MIK Bogor

Majlis Taklim Majmuatul Amanah Ciomas, Bogor, “Kita Tidak Boleh Membenarkan atau Mendukung Kedzaliman”

Ahad, 03 Februari 2019, bertempat di Majelis Ta’lim Majmuatul Amanah, Komplek Sari Inten Jl. Desa Kelurahan Ciomas Rahayu Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, telah berlangsung acara KAJIAN ISLAM KAFFAH Edisi 02, dengan tema: Bedah Buletin Kaffah Edisi 075 “Mewaspadai Kepemimpinan Orang-orang Bodoh [Buletin Kaffah No. 075_19 Jumadil Awwal 1440 H – 25 Januari 2019 M], bersama KH. Harun Al-Rasyid, yang diikuti sekitar 35 asatidz dari Ciomas.

Acara ini merupakan kajian rutin bulanan yang diselenggarakan oleh Majelis Islam Kaffah, Ciomas, Bogor, Pimpinan Ustadz Yusdian. Hadir sebagai shohibul bait adalah ustadz Ikhwanul Hakim, dan pembina Majelis Islam Kaffah: ustadz. H. Adilin dan KH. Adhi Maretnas. Sementara Ustadz Yunan sebagai anggota pembina Majelis sedang ada acara pengajian yang lain. Acara diawali dengan hadroh, pembacaan shalawat Nabi bersama-sama dengan asatidz yang hadir.

KH. Harun, Mudir salah satu pesantren di Bogor, menyatakan bahwa masalah kepemimimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam Islam. Bahkan masalah yang sangat vital dan strategis. Karena kepemimpinanlah yang menentukan hitam putihnya masyarakat. Kepemimpinanlah yang akan memutuskan sistem apa yang akan dijalankan di bawahnya, baik sistem ekonominya, pendidikan, sosial, budaya dan sebagainya.

Pemimpin ibarat penggembala, sedangkan rakyat ibarat ternak gembalaannya. Kata pepatah: ”Kita yang memimpin atau kita yang dipimpin”. “Kita yang berpolitik atau kita yang dipolitiki”. Saking sangat pentingnya masalah kepemimpinan, para sahabat sampai berijma’ (bersepakat) untuk mendahulukan memilih khalifah (pemimpin pengganti rasulullah SAW setelah beliau wafat) dibandingkan memakamkan jasad rasulullah SAW.

Dalam Islam, seorang pemimpin (imam/khalifah) dipilih dan dibaiat tidak lain untuk menerapkan al-Quran dan as-Sunnah atau syariah Islam. Hanya dengan menerapkan syariah Islamlah, kepemimpinan tidak akan—sebagaimana yang dikhawatirkan Nabi saw.—menjadi imârah as-sufahâ (kepemimpinan orang-orang dungu/bodoh).

Oleh karena itu, sangat penting dan strategisnya posisi kepemimpinan, maka kita umat islam harus sangat serius dan hati-hati dalam memilih pemimpin sehingga kita tidak dipimpin oleh orang-orang yang bodoh.

Apa itu pemimpin yang bodoh? Menurut Nabi saw, “Mereka adalah para pemimpin sesudahku, yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunnahku” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Karena itu kepemimpinan penguasa manapun yang tidak merujuk pada petunjuk dan Sunnah Nabi saw. terkategori sebagai imârah as-sufahâ` (pemimpin bodoh/dungu).

Tegasnya, pemimpin yang meninggalkan petunjuk al-Quran dan as-Sunnah, seraya menjalankan sistem dan perundangan yang bukan syariah Islam, pada dasarnya itulah imârah as-sufahâ`.

Lalu bagaimana cara menyikapi imâratu as-sufahâ` itu? Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya dalam hadis di atas: “Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka maka dia bukan golonganku, aku bukan pun bagian dari golongannya dan dia tidak masuk ke telagaku (di surga). Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka maka dia termasuk golonganku, aku pun termasuk golongannya dan dia akan masuk ke telagaku (di surga)…” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Dalam hadis di atas, Rasulullah saw. mengajari kita agar tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka. Membenarkan jelas tingkatannya di bawah menaati. Jika membenarkan kebohongan mereka saja dilarang, apalagi menaati dan membantu kezaliman mereka; apalagi memberikan justifikasi, pembenaran atau stempel atas kezaliman mereka.

Saat ini masyarakat tahunya memilih pemimpin hanya dari pilihan yang ada yaitu pemilu dalam sistem demokrasi, padahal ada pilihan lain yaitu dakwah fikriyyah Islam mengikuti metoda Rasulullah SAW dalam mengangkat pemimpin. Kurang lebih 13 tahun Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabar membina pemikiran ummat, merubah mindset sistem jahiliyah dengan sistem Islam. Rasul hanya dakwah pemikiran dan perjuangan politik mengontak ahlul quwwah, pemilik kekuatan (kepala suku) agar mendukung tegaknya kekuasaan Islam.

Maka hasilnya adalah mendapatkan dukungan ummat yang sudah tercerahkan (kaum Muhajirin) dan dukungan penuh ahlul quwwah yang sudah tercerahkan dengan sistem Islam (kaum Anshor). Rasulullah SAW pun menegakkan kekuasaan Islam di Madinah, bersama orang-orang yang sudah yakin dan ingin diatur oleh Islam, tanpa harus berkoalisi dengan kelompok jahiliyah. Kekuasaan Islam itu kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan kekhilafahan berikutnya.

