HTI dan Khilafah

Ibu Kita Khilafah

Oleh Kholda Najiyah

“Jangan Suriahkan Indonesia”
“Jangan Khilafahkan Indonesia”

Amboi. Siapa yang tidak takut dengan narasi di atas? Siapa yang tidak begidik membayangkan Indonesia akan pecah perang saudara seperti Suriah?

Itulah keberhasilan propaganda Barat dalam memonsterisasi ajaran Islam. Khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan yang baik, yang diwahyukan Allah Swt, dicap demikian mengerikan.

Khilafah dipersekusi. Difitnah bakal memecah-belah. Dituding membahayakan negeri. Dinista lebih buruk dibanding demokrasi.

Dipropagandakan, kalau Khilafah tegak, akan terjadi pertumpahan darah. Orang kafir akan dihabisi. Tidak akan ada toleransi. Tidak ada lagi kebebasan bagi umat agama lain.

Wanita-wanita akan ‘disembunyikan’ di rumah-rumah. Dilarang sekolah, berkarier, bertamasya, berkendara dan gambaran terkekang lainnya.

Sementara laki-laki harus berjenggot. Bergamis. Beristri banyak, dan ilustrasi buruk lainnya.

Belum lagi gambaran mengerikan pada para pelaku kriminal. Potong tangan. Hukum cambuk. Rajam. Qishosh. Tak terperi membayangkan.

Duhai. Itulah kejamnya labelisasi terhadap ajaran Islam. Umat Islam sendiri dibuat takut, phobi dan bahkan benci pada wahyu Ilahi. Jauh sebelum mau mempelajari agamanya sendiri. Penyakit yang sengaja didesain musuh-musuh Islam yang dahulu melenyapkan Islam.

Wahai umat, bukalah lembar sejarah.
Hari ini, 95 tahun silam. Persis 3 Maret 1924  Khilafah dihabisi. Dipenggal penjajah Inggris dan antek-anteknya. Menjadi korban politik pecah-belah.

Khilafah yang telah berjaya berabad-abad lamanya. Menaungi sekitar 2/3 dunia. Lalu dilenyapkan dari muka dunia. Diganti sistem sekular yang tidak bersumber dari wahyu ilahi. Apa yang terjadi?

Kekuatan Islam lumpuh total. Kesatuan umat terceraikan. Islam terlunta-lunta di hamparan bumi. Tanpa ibu yang mengayomi. Dipaksa hidup dalam asuhan demokrasi. Hasilnya sungguh tak terperi.

Palestina tak henti dizalimi. Irak diluluh-lantakkan. Syuriah dibelah. Rohingya diperkosa. Yaman diperang-saudarakan. Dunia Arab diliberalkan. Islam diradikalkan. Khilafah dimonsterisasi. Panji Rasul dipersekusi. Pejuangnya distigmatisasi.

Sungguh, umat rindu Khilafah. Rindu ibu kandung peradaban Islam. Yang dijanjikan Allah akan hidup kembali di akhir zaman. Maka, janganlah umat Islam merasa terancam oleh Khilafah, karena itulah ibu kita sebenarnya. Yang akan mengayomi umat Islam sedunia, bahkan umat manusia pada umumnya.

Tempat bernaung umat Islam menuju kejayaan hakiki. Khilafahlah pelindung darah dan martabat kaum Muslimin. Bukan Amerika, bukan pula Arab. Apalagi China, atau Korea. Bukan ideologi liberal, bukan komunisme. Apalagi anismisme dan dinamisme.

Ah, betapa asingnya umat dengan ajaran Islam. Saking lamanya ditinggal ibu kita Khilafah. Terlalu lama menelan racun propaganda Barat. Tentang gambaran Khilafah yang telah di-ISIS-kan sedemikian kejam. Khilafah dipropagandakan sebagai sistem doktrin yang mengerikan. Pedang. Perang. Penggal. Darah.

Umat pun terlanjur silau dengan topeng peradaban Barat. Yang tampil memesona dengan isu kebebasan. Padahal kebebasan itu menyesatkan. Mengapa? Karena membebaskan manusia dari ketaatan pada-Nya. Meliarkan insan hingga durhaka pada syariat Sang Pencipta.

Sungguh, jika ada gerakan dakwah yang selalu menyerukan Khilafah, sejatinya ia hanya mengembalikan
ajaran Islam yang terasingkan pada umat. Pemahaman tentang Khilafah yang sudah lebih dulu tertanam dalam benak-benak para pengemban dakwah.

Tsaqofah Islam yang menghunjamkan iman sekokoh karang. Menyapu bersih kerak-kerak pemahaman keliru tentang hakikat kehidupan. Menyingkirkan debu-debu ajaran sekular liberal yang bertentangan dengan ideologi Islam. Ajaran buatan manusia yang justru mengotori iman. Peninggalan penjajah yang notabene pemenggal ibu kandung mereka.

Tsaqofah Islamlah yang mencerabut akar pikiran batil, tentang manual hidup mana yang seharusnya diterapkan. Apakah aturan kitab tidak suci buatan segelintir manusia kuno Yunani, atau wahyu Sang Pencipta yang pasti pantas diberlakukan sepanjang masa? Kitab suci yang diejawantahkan dalam ayat-ayat konstitusi, untuk mengatur kehidupan di segala lini.

Inilah wajah Islam sejati. Bukan Islam Arab, bukan pula Islam Nusantara. Bukan Islam awam, bukan pula Islam radikal. Bukan Islam parsial, bukan Islam liberal. Cukup Islam sebagai ideologi. Islam kaffah. Ke-kaffah-an yang hanya terwujud dalam bingkai khilafah. Menyatukan umat dalam satu tubuh ukhuwah Islamiyah.

Islam harus mengembalikan Khilafah, agar Islam punya kuasa menerapkan ajaran Sang Pencipta. Hukum Allah Swt yang hanya bisa diterapkan di level negara.

Islam dalam wadah ideologi sekular liberal tidak sanggup menampilkan kehebatannya. Ibarat singa padang pasir yang dikerangkeng dalam jeruji penjara. Hanya mampu mengaum tiada daya.

Sungguh, Khilafah adalah  ajaran Islam pamungkas. Sistem yang akan membebaskan umat manusia dari kebebasan yang menyesatkan. Mengikat mereka dalam aturan yang menyelamatkan. Menyatukan umat dari berbagai suku, bangsa dan agama dalam kesatuan aturan-Nya.
.
Khilafah adalah puncak dari kesempurnaan dan kelengkapan Islam. Tiada Islam tanpa syariah. Tiada syariah tanpa Khilafah. Tiada Khilafah tanpa perjuangan. Tiada perjuangan selain menghidupkan kembali ibu kita Khilafah. Allahu Akbar![]

Telah terbit MU Edisi 219