjuangkan syariah dan Khilafah, adalah orang-orang mungkar,” tegas KH Ahmad Jauhari, Ulama Aswaja Kediri Jatim, membacakan pernyataan sikap para ulama yang hadir, Ahad (31/3/2019) di kediaman KH Thoha Kholil (cucu Syaikhana Cholil Bangkalan Madura) di Bangkalan, Madura.

Mereka juga menegaskan akan senantiasa berada di barisan para pejuang khilafah. “Kami, para ulama, kyai dan habaib, akan senantiasa bersama dan membela orang, kelompok, jamaah atau organisasi untuk memperjuangkan khilafah,” tegasnya.

Karena, lanjutnya, khilafah adalah bagian dari ajaran Islam; hukum menegakkannya wajib; menghalangi, mengancam, mengkriminalisasi dan mempersekusi perjuangannya merupakan kemunkaran.

Para ulama juga menyeru kepada umat agar tetap menjaga ukhuwah Islam dan tidak mudah diadu domba, mewaspadai berbagai upaya yang akan membahayakan Islam dan kaum Muslimin seperti berkembangnya paham sekularisme, pluralisme, liberalisme sosialisme dan komunisme.

Ulama juga mengingatkan tentang kemungkinan penjajahan Cina. “Hendaknya umat mewaspadai kemungkinan adanya penjajahan, kolonialisasi Cina dan asing atas Indonesia,” tegasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, hendaknya umat tetap berada dalam agendanya sendiri sebagai fa’il (yang memiliki tujuan dan kegiatan) atas dirinya sendiri dalam perjuangan dakwah lii’lai kalimatillah, izzul Islam wal Muslimin (meninggikan kalimat Allah, menjaga kemuliaan Islam dan kaum Muslimin).

Mereka pun menyeru kepada pemerintah. “Hendaknya pemerintah beserta aparat-aparatnya, –mulai dari tingkat pusat sampai dengan desa–, agar bersikap amanah, jujur, dan adil dalam memegang dan menjalankan tugas melayani umat,” pungkasnya.

Dalam acara tersebut tampak hadir pula KH Tubagus Mulyadi Muwahib (cicit Kesultanan Banten); KH Tubagus Fathul Adhim (cicit Kesultanan Banten); KH. Azwir Aziz (Ulama Serumpun Melayu Medan/Kesultanan Siak); KH Amroni Ahmad/Kiyai Sekar (Ponpes Al Amri Leces, Probolinggo); KH Mustari Ago (Makassar, dzuriyah Sultan Hasanudin); Habib Kholilullah Al Habsyi (Pengasuh Majlis Taklim dan Dzikir Ratibul Haddad Jakarta); KH Misbah Alimi (Dosen Tafsir Universitas Hasyim Asyariy) dan KH Ali Bayanullah, Al Haafidz (Pimpinan Ponpes Tahfidz Quran Darul Bayan, Sumedang).[] joko prasetyo

Telah terbit MU Edisi 219