Camera obscura Ibn al-Haitsam
Camera obscura Ibn al-Haitsam

Mencari Ilmu Langit

Oleh: Prof Dr Ing Fahmi Amhar

Bulan Ramadhan biasanya dijadikan momentum untuk banyak belajar “ilmu-ilmu langit”. Bukankah wahyu pertama turun dari langit tentang belajar? Belajar yang sejak dari membaca selalu dengan nama Tuhan! Suatu awal yang baik ketika ilmu dan iman berjalan beriringan. Kelak ilmu-ilmu semacam ini tidak akan pernah menafikan agama, sejak motivasinya, metodenya, hingga aplikasinya.

Namun ilmu-ilmu langit (celestial science) ini tidaklah melulu ilmu tentang ibadah atau tentang akherat. Pernah dicoba di sebuah Universitas Islam Negeri, para dosen dan peneliti ditantang untuk membuat karya ilmiah menurut ide dan kreativitas masing-masing. Kemudian mereka diminta mempresentasikan di depan sejumlah profesor dari berbagai bidang yang diundang khusus untuk itu. Untuk tiga karya terbaik akan mendapatkan penghargaan khusus dari rektor.

alat percobaan jabir ibn hayan

Ilustrasi alat-alat percobaan Jabir al Hayan

Sayang, dari sekian banyak bidang ilmu yang ada di universitas tersebut, hanya masuk tiga karya tulis. Ketiganya justru bidang matematika, fisika, dan kimia. Padahal sebelumnya dinanti bidang ekonomi syariah, sejarah Islam, pendidikan, komunikasi, dan sejenisnya.

Yang bidang matematika mengupas upaya pengenalan penyakit jantung dari data elektrokardiografi (EKG) secara otomatis dengan menggunakan jaring syaraf tiruan dan sistem pakar. Yang bidang fisika mengupas cara meningkatkan kekerasan baja dengan menambah lapisan boron. Sedang yang kimia mengupas aspek fitokimia pada tanaman Nam-nam.

Semua menarik. Hanya satu yang sepertinya terlewat. Tidak satupun paper yang mengaitkan penelitiannya dengan suatu ayat Alquran atau hadits, sebagai ciri khas sebuah perguruan tinggi Islam. Padahal ada lebih dari 800 ayat yang bisa dijadikan inspirasi penelitian sains.

Alquran secara khusus menyebut soal jari-jemari:

Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (TQS. 75:4)

Sekarang kita tahu bahwa pada sidik jari yang unik itu tergambar banyak hal tentang manusia tersebut. Ini tentu relevan dengan riset EKG yang ingin mendapat gambaran kesehatan jantung dari apa bisa diindera dari luar melalui alat EKG.

Lalu Alquran surat Hadid ayat 25 mengatakan:

Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. (TQS. 57:25)

Ini tentu relevan dengan riset pengerasan baja.

Demikian juga QS al-Insaan:

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (TQS 76:17)

Meski ayat ini secara eksplisit menyebut jahe, tetapi ini adalah inspirasi untuk meneliti berbagai tanaman sejenis, karena begitu istimewanya sampai disebut sebagai campuran minuman ahli surga.

Walhasil, di berbagai perguruan tinggi Islam mestinya memang ada riset-riset yang dimotivasi dan diinspirasi oleh Alquran. Apalagi ditambah keanekaragaman hayati, geologi dan manusia di negeri ini.

Apakah di masa lalu riset semacam ini ada?

Banyak orang meyakininya. Meskipun tidak selalu mudah memilah mana motivasi yang didorong oleh inspirasi Qurani dengan motivasi karena rasa ingin tahu yang tinggi atau suatu kebutuhan yang mendesak.

Syariah Islam memang juga menciptakan berbagai kebutuhan baru yang mendorong orang mencari dan mengembangkan sains dan teknologi baru.

Al-Khawarizmi (780-850 M), penemu aljabar dan dari namanya muncul istilah “algoritma” yang lazim digunakan di dunia ilmu komputer, diriwayatkan menekuni aljabar setelah mendapat pertanyaan tentang teknis pembagian waris. Sebagaimana diketahui hukum waris dalam Islam cukup rumit sehingga dalam kasus-kasus tertentu membutuhkan persamaan-persamaan matematika untuk menghitungnya secara rinci.

Al-Kindi (801-873) adalah perintis dalam analisis kriptologi, yaitu ilmu persandian suatu teks sehingga hanya dapat dimengerti bila diketahui kuncinya. Persandian mutlak diperlukan agar suatu teks yang dikirim melalui jalur komunikasi tidak diketahui atau digunakan orang yang tidak berhak. Dalam buku A Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages ditunjukkan bagaimana al-Kindi mengurai suatu teks tersandi dengan analisis frekuensi.

Di bidang astronomi, sebuah riwayat menyebutkan bahwa kajian tafsir di Baghdad menggunakan kitab Almagest karya Ptolomeus sebagai tafsir yang hakiki dari QS al-Ghasiyah ayat 18, “Dan langit bagaimana ditinggikan”.

Astronomi dikembangkan untuk mendapatkan data navigasi yang akurat ketika berlayar di tengah lautan, baik untuk keperluan damai (perdagangan, dakwah), maupun perang (jihad fii sabilillah). Astronomi membersihkan dirinya dari astrologi, yakni ilmu bintang untuk meramal nasib, yang telah diharamkan oleh Islam.

Camera obscura Ibn al-Haitsam

Camera obscura Ibn al-Haitsam

Astronomi juga membutuhkan berbagai alat bantu. Ibn al-Haytsam (sekitar 1000 M) adalah fisikawan pertama yang mengembangkan optika (lensa, teleskop) dan juga matematikawan pertama yang menurunkan rumus persamaan pangkat empat, dan menggunakan metode induksi untuk mengembangkan segala persamaan integral – apa yang di Eropa baru dikembangkan Newton dan Leibniz empat abad setelahnya.

Jabir ibn Hayyan (Geber, 715-815) berangkat dari usahanya membersihkan kimia dari ilmu sihir yang mencampuradukkan ramuan dengan mantera-mantera. Karena jasanya memperkenalkan metode ilmiah eksperimental dan juga lebih dari 20 macam peralatan laboratorium seperti alat destilasi, kristalisasi, purifikasi, oksidasi, evaporasi, filtrasi dan kristalografi, seperti dalam bukunya Kitab al-Istitmam, beliau diakui dunia sebagai “Bapak Ilmu Kimia”.

Ini hanyalah sedikit dari “gunung es” saintis Qurani pada masa khilafah Islam. Kebutuhan mengurusi umat dan memenangkan jihad serta dorongan spiritual dari beberapa perintah Alquran membuat kaum Muslim bergiat dalam matematika, fisika, dan kimia yang tidak sekadar berhenti pada olah pikiran, namun juga menghadirkan sesuatu yang real bermanfaat dalam kehidupan nyata.

Matematika Islam telah mengusir numerologi Yunani atau India kuno ke keranjang sampah peradaban. Astronomi Islam telah mengusir astrologi. Sedang fisika dan kimia Islam telah memindahkan ilmu sihir ke dunia dongeng yang tidak relevan dalam kehidupan.[]

Sumber: Tabloid Mediaumat Edisi 154

Telah terbit MU Edisi 202