Isu Radikalisme adalah Serangan Terhadap Islam

 Isu Radikalisme adalah Serangan Terhadap Islam

Kajian Islam Kaffah Edisi #06 di Masjid An Nur, Villa Ciomas Bogor Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah berjalan dengan baik dan sukses pada hari Ahad, 4 Agustus 2019 (03 Zulhijjah 1440 H).  Kajian yang merupakan kegiatan rutin tersebut dihadiri lebih dari 75 peserta yang terdiri dari para asatidz dan masyarakat dari Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor dan sekitarnya. Pembicara adalah Ustadz Adhi Maretnas dari Dewan Pembina Majelis Islam Kaffah, yang membahas tema “Islam itu Solusi Bukan Sumber Masalah”.

Ustadz Adhi Maretnas menyorot ulama yang melakukan hal-hal di luar kepatutan sebagai ulama. Ulama adalah warastul ambiya’. Misalnya, upaya sistematis untuk menyesatkan pemahaman publik terhadap islam dan ajaran Islam yang masuk kategori “ma’lumun min ad-dien bi adz-dzarurah. Misalnya upaya merubah makna jihad. Makna jihad yang artinya perang diubah menjadi makna yang lebih luas. Jika masih berpegang kepada makna perang maka dianggap sebagai “teroris”.

Kemudian rencana mengubah kurikulum di sekolah termasuk di pesantren sudah dilakukan oleh rezim. Fakta terbaru ketika ada kunjungan delegasi Uighur. Delegasi tersebut diterima dengan baik oleh MUI, tetapi kemudian terjadi keributan, sehingga Presiden Jokowi tidak mau menerima delegasi, meskipun sudah menunggu di istana.

Di sisi lain, terjadi perebutan kursi Ketua Umum MUI, karena Kyai Ma’ruf Amin akan segera resmi menjadi Wakil Presiden. Para kandidat mengusulkan agar bantuan kepada MUI harus diperbanyak. Ustadz Adhi menegaskan seharusnya dana untuk MUI itu dari ummat, bukan berharap dari penguasa. Dengan begitu kemandirian ulama di MUI terjaga. Bukan seperti sekarang, dimana banyak “pesanan” penguasa kepada MUI, khususnya ketika ada hajat pemilu.

Fakta bahwa mulai banyak masyarakat yang cinta kepada Islam, adalah hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ketika ummat Islam dijauhkan dari Islam, ternyata kecintaan mereka terhadap Islam semakin bertambah baik dan luar biasa. Hal ini dianggap menjadi ancaman bagi rezim, sehingga membuat mereka khawatir. Dalam sejarah memang ummat Islam yang sering membongkar kejahatan-kejahatan penguasa.

Fenomena munculnya istilah “radikalisme” mulai dibahas oleh DPR setelah Densus 88 mengusulkan revisi undang-undang untuk mengubah beberapa pasal. Terorisme diartikan melakukan kekerasan, tetapi muncul istilah baru yaitu “inspirator terorisme”, yaitu mereka yang memberi inspirasi kepada orang lain untuk berbuat kekerasan.

Alhamdulillah, ternyata pembahasan di DPR begitu alot, sehingga RUU Terorisme belum mendapatkan persetujuan DPR. Maka sekarang mereka mengubah namanya menjadi pasal “radikalisme”, yaitu upaya untuk menjerat teroris. Radikalisme adalah paham yang bercirikan antara lain menginginkan tegaknya agama dalam seluruh aspek kehidupan, yang ingin menerapkan agama dalam tataran negara, mereka yang menolak nasionalisme dan bertujuan unilateralisme, yaitu menginginkan tatanan dunia global.

Jelas ini membidik ummat Islam yang ingin tegaknya Islam kaffah. Ciri radikalisme ini lebih jauh dikembangkan oleh LIPI bidang kajian ilmu sosial, yaitu yang jidatnya hitam, yang pengajiannya membentuk lingkaran dalam lingkup kecil, tidak cinta kepada negara, menginginkan persatuan ummat Islam sedunia, berpaham penerapan Islam tidak parsial tetapi secara sempurna. Inilah artinya menganggap Islam sebagai problem bukan solusi. Sementara yang mendukung rezim, hanya menjadi stempel kezhaliman penguasa. Maka ISU RADIKALISME adalah UPAYA MENYUDUTKAN DAN MENGHALANGI KEBANGKITAN ISLAM.

Rasulullah Saw bersabda “al-Quranu hujjatul laka wa hujjatun ‘alaika”, al-Quran bisa dijadikan engkau hujjah, dan bisa dijadikan hujjah atas engkau. Alhasil, yang terjadi adalah pembolak-balikan ayat Qur’an sesuai keinginan, menggadaikan kemuliaan Ulama untuk urusan dunia. Padahal Rasulullah saw pernah mengingatkan ada suatu tempat di neraka jahanam, yaitu jumul husni (lembah kesedihan/mengerikan).

Di mana neraka meminta perlindungan kepada Allah dari tempat tersebut. Maka Rasululllah Saw bertanya kepada Allah, untuk siapa tempat tersebut? Maka Allah SWT menjawab untuk para pembaca ayat Qur’an, yakni para Ulama, para Asatidz yang mengetahui ajaran Islam tetapi digunakan untuk mencari kemuliaan duniawi semata, bekerjasama dengan penguasa yang ada untuk melindungi kejahatannya.

Allah SWT telah mengingatkan bahwa manusia sering memandang suatu perbuatan itu baik, padahal ia amat buruk dan sebaliknya mengatakan sesuatu itu buruk, padahal ia baik. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 216:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa Allah yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dan Allah SWT menceritakan memang hakikat kebaikan tidak bisa diketahui oleh manusia.

Apapun yang diberikan Allah untuk Manusia berupa SYARIAT-NYA PASTI BAIK, Baik bagi MANUSIA maupun untuk KEHIDUPAN.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. {Surat AL BAQARAH : 208}

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. {Surat Arum : 41}

Dalam sesi tanya jawab, tampil Ustadz Syamsudin, Ustadz Supaidjan dan Ustadz Matin menyampaikan pernyataan dan pertanyaan, yang intinya menginginkan perubahan mendasar bagi ummat Islam agar dapat meraih kemuliaan dan membuktikan bahwa Islam itu adalah solusi bukan masalah.

Khatimah
Ustadz Adhi Maretnas menyampaikan khatimah dalam 3 point penting sbb:
Gagasan untuk menghapus pelajaran dari sekolah jelas hanya akan menambah masalah dan menambah kerusakan. Isu radikalisme adalah upaya untuk menghalangi kebangkitan Islam dan hanya digunakan kepada Islam saja, tidak bagi yang lain.[]

Sumber: shautululama.co

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *