Global Harvest Praise

Mengungkap Strategi Kaum Minoritas

Oleh: Abu Deedat Syihab, MH

Agama  Islam  dan Kristen merupakan agama  misi. Kaum Kristen mencanangkan untuk melakukan misi di negara-negara  Asia, Afrika dan Amerika Latin, sebagaimana dimuat  dalam proyek Josua Window 10/40 Lintang Utara Khatulistiwa.

Apa  yang menjadi  dasar para propagandis Kristen,  bersemangat melakukan upaya kristenisasi terhadap belahan dunia terutama ke negeri-negeri  Muslim?

Itu tidak lain adalah apa yang mereka sebut sebagai Amanat Agung Yesus yang tertuang dalam Injil Matius 28 : 19-20 dan Injil Markus 16 : 15-16. Dalam melakukan aksinya mereka menggunakan strategi musang berbulu ayam, srigala berbulu domba. Ini misalnya bisa dilihat dalam ayat: Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. (Injil Matius  10 : 16), juga Kitab  1 Korintus 9 : 19-20.

Kedok Kegiatan

Menarik apa yang dilakukan penginjil asal Kanada  Dr Peter Youngren. Ia mengunjungi lebih dari 85 negara untuk mengatakan Festival Penyembuhan, termasuk di Indonesia.

Dia juga telah melatih lebih dari 110 ribu pendeta dan pemimpin dalam seminar ‘Global Harvest Praise’. Tentang penyembuhan atau mukjizat yang ditawarkannya, dia mengatakan,”Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.” (Bethanygraha.org dan Wikipedia).

Dalam suatu wawancara, Dr Peter pernah ditanya, Mengapa dalam ibadah kesembuhan anda menyebutnya sebagai Festival dan bukan Crusade atau Revival Meetings (KKR-Kebaktian Kebangunan Rohani-). Ia menjawab, “Kata Crusade (KKR) adalah kata yang melukai saudara sepupu kita dari agama lain (maksudnya adalah umat Islam, pen), sedangkan kata Revival tidak kita gunakan dalam ibadah kita. Kita menyebutnya Festival atau Celebration (perayaan). Misalkan kalau diadakan di Surabaya, kami menyebutnya di poster sebagai Surabaya Festival bukan Jesus Festival atau Festival Injil. Ini sama sekali tidak memberikan kesan agamawi. Orang bertanya apa ini? Mereka tidak tahu dan datang menghadirinya. Kita bahkan tidak gunakan lambang gereja seperti salib dan sebagainya.”

Ketika ditanya apakah dia telah berkompromi? Dengan gamblang Peter menjawab:
“Kita tidak berkhotbah di poster atau di iklan tetapi kita berkhotbah di festival. Setelah mereka ada di festival, baru kita sampaikan Injil kepada mereka.” (Bethanygraha).

Sikap Kristen kalau mereka minoritas sebagai berikut  ;

  1. Selalu  mengatakan di hadapan hukum tidak ada mayoritas minoritas sama.
  2. Menolak segala bentuk campur tangan negara dalam urusan  agama.
  3. Menolak segala bentuk aturan  hukum dan undang-undang berkaitan  dengan urusan  agama  dan lembaga agama.
  4. Menolak azas proporsionalitas dalam penyebaran agama dan pendirian tempat ibadah.

Padahal  pemerintah dalam rangka menjaga, mencegah dan menghindari  terjadinya gesekan/ konflik, maka dibuatlah aturan-aturan sbb : Tentang Kode etik penyiaran agama  ( Keputusan Menag No.70 thn 1978, maupun keputusan Bersama Menteri Agama dan Mendagri No. 1 tahun 1979)

Tentang  Pendirian Rumah Ibadah yang sudah diatur oleh Pemerintah. PBM (Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 9 dan 8 tahun 2006).