kajian islam kaffah ciomas

Majelis Islam Kaffah Ciomas: “Saat ini Umat Islam Memerlukan Pemimpin yang Mampu Melindungi Kaum Muslimin”

Ahad 7 April 2019, bertempat di Musholla al-Muhajirin Bukit Asri Ciomas, Kabupaten Bogor, telah berlangsung acara KAJIAN ISLAM KAFFAH Edisi ke-04, dengan tema: “Merindukan Negarawan Sejati” bersama Ustadz Adilin Ibnu Husein yang diikuti para asatidz dari Kecamatan Ciomas dan sekitarnya.

Acara ini merupakan kajian rutin bulanan yang diselenggarakan oleh Majelis Islam Kaffah, Ciomas, Bogor, pimpinan Ustadz Yusdian Syahwani.

Hadir sebagai shohibul makan adalah ustadz Yunan Abu Hilmi, dan dewan pembina Majelis Islam Kaffah : Ustadz Ikhwanul Hakim. Acara diawali dengan hadroh, pembacaan shalawat Nabi dan tilawah Qur’an.

Ustadz Yusdian mengapresiasi asatidz yang hadir sebagai wujud silah ukhuwwah dan upaya untuk meningkatkan pemahaman Islam yang kaffah. Insya Allah keberkahan akan dilimpahkan kepada mereka yang istiqomah di jalan dakwah. Kajian Islam Kaffah ini difokuskan kepada fikih siyasah, karena di Majelis yang lain sudah banyak membicarakan topik yang berbeda.

Sedangkan Ustadz Yunan dalam sambutannya menyatakan bahwa acara kajian ini akan terus berlangsung terus sebagai bagian dari dakwah mengajak para asatidz untuk bersama-sama memperjuangkan tegaknya Syariat Islam dan berdirinya Khilafah di muka bumi.

Panitia memutarkan video multimedia yang membahas tragedi pembunuhan massal kaum Muslimin di Selandia Baru beberapa waktu yang lalu.

Ustadz Ikhwanul Hakim memberikan pernyataan bahwa ummat Islam memang memerlukan pemimpin yang sejati, yang mampu melindungi keselamatan kaum Muslimin dari musuh-musuh Islam.

Sebagaimana kaidah ushul fikih menyatakan bahwa sesungguhnya Imam itu adalah perisai, dimana kaum Muslimin berlindung dengannya.

Sementara itu Ustadz Syamsudin mengutuk tragedi pembunuhan tersebut, dan hal ini terjadi karena tidak diterapkannya Syariat Islam secara kaffah.

Masuk ke acara inti, Ustadz Adilin menguraikan siapa yang dimaksud dengan negarawan itu? NEGARAWAN adalah seseorang yang ahli dalam kenegaraan Islam; ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan) Islam; pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara (berdasarkan syariah Islam) dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan. [Kamus Besar Bahasa Indonesia].

Wibawa bisa hilang jika tidak konsisten dan suka mengeluh di depan rakyat.Sedangkan pandangan jauh ke depan itu adalah siap bertanggung jawab di akhirat ketika dihisab oleh Allah SWT.

Karena itu maka tidak aneh jika seorang Negarawan adalah seorang politisi tetapi seorang politisi bukan negarawan. Negarawan menggunakan politik untuk kepentingan bangsa dan negara sedangkan politisi menggunakan politik untuk kepentingan menang dan kalah (pragmatis). Dalam Islam keduanya bersatu.

Dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata :

لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها الا في الامام

“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroq).

Kita harus memperhatikan pentingnya pemilihan sistem pemerintahan yang baik. Ada sistem Islam, ada sistem kapitalisme dan ada sistem sosialisme yang berbasis kepada ideologinya.

Inilah yang dapat membangkitkan bangsa Amerika, bangsa Rusia dan Kaum Muslimin, ketika mereka memilih sistem pemerintahan yang sesuai dengan ideologinya masing-masing. Maka menjadi pertanyaan di Indonesia ini menerapkan yang mana? SIstem yang digunakan adalah campuran, sehingga ideologinya tidak jelas.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan,

عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 7144  dan Muslim no. 1839).Sedemikian pentingnya seorang pemimpin dalam Islam, sampai Nabi mengatakan: “Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855)Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali Rahimahullah berkata:

فإن الدنيا مزرعة الآخرة، ولا يتم الدين إلا بالدنيا. والملك والدين توأمان؛ فالدين أصل والسلطان حارس، وما لا أصل له فمهدوم، وما لا حارس له فضائع، ولا يتم الملك والضبط إلا بالسلطان

“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.” (Imam Al Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, 1/17. Mawqi’ Al Warraq)

Bagi seorang muslim Rasulullah adalah suri tauladan. Termasuk dalam hal mengurus negara. Dalam Islam, negarawan sejati, ideal dan terbesar sepanjang sejarah tentu Rasulullah Muhammad Saw. Hanya dalam waktu 23 tahun, beliau telah menghasilkan tiga karya besar yang belum pernah dicapai oleh pemimpin manapun di seluruh dunia.

