Si Putih kembali selamat di Banjarmasin, dan disambut bentangan spanduk, kamis (06 Des 18)

Kembalinya Si Putih, Semoga Jadi Pemberat Pahala di Akhirat

Mediaumat.news – Berdebu dan penuh bercak lumpur, begitulah kondisi si putih, yakni Mobil Mitsubishi Xpander, usai kembali dengan selamat di Pelabuhan Trisakti, Kamis (06/12/18).

Pemilik mobil, Yadi Setiadi, bersama Hidayatul Akbar, ketua rombongan Mujahid 212 Kalimantan Selatan (Kalsel), sumringah melihat pulangnya angkutan utama rombongan, saat pulang pergi Surabaya Jakarta, dalam waktu 3 hari.

Si putih harus telat dua hari balik ke Banjarmasin, karena mesti menumpang kapal laut via jasa expedisi. Sedangkan rombongan telah tiba sebelumnya menggunakan pesawat terbang.

Setidaknya perjalanan panjang tersebut sangat mengesankan bagi pemilik mobil, Yadi Setiadi, dibandingkan berangkat ke Jakarta via udara, pada aksi 212 tahun 2016.

Karena ia merasakan besarnya perjuangan yang dilewati, ditambah kuatnya rasa siar Islam di sepanjang perjalanan. Terbukti dengan viralnya bentangan foto bendera Tauhid, di atas Kapal Motor Niki Barokah yang mereka tumpangi, Jumat (30/11/18).

“Kalau dilihat dari sisi siarnya, terbilang lebih bagus berangkat menggunakan mobil. Tapi kedepannya kalau bisa tidak satu, melainkan dua atau lebih, untuk konvoi dari Surabaya ke Jakarta di tahun depan. Hitung-hitung semakin banyak maka akan semakin hemat,” jelas Yadi yang merasa tidak jera melakukan perjalanan jauh nan melelahkan.

Ya memang terbilang berat, karena jarak yang ditempuh bisa tembus 2.000 kilo meter, dengan biaya tol hingga Rp850 ribu, dan penggunaan bahan bakar mesin sekitar Rp2.100.000,-. Belum lagi uang makan dan minum di setiap singgah peristirahatan.

Sedangkan penumpangnya, ada 7 orang, dengan sebagian personil berbeda ketika balik ke Surabaya lagi dari Jakarta. Karena ada yang langsung pulang via pesawat terbang.

“Ya jelas, selain faktor biaya, pengen juga merasakan suasana perjuangan, karena tentu akan menghadapi tantangan berbeda kalau lewat pesawat, meski harus menempuh waktu yang lama, biaya, dan cukup menguras tenaga kita,” urai Hidayatul Akbar, saat menjelaskan kenapa nekat menggunakan mobil pribadi ke Reuni 212 tahun 2018.

Hidayatul Akbar menambahkan, bahwa semua rombongan termotivasi kuat mengikuti acara besar tersebut, sebagai bentuk dukungan, terhadap upaya persatuan Umat Islam, yang diharapkan nantinya benar-benar bersatu, dalam institusi yang menerapkan syariat Islam secara totalitas.

“Apapun yang kita lakukan, sekecil apapun yang kita berikan, apalagi dengan mobil ini, mudahan menjadi pahala, dan saksi di akhirat nanti, sebagai bagian perjuangan persatuan umat Islam, dalam institusi yang akan menerapkan syariah Islam,” harap Hidayatul Akbar.[]