abu bakar baasyir gak jadi bebas

Jubir HTI: Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Layak Dibebaskan

Mediaumat.news- Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menyatakan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir layak dibebaskan.

“Sehingga bukan hanya sudah layak untuk dibebaskan (karena sudah menjalani 2/3 dari total hukuman) dan bahkan semestinya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir itu tidak layak untuk mendapatkan hukuman,” ujarnya dalam akun Youtube  Fokus Khilafah Channel, Jumat (25/1/2019).

Karena, menurut Ismail, Ba’asyir itu sebenarnya korban dari aktorisme narasi. Karena di pengadilan, hakim tidak bisa membuktikan Ba’asyir itu terlibat terorisme atau pelatihan militer di Jalin Janto (Aceh), baik dalam tuduhan primer maupun sekundernya.

Sehingga, pembatalan pembebasan dengan dalih tidak setia pada negara lantaran Ba’asyir menegaskan kesetiannya hanya pada Islam, rezim Jokowi dianggap telah melakukan dikotomi yang kontradiktif.

“Ini justru yang menjadi poinnya. Jadi selalu ada semacam dikotomi yang kontradiktif bahwa siapa yang mengatakan setia kepada Islam itu seolah-olah tidak setia kepada negara ini. Atau bahkan sekarang ini ada narasi yang lebih gawat, mereka yang setia terhadap Islam itu dicap radikal dan radikal itu akan mengancam negara ini,” ujarnya.

Menurut Ismail, hal itu merupakan kondisi sosial politik yang sangat buruk yang alih-alih bisa menyelesaikan berbagai masalah dan kemudian menciptakan kohesi sosial politik di tengah masyarakat, yang terjadi justru memunculkan fragmentasi dan keretakan.

Jadi, lanjut Ismail, kalau mereka sebut bahwa orang seperti Ba’asyir radikal, sebenarnya sekarang ini ada sejenis radikal baru yaitu pihak-pihak yang mengatakan bahwa yang setia pada Islam itu tidak setia kepada negara ini.

“Ini merupakan sejenis radikal baru yang kebetulan berkuasa lalu men-judge pihak lain (yang setia pada Islam) sebagai tidak setia kepada negara,” ungkapnya.

Menurut Ismail radikal baru ini bagian dari Islamophobia sehingga Islam dicurigai. Lalu legitimasinya dengan narasi-narasi tadi itu: radikalisme, termasuk juga terorisme. Lalu harus ada aktornya. Dan Ba’asyir dijadikan korban aktorismenya.[] Joko Prasetyo