MTI gresik april 2019

Majlis Taqarrub Ilallah Gresik, Kita Butuh Pemimpin Amanah, Jujur serta Negarawan Sejati

Jamaah Majelis Taqarrub Ilallah Gresik menggelar Multaqa Ulama di kediaman Ust. Nur Hasyim. Tema yang dibahas oleh para ulama dan tokoh masyarakat pada agenda bulanan kali ini adalah Merindukan Negarawan Sejati.

Acara diawali dengan pembacaan ummul kitab, yang dipandu oleh Ust. Hasan Hambali selaku Moderator. Dilanjutkan pemaparan materi oleh Ust. Muhammad Ali Zakaria pembina Majelis Taklim Laa Tansa Gresik.

Beberapa alim ulama dan mubaligh yang nampak hadir sebagai nara sumber adalah Ust. Abdul Latif, S,Pd.I Pengasuh TPQ AL Latif, Ust. Hary Abdus Salam, S.Pd Pembina Komunitas PERISAI, Ust. Muhammad Mufid, H. Imam Ahmad, Ust. Luqmanul Hakim, Ust. Hamim Thohari, dan Ust. Abu Ammar.

Ust. Muhammad Ali Zakaria menerangkan kondisi Negeri-negeri Islam saat ini, meski memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa tetapi kondisi ekonomi dan sosial sangat memprihatinkan dan mengenaskan. Kekayaan yang melimpah ruah ini tidak dapat dinikmati, dirasakan dan dikuasai oleh umat Islam.

Persengkongkolan penguasa dengan korporasi barat mengakibatkan para kapitalis, sekuleris dan liberalis dengan leluasa mengeksploitasi sumber daya alam di negeri – negeri Islam. Namun, Penyebab Utama keterpurukan ini, adalah tidak diterapkannya syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah. Pungkas Ust. Muhammad Ali Zakaria.

Dilanjutkan pemaparan Ust. Abu Ammar tentang konstalasi politik saat ini. Peralihan dan pergantian penguasa hanya sebagai strategi mengokohkan dan melanggengkan kepentingan negara – negara barat. Terjadinya revolusi Iran 1989 dan Arab Spring sejak tahun 2011 menjadi bukti kuatnya pengaruh dan cengkraman hegemoni asing. Sehingga siapapun penguasanya, kalau tidak tunduk pasti akan dilengserkan, dan sebaliknya jika tunduk dan loyal terhadap kebijakan negara barat dipastikan kekuasaannya akan langgeng.

Ust. Hary Abdus Salam, S.Pd pembina Komunitas PERISAI (Pemuda Rindu Syariat Islam) yang mendapat giliran ketiga, menyampaikan pemimpin itu wajib memiliki karakter Negarawan Sejati yakni mewujudkan Islam Rahmatal Lil Alamin. Mengemban dan menyebarkan Islam ke penjuru dunia, dengan Dakwah dan Jihad Fi Sabilillah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul SAW dan Khulafaur Rasyidin serta Khalifah – Khalifah sesudahnya.

Selanjutnya Ust. Abdul Latif, S.Pd.I pengasuh TPQ Al Latif menjelaskan tentang ciri dari Negarawan sejati dalam Pandangan Islam. Pertama, berperan sebagai pengemban risalah Islam (pemimpin umat); kedua, berperan sebagai kepala negara (pemimpin rakyat); Ketiga, berperan sebagai qadhi (hakim) atas setiap sengketa yang terjadi di tengah-tengah warga negara. Sebagaimana pendapat Imam al-Qarrafi (684 H) dalam kitab Anwar al-Buruq fi Anwa’i al-Furuq.

Ust. Muhammad Mufid selaku pengasuh Taman Pendidikan Islam Khoiru Ummah Gresik yang mendapatkan kesempatan terkahir. Menegaskan bahwa Seorang negarawan sejati adalah pemimpin yang senantiasa bertanggung jawab atas semua urusan rakyatnya. Berlapang dada saat dikritik. Ia selalu berupaya keras memenuhi semua kebutuhan rakyatnya. Dan tidak mungkin membiarkan rakyatnya kelaparan, kesusahan, sakit, terlantar, terancam keselamatan jiwanya, dsb. Seorang negarawan harus benar-benar memahami dan mengamalkan sabda Rasulullah Saw:

الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat. Ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari)

Sungguh yang kita butuhkan hari ini bukan sekedar pergantian seorang penguasa. Yang kita butuhkan adalah tampilnya seorang negarawan yang memiliki sudut pandang menyeluruh dan khas tentang kehidupan. Memiliki akidah Islam yang menentukan visi misi hidup seseorang. Mempunyai pandangan tertentu tentang kebahagiaan hakiki. Teraihnya keridaan Allah SWT, dengan hanya tunduk dan taat pada perintahNya. Meyakini akan peradaban (hadlarah) Islam yang hanya terwujud melalui penegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan yakni KHILAFAH ISLAM MIN HAJJIN NUBUWWAH. Sistem Pemerintah Islam Sesuai Manhaj (metode Kenabian). Pungkas Ust. Mufid. Lalu acara ditutup dengan doa, ramah tamah dan foto bersama. (red)