Majelis Ta’lim Annahdlah

Isu Radikalisme: Nyanyian Orang-orang Kafir dan Antek Mereka

Majelis Ta’lim Annahdlah menggelar acara “Ngobrol Pemikiran Islam (Ngopi), Amalkan Syariat Islam Kaffah” yang bertajuk “Radikal dan Ikhlas, Antara Stigma Jahat dan Perintah Agama” dilaksanakan pada pukul 20.30 bertempat di Markaz Annahdlah – Bandar lampung, Jum’at (2/8/2019).

“Alhamdulillah perjuangan kita semakin menuju kemenangan, peluru musuh sudah mulai tumpul karena narasi usang radikalisme mereka umbar-umbar kembali”, buka Kyai Bustomi Al-Jawy mengawali acara ngopi kali ini.

Narasi berulang dengan menyematkan gelar radikal yang sebelumnya teroris kepada para pejuang Islam yang ingin menegakkan kembali Khilafah. Mungkin dahulu saat pertama kali keluar dari mesin propaganda mereka, umat merasa inferior, merasa tertuduh, dan merasa takut untuk menyuarakan keagungan Khilafah. Tapi kini umat semakin paham bahwa khilafah ajaran ahlus sunnah wal jamaah, warisan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin yang mengajari cara mengelola negara.

“ Hai musuh Islam, umat ini tidak bodoh seperti yang kamu kira, sematan radikal tidak akan mempan, karena memang umat Islam harus radikal, karena radikal itu berasal dari kata radics yang bermakna akar, sehingga orang yang radikal itu adalah orang yang berpikir secara mendalam sampai keakar-akarnya“, tegas beliau.

Kemudian beliau melanjutkan bukankah baik jika kita radikal? Berpikir pada akar permasalahan agar solusi yang hakiki bisa dikemukakan, semakin dalam akar menghujam ke tanah, semakin kuat pohonnya, sehingga semakin mendasar kita mengetahui permasalahan ummat, maka semakin jernih dan cemerlang solusi yang akan dirumuskan.

“Memang para musuh Islam ini sengaja mengaburkan definisi sebenarnya dari radikal, dan jika kata itu ditambah -isme pengertiannya menjadi paham atau aliran yang radikal dalam politik, dan atau yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan, dan umat sudah tahu bahwa kekerasan adalah bukan metode Rasulullah SAW dalam mengubah struktur sosial dan politik. Jadi mereka itu menuduh siapa? menuduh diri sendiri kah?, “ ujar beliau.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa tuduhan teroris atau radikal (pengertian negatif, -red) itu hanya nyanyiannya orang-orang kafir dan munafik dan kita tidak perlu ikut menyambut nyanyiannya, dan secara tegas Islam tidak mengenal radikalisme seperti yang dituduhkan itu.

“Kembali lagi, kita sebagai umat Islam itu harus berpikir secara mendasar sampai ke akar-akarnya, umat Islam memang harus radikal, akan tetapi segala pemikiran dan metode perjuangan harus semata-mata karena Allah dan mengikuti Rasulullah SAW, “ pungkas beliau.

Acara diakhiri dengan pembacaan doa oleh Mang Erwan. Kemudian para jama’ah melanjutkan menikmati kopi yang telah tersedia dan foto bersama.[]

Telah terbit MU Edisi 219