An exhausted Rohingya helps an elderly family member and a child as they arrive at Kutupalong refugee camp after crossing from Myanmmar to the Bangladesh side of the border, in Ukhia, Tuesday, Sept. 5, 2017. The man said he lost several family members in Myanmar. Tens of thousands of Rohingya Muslims, fleeing the latest round of violence to engulf their homes in Myanmar, have been walking for days or handing over their meager savings to Burmese and Bangladeshi smugglers to escape what they describe as certain death. (AP Photo/Bernat Armangue)
An exhausted Rohingya helps an elderly family member and a child as they arrive at Kutupalong refugee camp after crossing from Myanmmar to the Bangladesh side of the border, in Ukhia, Tuesday, Sept. 5, 2017. The man said he lost several family members in Myanmar. Tens of thousands of Rohingya Muslims, fleeing the latest round of violence to engulf their homes in Myanmar, have been walking for days or handing over their meager savings to Burmese and Bangladeshi smugglers to escape what they describe as certain death. (AP Photo/Bernat Armangue)

China Tegaskan Kembali Sikap anti-Muslimnya atas isu Rohingya

Tidak puas dengan memenjarakan satu juta Muslim di provinsi Xinjiang, China juga berusaha untuk mengirimkan bencana atas Muslim Rohingya. Menurut Reuters:

Isu Rohingya tidak boleh dibuat rumit, diperluas atau “diinternasionalisasi”, kata seorang diplomat senior China, ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa bersiap untuk membentuk badan untuk mempersiapkan bukti pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar. Dewan Hak Asasi Manusia PBB membentuk badan itu – September 2018 yang lalu, yang juga akan mencari kemungkinan genosida di negara bagian Rakhine barat Myanmar.

Namun Cina, Filipina, dan Burundi menentang langkah itu, yang pendukungnya mengatakan didukung oleh lebih dari 100 negara.

Selama setahun terakhir, lebih dari 700.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari negara mayoritas Budha ke negara tetangga Bangladesh menyusul aksi militer terhadap serangan terhadap pos keamanan oleh gerilyawan Rohingya. PBB telah menyebut tindakan Myanmar sebagai “pembersihan etnis”, tuduhan yang ditolak oleh Myanmar, menyalahkan “teroris” Rohingya untuk sebagian besar tuduhan kekejaman.

Cina memiliki hubungan dekat dengan Myanmar, dan Cina mendukung apa yang disebut oleh pejabat Myanmar sebagai operasi counter-insurgency (kontra-pemberontakan) yang sah di Rakhine. Beijing telah membantu untuk memblokir resolusi tentang krisis tersebut di Dewan Keamanan PBB.

Sudah menjadi hal yang biasa di antara beberapa kalangan Muslim untuk memandang Cina sebagai alternatif yang penuh kebajikan terhadap imperialisme Amerika, sama seperti generasi sebelumnya yang terbiasa melihat Uni Soviet sebagai alternatif. Tetapi Allah (swt) justru berfirman tentang mereka, orang-orang kafir:

(وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ)

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain…” [QS. Al-Anfal: 73]

Umat Islam tidak akan pernah lolos dari musibah yang dihadapi hingga umat Islam bergantung pada Allah (swt) sendiri, taat kepada-Nya, dan menerapkan sepenuhnya Din yang diwahyukan oleh-Nya melalui junjungan kita Muhammad (saw). Umat tidak memiliki kemampuan, tanah dan sumber daya apa pun; semua yang dibutuhkan adalah penyatuannya, yang hanya dapat dicapai atas dasar Aqidah Islam, setelah umat menolak Aqidah sekuler, pemikiran, dan sistem Barat yang telah membuat kita terpecah-pecah dan masih tunduk pada dominasi Barat bahkan setelah berakhirnya kolonialisme formal.

Sumber : Kantor Berita HT