Hijrah Dzahir dan Bathin, Kewajiban Kaum Muslimin

Mediaumat.news – Ratusan tokoh masyarakat, ustadz dan santri sekitar Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang antusias menghadiri acara Jalsah ‘Ammah dan Tabligh Akbar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah, Ahad (9/9/2018) di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Darul Bayan, Sumedang.

Pada pembukaan, kedatangan peserta disambut meriah oleh penampilan tim hadrah dari Ma’had Khairu Ummah Sumedang yang membuat peserta lebih semangat.

Acara yang bertemakan Meneladani Hijrah Nabi, dengan Meninggalkan Sistem Jahiliyah Menuju Penerapan Islam Kaffah diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan Maulid Barzanji  yang dibawakan oleh Ustadz Cucu dan santri Pondok Pesantren Darul Bayan.

Setelah itu Shahibul Majlis Jalsah Ustadz Jeni Anwar selaku Rais Majelis Nahdhatul Ummah Sumedang memberikan tawasul dan menyampaikan muqadimah seputar kisah singkat hijrahnya Rasulullah SAW.

Kesempatan pertama tabligh, Kiai Deni Fuad Amin, selaku Pimpinan Ponpes Nurul Mujahidin Sumedang membahas makna hijrah, yaitu berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.

Ia juga menyampaikan, belakangan waktu kata hijrah di Negeri ini makin populer. Mulai dari hijrah bisnis, artis hijrah, dan sebagainya merupakan fenomena hijrah yang terjadi yang kesemuanya itu tidaklah salah karena termasuk ke dalam hijrah bathin, yaitu meninggalkan hawa nafsu dari keburukan menuju kebaikan.

“Ini merupakan kewajiban bagi seluruh kaum Muslimin,” tegasnya.

Ustadz Ir. Acep Muhyiddin, selaku Mudir Ma’had Khairu Ummah Sumedang dalam tabligh yang kedua, memaknai hijrah saat ini tidak terlepas dari pertolongan Allah pada gerbang yang kedua, yaitu penegakan hukum Allah secara dzahir dalam naungan Khilafah dengan metode kenabian.

Menurutnya, hijrah tidak hanya dalam bentuk kesadaran pribadi saja akan pentingnya syariat Islam, namun hingga mampu memperjuangan syariah Islam lalu bisa tegak dalam naungan Khilafah Islam, sebagaimana makna hijrah dzahir yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW.

Tabligh yang terahir dibawakan oleh KH Ali Bayanullah, Al Hafidz, selaku pimpinan Ponpes Tahfidz Al-Qur’an Darul Bayan Sumedang. Ia menyampaikan bahwa Baginda Rasulullah SAW, pada awal mulanya berjuang tanpa kekuasaan, mengoreksi penguasa dzalim dan mengajak manusia untuk menegakkan kalimat tauhid. Karena siapapun yang tidak mau berhukum dengan hukum Allah maka sejatinya telah mengosongkan hatinya dari kalimat tauhid. Lalu fase dakwah Rasulullah SAW yang kedua yaitu berdakwah dengan kekuasaan setelah hijrah dari Makkah ke Madinah untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah.

“Saat ini, kita pun harus tetap berdoa dan memaksimalkan perjuangan kita dalam proses hijrah ini. Semoga semua keluarga kita bisa bersama-sama berjuang dan hijrah menuju kemenangan Allah yang sesungguhnya, menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islam, Allau Akbar!” tegasnya.

Acara ini ditutup dengan doa, mushafahah dan ramah tamah oleh seluruh pengisi dan peserta acara.[] AHH