Jangan Hanya Hijrah Individual, Ayo Hijrah Peradaban!

Tabligh Akbar Peringatan Tahun Baru 1440 H di Yogyakarta

Mediaumat.news – Perjalanan dakwah Islam di Indonesia, atas ijin Allah kini mulai nampak hasilnya. Ghirah umat Islam di Indonesia makin meninggi. Istilah hijrah makin popular dengan munculnya individu-individu muslim berpengaruh yang memproklamirkannya. Yakni mereka yang mulanya hidup jauh dari Islam, menerima dakwah, mendapat pencerahan, dan berubah. “Hijrah individual”, begitu kurang lebih yang disampaikan ustadz Nopriadi, Ph.D sebagai pembicara kedua pada Tabligh Akbar Hijrah Menuju Islam Kaaffah, Selasa pagi (11/9).

Salah satu indikator tingginya ghirah umat Islam adalah ramainya majelis-majelis ilmu. Pemandangan ini dijumpai nyaris merata di seluruh wilayah di Indonesia. Tidak terkecuali tabligh akbar yang diselenggarakan di Pondok Pesantren At-Tasniim, Sleman, Yogyakarta ini. Dengan venue outdoor yang unik, berdiri di atasnya banyak pendopo, tidak satupun yang kemudian tidak dipenuhi jama’ah. Alhamdulillah.

Tampil sebagai pembicara pertama adalah tokoh senior di Yogyakarta, Ketua FUT DIY, ustadz Drs. H. Nasrudin Salim, SH. MH. Beliau memaparkan sepenggal kisah dalam sirah Nabi Muhammad SAW seputar peristiwa hijrah. Betapa kuat tekanan dan ancaman dari musuh-musuh Islam sebelum peristiwa agung tersebut. Kisah yang banyak sekali pelajaran bisa dipetik darinya, bagaimana keteladanan yang dicontohkan Nabi dan para Shahabat ketika menghadapi masa-masa sulit dalam dakwah di Makkah saat itu.

Ustadz Iful Fitrah al-Kendari, mudir PP At-Tasniim, pada pemaparannya sebagai pembicara terakhir menyambung dengan penjelasan bagaimana kemudian peristiwa hijrah adalah jawaban dari Allah SWT atas doa-doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Nabi SAW, “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’” (Q.S. Al-Israa: 80)

Pada kenyataannya memang terbukti betapa hijrah adalah momentum bagi tegaknya peradaban Islam. “Tidak sampai 100 tahun, di bawah kepemimpinan Khalifah Umar ra., umat Islam mampu membangun peradaban yang luas kekuasaannya begitu besar hingga melebihi luas kekuasaan peradaban Romawi yang dibangun lebih dari 1000 tahun.” Papar ustadz Nopriadi. Oleh karena itu beliau mengajak, istilah hijrah yang populer dengan hijrah pribadi, dimaknai lebih jauh dengan visioner, mengarah pada perjuangan untuk hijrah peradaban.

Terakhir ustadz Iful menguatkan ajakan ini, “Bahwasanya agama ini adalah amanah yang kita terima, padahal langit, bumi, dan gunung pun tak mampu memikulnya.” Tegasnya. Amanah itu adalah Islam sebagai Ad-Dien yang kaaffah, seluruh hukum-hukum dan kewajiban-kewajibannya. Oleh karena itu, pihak penolak dan penghalang syariat sejatinya sama dengan mengkhianati amanah. Dan khianat adalah salah satu tanda kemunafikan. Naudzubillah, tsumma naudzubillah.[]