MTI Sulsel Gelar Tabligh Akbar Sambut Bulan Suci Ramadhan 1440H

Majelis Taqarrub Ilallah Sulawesi Selatan, MTI Sulsel menyelenggarakan acara Tabligh Akbar Tarhib Ramadhan 1440 H pada Rabu (1/5) dengan tema “Ramadhan Bulan Perjuangan”. Acara ini diselenggarakan di Masjid Baiturrahman, Kota Makassar untuk menyambut akan datangnya bulan suci Ramadhan 1440H.

Ustadz Nasaruddin Linggi Allo selaku perwakilan MTI Sulsel dalam sambutannya mengajak umat Islam agar berbahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan.

dan menyiapkan diri untuk meningkatkan kualitas ibadah melanjutkan perjuangan Islam kaffah.

“Ramadhan bulan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan bulan untuk melanjutkan perjuangan”, tegasnya.

Acara ini menghadirkan para pembicara al mukarramun : KH Sudirman S.Ag, ust. Syamsuddin Al-Furqan, ust. Rahmat Fathurrahman, ust. Denny Hakim, ust. Dr. Firman Menne dan ust. Musta’din S.Ag

Pembicara pertama Sudirman S.Ag dalam tausiyahnya mengajak umat islam untuk menghiasi dirinya dengan ilmu yang dapat mendekatkan diri seorang hamba dengan Allah SWT, yaitu ilmu agama. Dengan ilmu itulah seorang hamba dapat menikmati ibadah. Ia menegaskan dua syarat diterimanya ibadah yaitu, Ikhlas dan juga mengikuti Rasulullah. Beliau mengibaratkan seorang hamba seperti air yang mengalir yang bergerak dan berpindah mengikuti alur yang dibuat oleh Allah SWT

“Seorang Hamba itu seperti air yang mengalir. Hamba itu bergerak berpindah berbuat atas alur dan atas pola yang dibuat oleh pembentuknya  itulah thariq yang sudah dibentuk oleh pembuat syariat”, ujarnya

Pembicara kedua, ust. Syamsuddin Al-Furqan mengemukakan beberapa alasan mengapa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Salah satunya kata beliau adalah karena Allah SWT pada bulan itu telah menurunkan Al-Quran dan bahwasanya salah satu perintah dalam Al-Quran adalah berpuasa pada Bulan Ramadhan.

“Salah satu perintah yang ada dalam Al-Quranul kariim tersebut adalah berpuasa pada Bulan Ramadhan”, tegasnya

Setelah itu ust. Rahmat Fathurrahman sebagai pembicara ketiga mengulas sejarah Bulan Ramadhan di masa Kekhilafahan diantaranya bagaimana Para Khalifah dulu, ketika memasuki bulan Ramadhan mengumpulkan umat Islam dan berkhutbah dihadapan mereka . Ia membandingkan hal tersebut dengan apa yang terjadi dengan umat Islam hari ini terutama di Indonesia yang justru disibukkan dengan Sidang Itsbat yang terkadang juga masih diperdebatkan hasilnya.

“Kita ini setiap Ramadhan atau akhir bulan sya’ban, yang kita tunggu adalah hasil sidang Itsbat yang hasilnya itu kadang masih diperdebatkan”, ungkapnya

Pembicara selanjutnya, ust. Deny Hakim mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan persatuan bagi umat Islam. Persatuan itu bisa dicapai dengan Lima syarat, yaitu ikatan iman dan takwa, keikhlasan, terikat dengan tali Allah, amar ma’ruf nahi munkar serta saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan kelima syarat itu bisa terwujud jika umat Islam berada dalam kepemimpinan yang melaksanakan ajaran islam secara kaffah.

“Ikatan ini bisa terwujud kalau kita berada dalam sebuah kepemimpinan Islam secara kaffah yang itu disebut adalah Kekhilafahan Islam”, ujarnya.

Selanjutnya ust. Dr. Firman Menne menyoroti proyek One Belt One Road (OBOR) yang telah disepakati oleh Pemerintah Indonesia dan China jelang bulan ramadhan dan ia mengajak umat Islam khususnya untuk menolaknya karena akan menambah beban utang riba yang akan ditimbulkan. Proyek tersebut menurut beliau lebih banyak memberikan keuntungan bagi China dan juga merupakan ambisi mereka untuk menjadi negara adikuasa baru khususnya di wilayah asia.

“Tujuan china dalam proyek OBOR ini untuk mendeklarasikan dirinya sebagai negara adikuasa, negara adidaya dan negara super power yang menyamai bahkan mengalahkan Amerika”, ungkapnya

Pembicara terakhir ust. Musta’din S.Ag membahas tentang Ramadhan sebagai bulan perjuangan umat Islam agar umat Islam tidak memisahkan agama dan politik atau kekuasaan. Sembari mengutip perkataan imam Al-Ghazali.

“Agama dan Kekuasaan itu adalah saudara kembar, agama adalah asasnya dan kekuasaan adalah penjaganya”, tegasnya

Setelah semua pembicara selesai menyampaikan tausiyahnya, acara ini dilanjutkan dengan pembacaan Risalah Menjelang Ramadhan oleh ust. Muhammad Kemal Idris yang pada intinya mengajak umat islam untuk melepaskan diri dari tatanan kehidupan jahiliyah saat ini dan mengajak kaum muslimin untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah.[]