US Flag Around the Earth --- Image by © Images.com/Corbis
US Flag Around the Earth --- Image by © Images.com/Corbis

Habis Gelap Terbitlah Terang

Oleh: Fajar Kurniawan  

Agama Islam menuntut kita untuk bersikap furqaan, menurut para ulama’ diantaranya Al-Hafizh Ath-Thabari (2/70), maknanya berarti “Pemisah antara yang haq dan yang bathil”.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 42)

Menafsirkan ayat ini, Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil -rahimahullaah- menjelaskan:

Yakni janganlah kalian mencampurkan antara kebenaran dengan kebatilan, dan huruf ba’ (dalam ayat ini) untuk menunjukkan pencampuran. Maka ayat ini mengandung dua larangan: Pertama, mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Kedua, menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya; maka perbuatan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan merupakan penyesatan, dan menyembunyikan kebenaran yakni menyembunyikannya dan menghilangkannya, maka kedua perbuatan tersebut merupakan dosa besar dalam Din Allah.” (Lihat: At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah al-Baqarah), Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah – Dar al-Ummah: Beirut. Cet. II: 1427 H/ 2006)

Tafsir di atas mengingatkan kita untuk tegas menolak segala kemungkaran, dan menjunjung kema’rufan. Termasuk kemungkaran yang dilakukan AS di berbagai Negara. Dalam percaturan politik internasional saat ini, Amerika terus menunjukkan dirinya sebagai kekuatan global tunggal yang tak tertandingi. Meskipun negeri itu sedang mengalami kesulitan dan ekonominya memburuk, dan menderita kemunduran dalam perang yang panjang di Irak dan Afghanistan, namun tetap mengklaim dirinya sebagai negara adidaya. dan Amerika terus membuka front perang baru di Semenanjung Korea, Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan.

Termasuk front yang pernah dilakukan di Somalia, penyerangan dengan pesawat tanpa awak di Yaman dan Pakistan, dan penyerangan terhadap Libya, Amerika telah bertindak sendirian, maupun dengan para sekutu NATO-nya. Dunia Muslim dilanda serangan badai negeri-negeri imperialis. Meskipun memiliki sumber daya yang sangat besar, Dunia Muslim telah menyaksikan gejolak di negerinya sendiri, sebagai akibat dari para penguasanya yang menjadi kacung Amerika dan memberikan apa saja yang dituntut Amerika. Ini adalah realitas suram negeri-negeri muslim dalam menghadapi Amerika saat ini.

Adapun fakta yang tidak bisa dipungkiri siapapun, bahwa secara historis umat Islam pernah menjadi kekuatan utama dunia selama berabad-abad, di bawah naungan Khilafah. Banyak yang telah ditulis dan diketahui tentang zaman umat Islam yang gemilang di bawah naungan Khilafah. Pusat-pusat pembelajaran yang didirikan di Baghdad, Kairo, Maroko dan negara-negara lain dikenal dalam sejarah. Perkembangan ilmiah yang luar biasa telah dicapai umat Islam pada zamannya dalam masa yang panjang. Namun sedikit yang menjadi perhatian jika berkaitan dengan sebuah negara adidaya pada masa lalu, yakni Khilafah jika dibandingkan dengan kekuatan superpower pada masa kini, yakni Amerika. Akar sejarah Amerika dan hubungannya dengan dunia luar biasanya mengacu ke zaman Christopher Columbus, yang dianggap berjasa dalam memimpin penemuan benua Amerika. Namun, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sekitar tujuh abad sebelum kunjungan Columbus, para penjelajah Muslim dari negeri Khilafah telah mendarat di Amerika, dan mulai memiliki nenek moyangnya di negeri itu.

Bicara realitas status quo, kaum muslimin di bawah kekhalifahan sangat berbeda dengan realitas pada hari ini. Pada tahun 1793, Amerika sekali lagi memasuki wilayah perairan yang didominasi oleh Khilafah, dan kali ini 12 kapal Angkatan Laut Amerika ditangkap. Untuk menanggapi hal ini, Kongres Amerika memberikan mandat pada Presiden Washington, pada bulan Maret 1794 untuk membelanjakan hingga 700.000 koin emas dengan tujuan membangun kapal-kapal untuk armada angkatan laut yang kuat yang terbuat dari baja. Namun, armada ini hilang lagi dalam konfrontasi dengan Angkatan Laut Khilafah itu. Sejak itulah Amerika telah menyadari mereka berhadapan dengan kekuatan negara adidaya Khilafah. Setahun kemudian Amerika Serikat menandatangani Perjanjian Barbary dengan negara Khilafah. Kata Barbary merujuk pada governorat Afrika Utara untuk wilayah Aljazair, Tunisia, dan Tripoli, yang berada di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah.

Hari ini, di saat orang-orang yang berada di koridor kekuasaan di Barat sedang berusaha untuk memfitnah ide kekhalifahan, dan menciptakan narasi negatif tentang hal itu, sangat penting untuk disadari, bahwa sejarah adalah kesaksian dari sosok dan kecakapan kekhalifahan sehingga membantah jika ada narasi yang menjelek-jelekannya. Benar bahwa kekhalifahan, setelah terbentuk akan berusaha untuk menyatukan negara-negara Muslim, tapi adalah salah untuk meremehkannya sebagai negara yang regresif atau anti-modern.

Ketika Kekhalifahan didirikan, ia akan menggabungkan dunia Muslim, dan dengan cepat memanfaatkan segala sumber daya untuk pengembangan infrastruktur, dan industri pertanian. Munculnya negara Islam yang canggih ini juga akan berusaha mempensiunkan posisi strategis negara imperialis Amerika dari panggung internasional secara umum dan wilayah-wilayah Muslim pada khususnya. Namun, ini tidak berarti bahwa Khilafah akan terlibat untuk melakukan demonisasi atas warga negara berdasarkan ras, budaya, atau sejarahnya.

Sejarah menunjukkan menunjukkan informasi yang luas tentang kemurahan hati kekhalifahan, terhadap bangsa-bangsa lain yang mencari bantuan. Juga, sebuah evaluasi ulang dari sejarah Amerika situ sendiri menjelaskan ke dalam budaya progresif dan kaya bahwa para penjelajah dari Khilafah sampai ke negerinya.

 

Pada hari, adalah ironis bagaimana mungkin sebagian orang di Barat mencoba untuk mencoreng citra kekhalifahan sebagai entitas penuh dengan kekerasan, sementara pada saat yang sama mengekspor demokrasi dan memuliakannya melalui invasi terang-terangan.

Tahun-tahun lalu negara-negara kapitalis Barat yang secara internal tersentak oleh pergolakan ekonomi dan terbelenggu dengan peperangan di luar negeri, dan di sisi lain ada kaum muslim yang berani melawan penindasan para tiran, hingga menyebabkan jatuhnya diktator satu demi satu. Hingga tumbuh optimisme kaum muslimin di berbagai penjuru Negara bahwa ini indikasi realisasi Kekhalifahan, yang makin mendekat.[]

Telah terbit MU Edisi 202