china myanmar

Cina Tegaskan Kembali Sikap Anti-Islamnya Dalam Kasus Rohingya

Selain berusaha memenjara satu juta kaum Muslim di wilayah Xinjiang, Cina juga berusaha menekan dan menyembunyikan malapetaka kaum Muslim Rohingya. Menurut Reuters, seorang diplomat senior Cina mengatakan bahwa masalah Rohingya seharusnya tidak diperumit, diperpanjang atau “diinternasionalkan”. Hal itu disampaikan ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa bersiap membentuk badan untuk menemukan bukti pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar.

Dewan Hak Asasi Manusia PBB memberikan suara pada Kamis untuk membentuk badan yang juga akan menginvestigasi kemungkinan genosida di Negara Bagian Rakhine di Myanmar Barat.

Cina, Filipina, dan Burundi menentang langkah tersebut, di mana mereka mengklaim bahwa sikapnya ini didukung oleh lebih dari 100 negara.

Selama setahun terakhir, lebih dari 700.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari negara yang sebagian besar beragama Buddha ke negara tetangga Bangladesh menyusul reaksi militer terhadap serangan oleh para pemberontak Rohingya di lokasi-lokasi keamanan.

PBB telah menggambarkan bahwa tindakan Myanmar sebagai “pembersihan etnis”, namun tuduhan ini ditolak oleh Myanmar. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mencela “para teroris” Rohingya atas sebagian besar kekejaman.

Cina memiliki hubungan dekat dengan Myanmar dan mendukung apa yang disebut para pemimpin Myanmar sebagai operasi kontra-pemberontakan yang sah di Rakhine. Beijing membantu dalam menghalangi resolusi krisis di Dewan Keamanan PBB.

Sungguh telah menjadi hal biasa bagi sebagian Muslim untuk memandang Cina sebagai alternatif yang baik terhadap imperialisme Amerika, sama seperti generasi sebelumnya yang menganggap Uni Soviet sebagai alternatif. Akan tetapi Allah SWT berfirman tentang orang-orang kafir: “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.” (TQS Al-Anfal [8] : 73).

Umat Islam tidak akan pernah lepas dan terhindar dari berbagai musibah yang menghantuinya sampai mereka  berserah diri hanya kepada Allah semata, menaati-Nya dan menerapkan hukum-hukum-Nya secara sempurna. Umat tidak kekurangan potensi, tanah dan sumber daya. Sehingga yang kita butuhkan adalah menyatukan mereka, di mana penyatuan ini hanya bisa dicapai dengan berlandaskan pada akidah Islam, setelah penolakan terhadap berbagai keyakinan, gagasan, dan sistem Barat yang membuat kita terkotak-kotak, dan masih tunduk pada hegemoni Barat, bahkan setelah berakhirnya penjajahan resmi[]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info (2/10/2018)

Telah terbit MU Edisi 219