Tiga karya besar tersebut adalah: Pertama, tawhidulLah (mengesakan Allah SWT). Nabi Muhammad saw telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semula mempercayai banyak Tuhan (polytheisme) menjadi bangsa yang bertauhid. Hanya meyakini satu Tuhan, yakni Allah SWT.

Kedua, tawhidul–ummah (menyatukan umat). Nabi Muhammad Saw telah berhasil menjadikan bangsa Arab—yang semula terpecah-belah, sering bermusuhan dan banyak terlibat peperangan antarsuku dan antarkabilah—menjadi bangsa yang bersatu-padu dalam satu ikatan akidah Islam.

Ketiga, tawhidul-hukumah (menyatukan negara/pemerintahan). Nabi Muhammad Saw. telah berhasil menyatukan kepemimpinan bangsa Arab—yang sebelumnya terpecah-belah dalam banyak kepemimpinan suku/ kabilah dan kerajaan-kerajaan kecil—di dalam satu pemerintahan Islam (Daulah Islam) yang kekuasaannya meliputi seluruh Jazirah Arab dan sekitarnya.

Keberhasilan Rasulullah Muhammad Saw sebagai negarawan tentu tidak lepas dari peran yang dimainkan oleh beliau. Menurut Imam al-Qarrafi (684 H) dalam salah satu karyanya, Anwar al-Buruq fi Anwa’i al-Furuq, setidaknya ada tiga peranan yang dilakukan secara bersamaan oleh Nabi Muhammad Saw yaitu: (1) Peran sebagai pengemban risalah Islam (pemimpin umat); (2) Peran sebagai kepala negara (pemimpin rakyat); (3) Peran sebagai qadhi (hakim) atas setiap sengketa yang terjadi di tengah-tengah warga negara.

Setelah Rasulullah Saw, juga Khalifah Abu Bakar ra, salah satu negarawan sejati adalah Khalifah Umar ra. Beliau adalah salah seorang Khalifah yang benar-benar mencintai rakyatnya.

Beliau, antara lain, terkenal dengan kata-katanya, “Kalau aku banyak istirahat pada siang hari, berarti aku menelantarkan rakyatku. Jika aku banyak tidur pada malam hari, berarti aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam).” (Ahmad bin Hanbal, Az-Zuhd, hlm. 152).

Dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah disebutkan bahwa pada masa paceklik dan banyak rakyat kesulitan, Khalifah Umar ra. rela hanya makan roti kering yang dilumuri minyak hingga kulitnya berubah menjadi hitam. Saat itu beliau pernah berkata, “Akulah sejelek-jelek kepala negara jika aku kenyang, sementara rakyatku kelaparan .”

Begitu besar tanggung jawab Khalifah Umar ra kepada rakyatnya, beliau pun pernah berkata, “Jika ada seekor unta mati karena disia-siakan, tidak terurus, aku takut Allah memintai pertangungjawabanku atas hal itu.” (Ibnu Saad, Ath-Thabaqat, 3/305; Ibnu Abi Syaibah, Al- Mushannaf, 7/99)

Kenegarawanan Khalifah Umar juga tampak nyata dalam kisah yang dituturkan oleh Abdullah bin Abbas ra. Kata Ibnu Abbas, “Setiap kali usai shalat, Khalifah Umar senantiasa duduk bersama rakyatnya. Siapa saja yang mengadukan suatu keperluan, ia segera meneliti keadaannya. Ia terbiasa duduk sehabis shalat subuh hingga matahari mulai naik, memperhatikan keperluan rakyatnya. Setelah itu baru ia kembali ke rumah.” (Ibnu Saad, Ath-Thabaqat, 3/288; Tarikh ath-Thabari, 2/565)

Selain itu, sebagai manusia biasa, tentu Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. menyadari bahwa ia sangat mungkin banyak berbuat salah. Karena itulah beliau adalah pemimpin yang tidak pernah anti kritik. Imam as-Suyuthi dalam kitab tafsirnya, Ad-Durrul Mantsûr fî Tafsîril Ma’tsûr, saat menjelaskan Surat an-Nisa’ ayat 20 menyinggung kisah tentang bagaimana Khalifah Umar ra berlapang dada saat dikritik oleh seorang perempuan Muslimah karena kebijakannya—yang membatasi jumlah mahar—dinilai keliru.

