Diskusi ulama dan Tokoh Tebing Tinggi, Sumut, Persoalan Negeri Ini Sistem yang Buruk, Penguasa Tidak Amanah dan Ulama Su’

 Diskusi ulama dan Tokoh Tebing Tinggi, Sumut, Persoalan Negeri Ini Sistem yang Buruk, Penguasa Tidak Amanah dan Ulama Su’

Majelis Kajian Islam Kaffah (MAKKAH) membuka diskusi terbatas bagi para Ulama dan Tokoh Kota Tebing Tinggi dan Sekitarnya mengusung tema yaitu “Menggagas Solusi Bagi Ibu Pertiwi”.

“Tema tersebut diusung berkat banyaknya persoalan yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia, menunjukkan bahwa negeri ini tidak dalam kondisi baik baik saja. Bahkan sudah sangat meresahkan bagi masyarakat luas, seperti gempa bumi yang terjadi di daerah Ambon, Maluku yang banyak korban, sampai saat ini nasibnya belum mendapatkan perhatian dari pemerintah  daerah setempat maupun pemerintah pusat”, ungkap moderator mengawali acara Diskusi Terbatas Ulama dan Tokoh Tebing Tinggi dan Sekitarnya di Aula Waroeng Bebek PaWito, Tebing Tinggi, Ahad, 06/10/2019.

Di Wamena Papua terjadi kerusuhan yang banyak menelan korban jiwa, aksi demo mahasiswa yang hampir dilaksanakan di berbagai daerah hingga anak Sekolah Teknik Mesin (STM) pun ikut andil turun ke jalan. Terakhir disusul dengan aksi massa Mujahid 212 yang jumlahnya ribuan orang ikut dalam aksi dengan tema “Selamatkan NKRI”. Hal ini semakin menambah komlpeks permasalahan negeri ini. Mulai dari kemiskinan, perpecahan, kezholiman dan ketidakadilan. “Apakah kita mau mempertahankan kondisi negeri ini atau kita mau berubah dan bagaimana cara mengubah permasalahan negeri ini” ungkap Moderator M. Sidik Lubis.

Mengawali diskusi ini, salah satu peserta yaitu Ustad Musdar Sya’ban memberikan tanggapannya yaitu, “Permasalahan negeri ini yang terjadi adanya penguasa yang tidak amanah, sistem yang buruk dan adanya ulama ulama yang Su’.  Solusi terbaik bagi Ibu Pertiwi adalah hijrah yang diawali oleh umat Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau merubah masyarakat jahiliyah kota Makkah dengan hijrah ke kota Madinah, sehingga mampu merubah masyarakat kota Makkah”.

Lanjut beliau, amal dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah pada saat di kota Makkah berbeda dengan amal dakwah pada saat di kota Madinah. Dimana dakwah di kota Makkah adalah dakwah perjuangan dan tantangan yang sangat luar biasa yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat, sehingga terjadi pemboikotan kurang lebih salama 3 tahun lamanya. Rasulullah hampir terbunuh dan mereka masih tetap kokoh pada pendiriannya”.

Inilah yang terjadi di negeri kita saat ini, dimana ulama yang berseberangan dengan penguasa dan ulama-ulama yang memperjuangkan Islam dengan benar, yang menyeru kembali kepada Al_Quran dan As-Sunnah, maka ini akan dipersekusi lalu dikatakan sebagai ulama yang radikal dan teroris. Namun, beda halnya dengan ulama yang mau merapat dengan penguasa, maka ulama tersebut dikatakan kaum yang modernis yaitu kaum yang bisa diajak bicara.

Maka dari itu Ustad Mudar Sya’ban mengatakan kita para ulama perlu hijrah menuju seperti hijarahnya Rasulullah SAW, pada saat menuju daulah di Madinah dengan cara kita berjuang menyadarakan umat. Tanggung jawab ini ada di pundak ulama, karena umat butuh bimbingan dan tununan dari tangan para ulama. Rasulullah SAW mengatakan jika para ulama diam, maka sama halnya dengan setan yang bisu, tentu ini tidak kita ingin masuk ke dalam golongan setan yang bisu,

Maka para ulama harus menyuarakan yang haq dan yang batil meskipun mendapatkan resiko yang besar sama seperti hal yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat ketika berdakwah di kota Makkah.

“Perubahan kita harus jelas yaitu ke arah perubahan ke sistem Islam bukan sistem yang lain”, seru beliau.

Di akhir pernyataannya Ust. Musdar Sya’ban mengajak para ulama, peserta diskusi menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai penuntun menuju perubuhan, dengan mengingat janji Allah SWT dan janji Rasulullah SAW

“Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”.[HR. Imam Ahmad]“

Selain itu, peserta diskusi lainnya Ustad Musa Abdul Ghoni, memberikan gagasan solusi dengan antusias di tengah-tengah forum diskusi Ulama dan Tokoh ini. Dia mengawali dengan Firman Allah SWT,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d: 11).

Dalam catatatannya, negeri ini sudah lama bermasalah sejak runtuhnya Kekhilafaan Turki Utsmani 1924 hingga sampai saat ini.  Bahkan pada tahun 1998 perubahan yang terjadi yaitu reformasi yang tadinya diharapkan dapat membawa perubahan bagi bangsa ini, namun justru bertambah buruk.

Lebih lanjut, Ustad Musa Abdul Ghoni menyatakan, ada yang terlupakan oleh umat islam ketika menginginkan suatu perubahan yaitu sebagaimana Quran Surat: Al-Ahzab : 21.
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir, serta banyak berdzikir kepada Allah”.
Fakta kondisi saat ini, tidak jauh berbeda dengan kondisi Rasulullah SAW pada saat berada di kota Makkah, baik dari sisi akidah, ekonomi, sosial budaya dan politik. Beliau juga mengutip firman Allah SWT lainnya TQS : Ar-Rum :41“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Maka untuk merubah negeri ini dibutuhkan dakwah yang sesuai dengan dakwah Rasulullah SAW, dengan mengajak kepada islam seperti TQS : Ali Imaran : 104

“Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang orang yang beruntung”, karena pada hari ini umat islam hanya mengatahui masalah sholat, puasa, zakat, haji.

Umat islam negeri ini, 75% tidak memahami islam secara kaffah. Maka dari itu peran dakwah para ulama sangat dibutuhkan oleh umat ini.  Dakwah tersebut mengambil contoh thariqah/metode dakwah Rasulullah SAW. Adapun tahapan thariqah dakwah Rasulullah SAW yaitu tatsqif/pengkaderan/pembinaan kepribadian islam, berinteraksi dengan umat dan penerimaan kekuasaan.

Insya Allah, jika tahapan ini yang dicontoh oleh ulama kita, maka perubahan untuk negeri ini akan membuahkan hasil”, pungkasnya.

Di akhir acara Diskusi Terbatas Ulama dan Tokoh Kota Tebing Tinggi ini, ditutup dengan doa yang dibawakan oleh Ustad Musdar Sya’ban dan dilanjutkan dengan makan siang bersama para seluruh peserta diskusi di Waroeng Bebek PaWito Tebing Tinggi.[]

Sumber: shautululama.co

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *