isra miraj mojokerto

Istighosah dan Peringatan Isra’ Mi’raj 1439 H Bersama Ulama Aswaja Jatim Wilayah Kasepuhan

Di pagi yang cerah ini, jalan raya Pungging – Ngoro tampak begitu heboh. Pasalnya sekitar 700 jamaah Kyai Heru Ilyasa’ memadati Warung Makan Kembangan yang terletak di desa Jasem Kec. Ngoro – Mojokerto.Hari ini Sabtu tepatnya tanggal 14 April 2018 diadakan pengajian dan istighosah dalam rangka “Peringatan Isra’ Mi’raj 1439 H”.

Yang unik dalam setiap pengajian yang diadakan oleh Kyai Heru adalah kehadiran para Ulama’, Kiyai dan Muhibbin-nya.

Tampak hadir beberapa Ulama dan Kiyai sepuh dari Mojokerto seperti Kiyai Joko Santoso dari PP Al Mukhlisin Wonoploso Gondang, Kiyai Masyhudi PP Basmallah Peterongan Bangsal, Kiyai Abdurrahman dari PP Al Anwar Balunglombok Puri, Kiyai Murjito, Abah Tamaji, Ust. Maslihan, Ust. Suhardi, juga hadir Kiyai Misbah Halimi dari PP. Hasyim Asy’ari Jombang, Kiyai Abdul Fatah dan Kiyai Ahmad Djauhari serta puluhan Kiyai turut hadir dalam acara tersebut.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 700 jamaah tersebut diawali dengan Istighosah bersama dan dilanjutkan dengan ceramah singkat oleh beberapa Ulama, Kiyai dan Ustadz.

Ceramah diawali oleh shohibul bait Kyai Heru Ilyasa yang menyampaikan bahwa Isra’ Mi’raj tidak bisa lepas dari perintah sholat. Ibadah sholat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar bagi individu dan masyarakat. Ibadah sholat yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar secara kolektif di masyarakat perlu aturan Undang-Undang oleh negara. Negara yang peraturannya selaras dengan aturan Allah itu adalah Negara Khilafah.

“Khilafah adalah ajaran Islam Agama Islam itu sudah diridhoi oleh Allah SWT. Jika negara ini bisa makmur maka aturan Allah lah yang harus diterapkan yakni Khilafah bukan aturan manusia yang aturannya seperti dagelan”, kata Kiyai Ahmad Jauhari.

Ketika ada khilafah, hukum-hukum Allah banyak diterapkan bahkan sedikit yang ditinggalkan. Namun, ketika tidak adanya Khilafah maka banyak hukum-hukum Allah banyak yang ditinggalkan bahkan banyak kerusakan dimana-mana.

“Setiap kerusakan yang terjadi di negeri ini disebabkan karena banyaknya kemaksiatan. Kemaksiatan itu terjadi karena banyaknya yang melanggar hukum Allah. Maka dari itu hanya Khilafah yang mampu memberikan mengatasi kerusakan-kerusakan”, kata Kyai Asmuin.

“Sesungguhnya kerusakan yang terjadi saat ini, banyak dipengaruhi oleh pemikiran sekulerisme yang memisahkan agama dengan kehidupan. Jika tidak ada khilafah, maka dunia ini akan merasakan kerusakan (al fasad) terus menerus”, kata Kyai Misbah Halimi.

Kyai Joko Santoso menyampaikan bahwa banyak para kyai dan para ustadz yang mengetahui syariah Islam. 13 abad Islam itu menguasai 2/3 dunia. Rahasianya hanyalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Kita umat Islam sedang tidur, yang mana ketika banyak SDA di Indonesia ini dikuasai oleh asing. Tatkala kita bangun, maka SDA kita akan habis. Inilah jika tidak adanya Khilafah.

Ceramah terakhir disampaikan oleh Kyai Ibnu Ali Tamam. Beliau menyampaikan kepada para Jamaah bahwa tugas kita semuanya sama dengan para Sahabat Rasulullah yakni memperjuangkan Khilafah. Karena saat ini tidak ada pemimpin yg taat sama Allah dan Rasulullah 100% sehingga negeri ini terus mengalami kehancuran.

Acara tersebut berakhir sekitar pukul 11:00 WIB yang ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Kiyai Maslihan. []