Sistem demokrasi tidak sesuai dengan Islam, karena secara asas berbeda sekali. Karena itu tidak boleh didukung, tetapi harus diedukasi bahwa ada sistem Islam yang jauh lebih baik. Golput adalah sikap yang menjauhi politik, tidak peduli dengan urusan kepemimpinan. Kita adalah Gol-Is, yaitu golongan Islam yang memilih melalui cara Islam, mengikuti metode dakwah Rasulullah di luar sistem.

Dalam sesi tanya jawab, ustadz Deden Kadarisman dari DKM al-Hijri Ciomas Permai menanyakan bagaimana metode pendidikan Islam kaffah dapat diterapkan di masyarakat dan pemerintahan dapat dikelola oleh orang Islam sejati ?

KH. Harun menjelaskan bahwa materi Islam Kaffah dapat diberikan kepada sekolah-sekolah yang ada melalui kerjasama dakwah sehingga diharapkan memperkaya kurikulum pendidikan yang masih sangat kurang terhadap pelajaran agama.

Cara lain adalah mengikuti kajian rutin pekanan atau bulanan dengan materi Islam kaffah secara sistematis, yang kemudian disebarkan ke masyarakat. Sehingga diharapkan akan terbentuk opini umum, bahwa masyarakat secara sadar menginginkan sistem Islam secara damai dan meninggalkan sistem demokrasi tanpa kekerasan sebagaimana metode dakwah Nabi.

Kemudian ustadz Taryadi dari Jabaru menanyakan tentang resiko dakwah yang dihadapi ketika masyarakat merespon materi pengajian. KH. Harun menjelaskan ketika dakwah mendapatkan respon dari masyarakat karena ada yang tersinggung, maka itu sudah sunnatullah sebagaimana dahulu ketika Nabi berdakwah di Makkah, kaum Quraisy tersinggung dan marah ketika nabi menyerang pemikiran jahiliyah mereka.

Saat ini sistem demokrasi yang harus dijelaskan kekeliruannya. Tim dakwah insya Allah terus menjalin kontak dengan para asatidz, tokoh masyarakat, aparatur pemerintahan, karena mereka semua adalah muslim yang perlu untuk dikuatkan pemahamannya terhadap Islam Kaffah sebagai rahmat bagi semua.

Selanjutnya ustadz Tirta dari Altari, menyampaikan bahwa hukum saat ini tidak tegak, kebenaran tidak nampak. Bagaimana caranya menegakkan hukum berkeadilan yang baik? Ustadz Harun menjawab bahwa harus dilihat dulu apakah hukumnya sudah benar atau belum? Kebenaran ini berdasarkan kepada al-Qur’an dan Hadits. Jadi keadilan itu adalah berdasarkan kepada sumber hukum Islam, dimana tidak pandang bulu dan hukum yang diterapkan adalah hukum Islam.

Caranya adalah dengan terus mengedukasi masyarakat, tokoh, pejabat negara dan berbagai kalangan dengan pemikiran Islam kaffah, agar serangan pemikiran dari Barat yang saat ini mendominasi masyarakat dapat diganti dengan ideologi Islam. Termasuk demokrasi ini berbeda banyak dengan Islam. Dalam demokrasi memusyawarahkan hukum, sementara dalam Islam menerapkan hukum. Musyawarah dalam Islam adalah sunnah, tidak wajib. Dalam demokrasi yang berdaulat adalah manusia, sedangkan dalam Islam yang berdaulat adalah Allah.

Ada titipan pertanyaan dari ustadz Edi Bukit Asri, sampai kapan menunggu orang yang tepat sesuai dengan dalil syara yang sudah dijelaskan ? Dan bagaimana langkah strategis untuk mensikapi rintangan dakwah yang ada? Sebagai contoh persekusi pengajian Ustadz Felix Siauw di masjid Al-Ikhlas Bukit Asri yang tidak jadi sehingga dipindahkan ke masjid yang lain.

Dalam testimoni, ustadz Edi dari Bukit Asri menyampaikan bahwa acara ini sangat bagus, menjadi ibroh dan penyemangat dalam berdakwah. Insya Allah sami’na wa atho’na. Sementara Ustadz Endang dari Jabaru menyatakan kegembiraannya karena majelis ini penuh dengan ilmu yang bermanfaat untuk menjadi bekal dalam berdakwah ke masyarakat.

Terakhir ustadz Yoyo dari Pondok Kencana menyatakan bahwa majelis ini sangat bermanfaat meningkatkan iman dan Islan serta ingin terus mengikuti perkembangan di majelis.

KH. Adhi Maretnas menutup dengan doa agar Allah menyempurnakan barokahNya, menyempurnakan amal-amal kita semua dan dapat membuka pintu arasy untuk mendengar doa-doa kita, kaum Muslimin seluruh dunia yang tidak pernah berhenti untuk mengharapkan segera kembalinya kemuliaan Islam yang dijanjikan dan kita masih diberi umur unuk menyaksikan kemuliaan Islam tersebut.[]