Mengungkap Mega Korupsi di Uzbekistan

 Mengungkap Mega Korupsi di Uzbekistan

Gulnara Karimova putri sulung Islam Karimov ditangkap

Penelitian berjudul “A Dance With the Cobra: Confronting Grand Corruption in Uzbekistan” Menjelaskan Jaringan Korupsi di Uzbekistan.

Permasalahan untuk mengungkap mega korupsi adalah begitu anda mulai menarik simpul talinya –  individu tertentu, mungkin  bisa menyebabkan seluruh permadani terlepas dari dinding. Setiap benang yang terikat pada yang lain dalam lingkungan koneksi personal dan bisnis yang tidak mungkin dihadapi, perusahaan minyak dengan para pemilik yang tersembunyi, para pelaku internasional yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, akan hancur di bawah tekanan massa yang menggeliat: dan orang-orang yang usaha kecilnya dicuri, yang para kerabatnya disiksa, dimana lembaga-lembaga pemerintahnya telah tumbang dari dalam hanya untuk melayani sekelompok kecil orang di puncak kekuasaan.

Di Uzbekistan, sedikit orang yang terkait dengan korupsi sebagaimana Gulnara Karimova, putri sulung presiden pertama negara tersebut, mendiang Islam Karimov. Tapi sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebuah laporan baru, Karimova hanyalah satu benang dari sebuah permadani yang utuh. Dalam laporan yang berjudul “A Dance With the Cobra: Confronting Grand Corruption ini Uzbekistan”, para peneliti merinci bagaimana pemerintah Uzbekistan bertindak sebagai jaringan kejahatan terorganisir. Laporan setebal 100 halaman itu, yang diterbitkan oleh International State Crime Initiative, yang berbasis di Queen Mary University of London (QMUL), bertujuan untuk secara sistematis mendokumentasikan korupsi yang terjadi di Uzbekistan dan secara kritis memeriksa peran lembaga-lembaga negara dalam memfasilitasi bagian-bagian bisnis kekaisaran Karimova yang ilegal. Laporan tersebut juga bertujuan untuk menarik keluar infrastruktur internasional yang digunakan oleh apa yang dianggap oleh para penulisnya sebagai Karimova Syndicate serta hubungan antara pelanggaran HAM dan korupsi.

Pada akhirnya, laporan tersebut secara jelas diarahkan untuk mempengaruhi mereka yang memutuskan apa yang terjadi pada aset finansial yang berharga di atas $ 850 juta yang dibekukan melalui proses hukum atas skandal suap besar-besaran di bidang telekomunikasi, yang mulai muncul pada tahun 2012 dan memicu turunnya citra Karimova. Pembekuan aset senilai $ 850 juta oleh Amerika Serikat saat ini mengikuti negosiasi antara Departemen Kehakiman AS dan Uzbekistan, dimana Tashkent mengklaim bahwa dana tersebut seharusnya dikembalikan ke negara itu, dan para kritikus negara tersebut berpendapat bahwa pengembalian yang lebih hati-hati harus dilakukan, untuk memastikan keuntungan senilai jutaan dollar itu sampai kepada pada korban sebenarnya: yakni rakyat Uzbekistan.

Gulnara Karimova putri sulung Islam Karimov ditangkap
Gulnara Karimova putri sulung Islam Karimov ditangkap

Laporan itu sangat rinci. Para penulisnya secara sistematis memeriksa sumber dokumenter seperti file-file tiap kasus, keputusan pengadilan dan arbitrase, kesepakatan pembelaan, laporan audit, dan catatan registri perusahaan sebagai bagian dari pembangunan dan pemahaman jaringan yang berasal dari Karimova. Yang penting, para penulisnya memanfaatkan teknologi digital modern untuk meneliti jaringan sosial dan memetakan transaksi. Pada saat permadani mulai terurai, sangat mudah untuk kehilangan potongan-potongannya. Dan Karimova Syndicate memiliki ikatan itu di seluruh dunia.

Laporan tersebut tidak hanya menawarkan analisis yang menyeluruh terhadap jaringan kriminal yang beroperasi di luar Tashkent, namun terdapat delapan studi kasus yang mendalam dan pandangan yang terkonsentrasi pada siapa yang menjadi korban. Selanjutnya, laporan tersebut mengkaji prinsip-prinsip keadilan transisional (TJ) dan keadilan transformatif dan bagaimana penerapannya pada kasus Uzbekistan.

Alih-alih menceritakan kembali studi kasus – yang merinci dengan tepat bagaimana Sindikat itu secara praktek bekerja dan menghancurkan orang-orang di sepanjang jalan – Saya akan fokus untuk membahas tiga tema yang perlu diingat saat membaca laporan tersebut.