Dalam sesi tanya jawab, ustadz Syamsudin, menambahkan bahwa keteladanan Rasulullah sebagai negarawan itu ada pada sifat amanah, adil, dan cerdas.Ini yang perlu dimiliki oleh pemimpin negara. Ustadz Adilin setuju, bahwa faktor kecerdasan ada yang diberikan oleh Allah dan ada yang dapat diusahakan dengan menimba ilmu.

Berikutnya ustadz Endang dari Jabaru, menanyakan sehubungan dengan adanya ulama besar menjadi calon pemimpin negara, bagaimana mensikapinya? Dijawab oleh ustadz Adilin perlu shalat istikhoroh, dan lihat faktanya. Jika dia menjadi wakil, maka posisinya tidak strategis karena hanya sebagai protokoler saja, tidak terlalu bermanfaat bagi ummat. Malah jika ulama itu dibawah umaro yang buruk, maka menjadi legitimasi kezhaliman yang akan terjadi. Sehingga kesimpulannya lebih banyak mudhorotnya.

Sementara Ustadz Sata dari Cilubang, menyatakan jangan sampai terjadi “bubuntutan”, yaitu hidup seperti rongsokan dan perlu didaur ulang.

Bagaimana caranya agar hal itu tidak terjadi ? Ustadz Adilin menjelaskan bahwa Fudhail bin ‘Iyadh dahulunya adalah seorang preman yang sering berzina. Ketika suatu saat beliau mendengar seseorang yang sedang membaca al-Qur’an yang mengingatkan apakah belum saatnya engkau kembali mengingat ayat-ayat Allah?

Maka seketika itu hidayah datang kepada Beliau dan langsung taubat nasuha, belajar di majlis ilmu dan akhirnya menjadi seorang Ulama besar. Maka tips untuk berubah adalah lihat akhlaq calon gurunya dan belajarlah materi Islam yang kaffah.

Ustadz Yusdian menambahkan bahwa hendaknya ummat Islam jangan mau terus menjadi objek (maf’ul), tetapi harus berubah menjadi subjek (fa’il), karena yang membedakan adalah bahwa sebagai subjek memiliki tujuan, sedangkan sebagai objek tidak memiliki tujuan.

Dalam sesi penutup, beberapa asatidz menyampaikan testimoninya. Pertama, ustadz Mpul dari Cilubang menyatakan semoga kita mendapatkan berkah ilmu dengan berkumpulnya para guru dan Ulama. Meskipun masyarakat masih melihat ukuran harta yang dipandang lebih berharga daripada ilmu, tetapi itulah tantangan dakwahnya untuk para asatidz.

Kedua, Ustadz H. Badrin dari Jabaru, sebagai mantan pimpinan NU Kota Bogor, menyatakan tidak mau mengikuti kepemimpinan Kyai Said Agil Siradj (Ketua PBNU) yang dianggap melenceng. Beliau menyarankan agar Majelis Islam Kaffah ini dapat dikembangkan lagi kepada bentuk lembaga pendidikan agama yang dapat fokus membina para remaja.

Pemerintah sekarang memang terbukti banyak berbohong, dan mengecilkan pendidikan Islam di masyarakat, sehingga banyak madrasah yang ditutup karena jam sekolah SD dan SMP negeri diperpanjang sampai sore dari semula siang.

Beliau pernah menentang pembentukan Ulama Kamtibmas yang diinisiasi oleh Kapolresta Kota Bogor atas arahan Kapolda Jawa Barat, karena Ulama itu bukan hansip yang mengawasi masyarakat. Akhirnya Ulama Kamtibmas dibatalkan.

Intinya beliau menegaskan jangan takut mengatakan kebenaran dan harus berani mengatakan yang salah kepada pemerintah, termasuk kepada polisi dan militer. Beliau mencontohkan sikap tegas Anies Baswedan pada saat menjabat Kemendiknas, berani menolak perintah Presiden yang memperpanjang waktu belajar sekolah sampai sore, sehingga imbasnya adalah banyak madrasah yang tutup. Yang ngaji jadi berkurang.

Ustadz Matin dari Babakan menutup dengan doa memohon keberkahan dari Allah agar kaum Muslimin mendapatkan kembali pemimpin yang adil sehingga seluruh hukum-hukum Allah dapat diterapkan secara kaffah.[]