as di suriah

Klaim Sektarianisme dan Metode Keji AS di Suriah

Oleh: Ilham Efendi – Dir. RIC (Resist Invasion Center)

Luka Suriah belum pulih. Intervensi AS masih dominan yang pada kenyataannya adalah mencerminkan sikap pemerintahan imperialis AS dan kerapuhan pandangannya terhadap apa yang terjadi di Suriah. Sementara AS merekayasa kebohongan dan menyebarkannya orientasinya untuk merealisasikan tujuannya dalam memasarkan opini umum Amerika dengan berbagai arahan yang diusulkan oleh orang-orang berpengaruh dan pemimpin politik.

Amerika sangat sadar bahwa hakikat dari revolusi Syam adalah revolusi umat Islam, yakni revolusi ini merupakan garda depan revolusi umat Islam terhadap keberadaan rezim-rezim pro AS dan Inggris dan dominasi negara-negara imperialis Barat. Dimana tujuan dari revolusi umat Islam ini adalah menggulingkan semua rezim, penyanggah dan komponennya, yang dianggap sebagai sistem pengkhianat, yang mencerminkan wajah buruk karena ketergantungan pemikiran dan politik kepada Barat, khususnya Amerika, dan kemudian masyarakat Surah berencana menggantinya dengan negara Islam di atas reruntuhannya.

Tampak jelas sejak awal Amerika telah memeranginya. Namun, karena kegagalan konspirasi yang dilakukannya dalam menyesatkan revolusi dan memalingkannya, maka jadilah kekuatan imperialis mencari metode lain, yang dengannya berusaha memprovokasi masyarakat Internasional dan warga lokal Suriah untuk melawan revolusi, serta membuat sejumlah dalih untuk memeranginya, dan memperkuat posisi pengkhianat baru yang bekerja pada Amerika, agar mereka menjadi wajah lain bagi rezim Baath yang telah berlumuran kasus kriminal.

Klaim sektarianisme tersebut masuk dalam metode keji dan kotor tersebut. Itulah yang selalu digemakan oleh para pejabat Barat dan antek-anteknya dari para mediator internasional. Padahal mereka tahu bahwa peran Qatar dan Arab Saudi yang sebenarnya dalam pembelian keamanan adalah demi membersihkan revolusi dari Islam, dan bukan sebaliknya. Begitu juga dengan peran Turki yang berjalan seiring dengan Amerika dalam upaya mengisi oposisi politik dari luar negeri dan mendukungnya agar ia menjadi wakil kaum sekuler yang sah bagi rakyat Suriah, meskipun sebagian tokohnya memakai pakaian keagamaan, sehingga keberadaan mereka layaknya seperti serigala berbulu domba.

Jika membahas dukungan Iran, maka itu adalah peran yang ditugaskan Amerika era Obama kepada Iran untuk mengokohkan rezim Assad, dan membantunya dalam bentuk finansial dan militer. Amerika benar-benar mengeksploitasi percikan api sektarian untuk memuluskan kepentingannya dengan mendukung anteknya di Damaskus. Hal ini sama seperti yang ditugaskan Amerika kepada negara-negara lain, semisal Mesir, Turki dan negara-negara di kawasan Timur Tengah lainnya, yaitu peran politik penuh dosa, yang semuanya digunakan untuk upaya mengaborsi revolusi, dan membersihkannya dari gerakan Islam, yang nafasnya adalah Lâ Ilâha Illallâh. Ya, AS terus menancapkan pemikiran sektarian, dan inilah asas dari asas-asas imperialisme Barat. Merekalah pemilik teori politik pecah belah atau politik adu domba. []