Haram Pilih Pemimpin Dzalim, Wajib Tegakkan Khilafah

Puluhan ulama, tokoh dan asatidz dari beberapa kecamatan di timur Kab.Bandung berdiskusi tentang topik Kepemimpinan Dalam Islam di Kec.Solokanjeruk pada Ahad sore (20/01).

Pemateri utama adalah Dr. Tb. Chaeru Nugraha yang menerangkan bahwa inti dari politik adalah mengurusi masalah umat (ri’ayah syuunil ummah) baik dalam negeri maupun luar negeri, tentunya dengan menggunakan sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh.

Tegak berdirinya Khilafah harus tetap dengan adanya usaha kita meski sudah menjadi janji Allah dan bisyarah Rasulullah, termasuk disebutkan oleh para ulama. Maka kita harus mempersiapkan itu dengan langkah-langkah yang Rasul tetapkan sebagai metode untuk menegakkan Islam secara kaffah.

Tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai kewajiban atas Khilafah itu sendiri dimana Khilafah akan benar-benar melaksanakan seluruh hukum syariah dan menjaga aqidah kaum muslim.

Kemudian Ustad Ilman Silanas pun memberi penjelasan kepada para ulama, tokoh dan asatidz bahwa Hizbut Tahrir hanya memberi agenda besar yaitu mengembalikan kehidupan Islam dengan menegakkan syariah dan Khilafah, yang harus diperjuangkan oleh umat Islam bersama-sama. “Ingatlah, pertolongan Allah itu dekat, dan mari kita Istiqomah untuk tetap terus berjuang”, ajak beliau.

Pada sesi tanya-jawab, salah satu ustadz pun memberikan statemen,

“saya bingung saya harus memilih yang mana karena semuanya jelek, karena tidak ada satupun yang memenuhi syarat untuk dipilih karena intinya tidak akan menerapkan syariat Islam”, ujar H. Yusuf.

Peserta lainnya yaitu Ustad Ade Sugandi pun dengan lantangnya berkata bahwa,

“jika kita ikut memilih wakil rakyat, maka itu sama dengan kita telah memilih tandingan Allah dalam membuat hukum mengatur kehidupan manusia, maka cukuplah kita taat patuh terhadap Allah dan Rasul-Nya”, ucapnya.

Pada sesi penutupan diskusi Ustad Wawan, ulama dari Kec. Solokanjeruk, menegaskan bahwa jika kita terus mengopinikan Khilafah, maka dengan izin Allah lambat laun akan turut disuarakan umat, umat akan merasa memiliki. Sama halnya seperti bendera tauhid yang dulunya asing, sekarang sudah menjadi milik umat.[]

Sumber: shautululama.net