Pertama, hal ini bukan tentang Gulnara. Para penulisnya memperjelas di muka bahwa jika hanya fokus pada Gulnara, untuk sebagian besar, akan membiarkan sisa jaringan tetap menjadi kabur. Fokus yang terlalu besar pada “Putri Uzbek” itu memungkinkan “para pemain pendukung luar negeri yang luas, para penasihat asing, dan yurisdiksi rahasia, yang terlibat dalam aktivitasnya” dan “bentuk-bentuk sistematis kekerasan negara dan pemerasan terhadap lembaga-lembaga” adalah untuk menghindari sorotan. Gulnara tidaklah sendiri saat merampok rakyat Uzbek dan para mitra bisnis mereka yang bernilai ratusan juta dolar. Seluruh aparatur negara lahir secara bebas dari sistem Soviet yang sudah sangat korup, dan diawaki oleh seorang diktator yang tidak menyukai perbedaan pendapat. Sistem seperti itu tidak terbentuk dalam satu malam, dan juga tidak dapat direformasi dalam waktu singkat.

Kedua, bukan hanya Uzbekistan sendiri yang harus dikritik; dan Tashkent bukanlah satu-satunya ibukota yang sangat membutuhkan reformasi. Penulis utama laporan ini, Kristian Lasslett, menjelaskan fenomena adanya sidik jari Barat dalam korupsi Uzbek sebelumnya pada tulisan berjudul “The Diplomat”. Jaringan Karimova telah dicangkokkan ke dalam, dan tidak dapat beroperasi tanpa adanya jaringan keuangan internasional yang permisif. Mega korupsi ini, laporan tersebut mencatat, “berkembang dalam kerangka perusahaan-perusahaan minyak, bank-bank, gudang-gudang aset, dan para kolaborator profesional/ korporat yang permisif, yang memungkinkan dana yang dijarah untuk diekstrak, dicuci, dan diinvestasikan di lokasi-lokasi lepas pantai.”

Sebagaimana yang diperinci oleh Alexander Cooley dan John Heathershaw dalam studi regional mereka yang berjudul – Dictators Without Borders: Power and Money in Central Asia Diktator – bukanlah wilayah yang terpencil. Sebaliknya, mereka adalah para elit yang sangat akrab dengan cara-cara penggelapan keuangan internasional. Dari mulai layanan perusahaan yang diberikan di Swiss dan China, hingga suap yang dibayarkan oleh perusahaan-perusahaan di Belanda dan Rusia, layanan profesional Amerika dan layanan keuangan Inggris, Karimova Syndicate benar-benar memiliki koneksi global. Perusahaan-perusahaan lepas pantai utama yang didirikan di UAE, Swiss, Gibraltar, British Virgin Islands, Inggris, dan Hong Kong; dan bank-bank yang diduga dipekerjakan oleh Karimova termasuk bank-bank Inggris (HSBC di Jersey, Standard Chartered di Hong Kong) dan bank A.S. (Citibank cabang Dubai), antara lain terdapat di Swiss dan Latvia. Perusahaan-perusahaan yang dituduh memberikan suap kepada Karimova termasuk Coca Cola, Vimpelcom, TeliaSonera, dan MTS, antara lain.

Terakhir, keseluruhan laporan itu mengarah pada isu keadilan dan pembalasan. Dalam jangka pendek, laporan tersebut merekomendasikan agar tidak langsung mengembalikan aset yang dibekukan itu kepada pemerintah Uzbek. Sebagai gantinya, para penulis mendesak adanya semacam solusi kepercayaan yang “didukung oleh mekanisme pengawasan yang kuat, dewan perwakilan masyarakat sipil, dan persyaratan pelaporan yang transparan.” Para penulis juga menunjukkan bahwa karena negara telah menganiaya individu dengan sangat berat dan untuk waktu yang lama, sejumlah besar “korban” telah meninggalkan negara tersebut. Orang-orang buangan ini, yang tersebar di seluruh dunia, seharusnya ikut dalam pembicaraan ini. Menurut para penulisnya, proses ini seharusnya tidak mengecualikan para pejabat negara. “Penting,” tulis mereka, “jika mungkin, bahwa percakapan dan tindakan ini difasilitasi melalui kepercayaan, dengan mempertimbangkan upaya reformasi yang dilakukan oleh negara, melalui dialog yang konstruktif.”

Kejahatan Karimova Syndicate dibantu dan didukung oleh negara, dan karenanya negara harus berperan aktif dalam mereformasi sistem dan praktik yang memungkinkan terjadinya mega korupsi ini. Pemerintah Uzbek yang baru, yang telah berusaha untuk memposisikan dirinya berbeda dari sebelumnya, memiliki rintangan kepercayaan yang tinggi untuk diatasi dalam hal ini. Cukup sederhana untuk membicarakan reformasi; tapi bisakah Tashkent melakukannya?

 

Sumber: thediplomat.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *