haji umrah

Mengungkap Ibadah Haji Dalam Bibel (Kisah Siti Hajar dan Sumur Zam Dalam Bibel)

Oleh: Abu Deedat  Syihab MH

Nabi Ibrahim (Abraham/Abram) diakui oleh ke tiga  agama, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Orang Yahudi dan Kristen menyebut Abraham sebagai bapak Orang Yang Beriman, sedangkan dalam Islam Ibrahim disebut bapak Para Nabi, bapak tauhid.

Penulis akan menelusuri  ibadah haji yang dilakukan oleh Ibrahim dan keturunannya dalam  kitab suci Yahudi dan Nasrani, bahwa ibadah haji merupakan syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan dilanjutkan oleh anak cucu Ibrahim, yaitu Nabi Muhammad  SAW.

Dalam Bibel

        “Lalu Allah membuka mata Hagar (Hajar), sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak (Ismael) itu minum, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah, maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir (Kejadian 21:19-21)”

“Lalu malaikat Tuhan menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan Syur (Kejadian 16:7)” “Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lachai-Roi ( sumur Zam-zam.pen) ; letaknya antara Kadesj dan Bered (bukit sofa dan marwah .pen) (Kejadian 16:14)”

“Kemudian Tuhan membuka mata Hajar dan dia melihat sebuah sumur air. Dia pergi menuju sumur itu, dan mengisi kantung air, kemudian memberi minum anak itu (Kejadian 21:19).

Dalam Mazmur sendiri telah merujuk pada Sumur Zamzam, meskipun tidak menyebut namanya, dan secara spesifik menyebutkan letaknya di Bakkah, varian kuno dari nama Mekkah.

 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela.   Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!

Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion. (Mazmur 84: 5-8  )

           Menurut akidah Islam, sumur Lachi-Roi itu disebut zam-zam (artinya air yang berkumpul), sedangkan Kadesj dan Bered adalah nama gunung yakni Shafa dan Marwa di kota Mekkah, dari peristiwa/kisah Ismael inilah maka munculnya Sai (lari-lari kecil) dari padang Safa ke Marwa.

Dan sumur ini telah menjadi suatu mukjizat karena sudah bertahan paling sedikit 4.000 tahun, semenjak dibuat oleh Jibril. Hingga kini air sumur Zamzam dapat dinikmati dan diminum oleh orang-orang yg sedang berhaji dan umroh selama berabad-abad dan diminum oleh berjuta-juta manusia (Maha Suci Allah!)

Dalam Islam

Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian syiar Islam, maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya (QS 2:158)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan Haji. mereka akan datang kepadamu (Ibrahim) dengan berjalan kaki dan mengendarai onta, yang datang dari segenap penjuru yang jauh (QS 22 Al Hajj:27)”

“Dan ingatlah, ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah Ka’bah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu MEMPERSERIKATKAN (Pen: syirik, menyembah berhala dll) sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku (Kabah Baitullah) ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku dan sujud (QS 22:26)

“Dari Abu Sai’id Al Khudri ra dari Nabi saw, sabda beliau: Haji dan Umrah ke Ka’batullah akan tetap dilaksanakan orang walaupun setelah keluar Ya’juj dan Ma’juj (HR Bukhari)

Dalam prosesi haji dilakukan pula thawaf, yakni mengelili Ka’bah sebanyak 7 kali. Kegiatan thawaf ini pun terdapat dalam ekspresi tradisi Yahudi, yang setidaknya berselang 3.000 tahun sebelumnya.

Dalam ritual-ritual yang dilakukan dalam traktat Sukka Mishna (bagian dari Talmud) para pendeta Yahudi melakukan perjalanan mengelilingi altar di kuil Yerusalem (atau di sinagog pada hari-hari lain saat tidak di kuil) dan berputar tujuh kali mengelilingi kuil di Yerusalem (atau sinagog pada hari-hari lain saat tidak di kuil).

Dengan  demikian kegiatan thawaf bukan kegiatan pagan (para penyembah berhala) dan hal ini sudah dilakukan oleh kaum Yahudi. Dan ritual ini juga dilakukan oleh Islam, sebab pada dasarnya Islam meneruskan ajaran nabi-nabi terdahulu baik Ibrahim, Yakub maupun Musa.[]

Sumber: Tabloid Mediaumat Edisi 223