jalsah ammah kediri agustus 2018

FKU Aswaja Kediri: Kami Saudara Seiman, Tidak Rela Saudara Kami Dipersekusi

Dinginnya suasana pagi, Ahad (5/8/2018) tak menyurutkan niat rombongan Kyai, Ulama dan muhibbin dari Kediri untuk berangkat menuju Mojokerto. Kehadiran beliau dalam rangka menghadiri Jalsah Ammah Ulama dan Kyai Aswaja se Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Kyai dan Ulama Kabupaten Mojokerto.

Kajian rutin tiap bulan ini diselenggarakan di RM. Lesehan Kembangan, Pungging, Mojokerto. Peserta kali ini yang hadir lebih dari 400 orang ulama, kyai beserta muhibbin dan tokoh masyarakat sekitar.

Rombongan ulama dan muhibbin dari Kediri ini hadir dalam rangka memberikan dukungan kepada ulama dan kyai di Mojokerto yang mengalami ujian kecil dalam dakwah.

“Ujian seperti ini wajar dialami oleh setiap orang yang berdakwah di jalan Allah. Nabi Muhammad juga diuji, Nabi Ibrahim juga diuji, Nabi Yusuf juga diuji”, demikian terang Kyai Ahmad Jauhari dari Kediri.

“Kami para ulama senantiasa saling bergandeng tangan, kami satu saudara seiman, ketika ada saudara kami disakiti, maka kami tidak rela. Karena kami para ulama dan kyai hanya menyampaikan dakwah Islam, dalam rangka mengingatkan. Hentikan persekusi terhadap ulama dan aktifis Islam”, seru salah seorang rombongan dengan semangat.

Ahad pagi itu mereka kompak hadir dan berkumpul bersama ulama dan kyai dari Jawa Timur yang meliputi daerah Jombang, Kediri, Nganjuk, Madiun, Ngawi, Gresik, Surabaya, Sidoarjo dan Pasuruan.

Para ulama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ulama (FKU) Aswaja Jawa Timur ini hadir berbondong-bondong memadati lokasi acara sejak pagi hari.

Mereka rela berangkat pagi-pagi buta dan sholat subuh berjamaah di masjid sekitar lokasi agar tidak terlambat mengikuti kegiatan Jalsah Ammah ini. Tepat pukul 06.30 acara dimulai yang dipimpin oleh soerang MC dan diawali pembacaan ayat suci AlQuran.

Pada Jalsah Ammah kali ini, empat ulama dari Mojokerto tampil sebagai pemateri secara bergantian dengan menyampaikan materi Istiqomah Dalam Dakwah di Tengah Maraknya Persekusi.

Kyai Abdurrahman Salam, Ponpes Al-Anwar Mojokerto, mengawali materi dengan menyampaikan berpegang teguh merupakan suatu jalan berbakti kepada Allah. Berpegang teguh itu bukanlah radikal. Justru yang radikal itu adalah orang yang menghalangi dakwah, yang mempersekusi para dai dan pengajian.
“Orang yang teguh pendirian itu tidak melakukan tipu daya. Mereka para dai, yang menyuarakan kebenaran difitnah sebagai penjajah, teroris dan anti Pancasila. Justru yang terorislah adalah pelaku fitnah itu”, terang beliau.

Hal ini dipertegas oleh pemateri kedua, Gus Kholid Habibullah. Beliau menyampaikan kepada para Jamaah bahwa mereka yang memusuhi dakwah itu adalah orang yang mempunyai kepentingan di luar Islam. Mereka bisa menggunakan jalan apa saja untuk menghalangi dakwah.
“Kitapun hari ini demikian, dituduh sebagai propaganda negatif sebagaimana Nabi Muhammad yang difitnah mengusung propaganda negatif.

Orang-orang yang terputus rahmat-nya adalah orang-orang yang membenci Rasulullah, membenci dakwah, membenci tegaknya syariah dan khilafah”, tambah Gus Kholid Habibullaah PP Al Anwar Puri.

Dalam dakwah memperjuangkan syariah itu memang tidak semulus apa yang kita prediksikan. Di depan begitu banyak tantangan dan ujian yang akan dihadapi layaknya di era Rasulullah Saw dalam membangun negara Madinah.

“Ketika kita diuji oleh Allah, rela berkorbanlah demi dakwah kepada Allah baik harta dan nyawa demi tegaknya khilafah”, begitulah ajak Kiyai Mashudi Pengasuh Ponpes Basmalah, Bangsal, Mojokerto.

Kyai Mashudi menambahkan bahwa apapun yang dipegang oleh orang sholeh, maka semuanya ikut sholeh. Beliau berpesan kepada hadirin, ”Hidup untuk dakwah, mati untuk dakwah, dan mati dalam dakwah”.

Pemateri terakhir, KH. Heru Elyasa, sebagai shohibul bait acara Jalsah Ammah ini, menyampaikan bahwa kita harus sungguh-sungguh menjalankan program-Nya Allah SWT dengan beriman dan beramal sholih. Ketika kita istiqomah di jalan dakwah dengan kesabaran, InsyaAllah, Allah akan memberikan kemenangan dengan tegaknya khilafah.

Acara ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh KH. Ahmad Jauhari, Pengasuh MT Al Hikam sekaligus Ketua FKU Aswaja Kediri. Setelah itu peserta dihibur dengan hadrah sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan panitia.[]