Quran-pak-1

[Buletin Kaffah] Hidup Mulia Bersama Al-Quran

[Buletin Kaffah No. 091, 12 Ramadhan 1440 H – 17 Mei 2019 M]

Ramadhan memiliki berbagai nama agung. Salah satunya Bulan al-Quran (Syahr al-Qur’an). Sebab pada bulan inilah Allah SWT menurunkan al-Quran sekaligus ke langit dunia, untuk kemudian secara berangsur-angsur Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril. Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ…

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Allah SWT juga menjadikan malam turunnya al-Quran sebagai malam yang penuh berkah. Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sungguh Kami menurunkan al-Quran pada suatu malam yang diberkahi. Sungguh Kamilah Yang memberi peringatan (TQS ad-Dukhan [44]: 3).

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sungguh Kami telah menurunkan al-Quran pada Malam al-Qadr. Tahukah kamu apakah Malam al-Qadr itu? Malam al-Qadr itu lebih baik dari seribu bulan (QS al-Qadr [97]: 1-3).

Ramadhan disebut Bulan al-Quran juga karena kaum Muslim diminta untuk menggemarkan membaca al-Quran pada bulan shaum ini. Telah sampai kepada kita sejumlah riwayat yang menceritakan Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saw. pada bulan Ramadhan. Ia mengajari Rasul saw. hapalan al-Quran. Diriwayatkan, “Dulu Jibril mendatangi dan mengajarkan al-Quran kepada Nabi saw. setiap tahun sekali (pada bulan Ramadhan).” (HR al-Bukhari).

Generasi terdahulu dari kalangan orang-orang salih biasa menghidupkan Ramadhan dengan ragam ibadah. Di antaranya dengan sibuk membaca al-Quran. Mereka memahami besarnya keutamaan membaca al-Quran. Apalagi pada pada bulan Ramadhan. Nabi saw. bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Siapa yang membaca satu huruf saja dari Kitabullah,  bagi dia satu kebaikan, sementara satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali (HR at-Tirmidzi).

Para ulama telah menjadikan tilawah al-Quran sebagai salah satu amal yang banyak mereka kerjakan selama bulan Ramadhan baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Banyak di antara mereka yang mengkhatamkan al-Quran berkali-kali pada bulan Ramadhan. Mereka juga melakukan ragam kajian tentang al-Quran selama Ramadhan. Aisyah ra., setiap kali Ramadhan tiba, membaca al-Quran pada permulaan hari sampai matahari terbit, kemudian beliau beristirahat. Imam al-Aswad bin Yazid mengkhatamkan al-Quran setiap dua malam. Imam Qatadah mengkhatamkan al-Quran setiap tiga hari sekali dan mengkhatamkannya setiap malam pada sepuluh hari Ramadhan. Imam asy-Syafii mengkhatamkan al-Quran sebanyak 60 kali sepanjang Ramadhan. Imam Malik setiap kali memasuki bulan Ramadhan meninggalkan kajian hadis agar fokus membaca dan mengkaji al-Quran dari mushaf.

Al-Quran: Petunjuk Kehidupan

Al-Quran adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril. Mengimani al-Quran adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Mengingkari al-Quran, secara keseluruhan ataupun sebagian, adalah kekufuran. Allah SWT telah mengingatkan bahwa tidak akan masuk surge orang yang membangkang dan menyombongkan diri terhadap al-Quran (Lihat: QS al-A’raf [7]: 40).

Al-Quran memiliki kedudukan dan peran yang amat urgen bagi kaum Muslim. Al-Quran adalah petunjuk dalam kehidupan sebagaimana firman Allah SWT:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ…

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Al-Quran memberikan petunjuk seputar keimanan seperti sifat dan zat Allah, kisah umat-umat terdahulu, malaikat, jin, iblis, Hari Akhir, surga dan neraka, dll. Semuanya merupakan petunjuk agar umat manusia tidak jatuh dalam khurafat, tahayul, syirik dan kekufuran (Lihat, misalnya, QS ash-Shaffat [37]: 149-151).

Al-Quran juga berisi petunjuk seputar hukum bagi umat manusia karena manusia membutuhkan aturan yang dapat menata kehidupan mereka. Di dalam al-Quran terkandung hukum ibadah, akhlak, sosial, ekonomi dan bisnis, pidana, politik dan pemerintahan. Al-Quran, misalnya, membahas tentang keharaman ekonomi ribawi (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 278). Al-Quran membahas hukum pidana bagi pelaku perampokan dan kekerasan (QS al-Maidah [5]: 33). Al-Quran juga menetapkan hukum-hukum politik dan pemerintahan (QS al-Maidah [5]: 48).    Dengan demikian al-Quran adalah kitab suci yang paripurna. Tak ada satu pun yang luput dari pembahasannya. Allah SWT berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Kami menurunkan kepada kamu al-Kitab (al-Quran) sebagai penjelasan segala sesuatu serta petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum Muslim (TQS an-Nahl [16]: 89).

Menghidupkan al-Quran

Selama empat belas abad silam, kaum Muslim telah hidup bersama al-Quran. Mereka menjadikan al-Quran sebagai pedoman kehidupan. Hasilnya, kaum Muslim mencapai kejayaan. Islam tersebar ke hampir dua pertiga dunia. Kaum Muslim pun memimpin dunia berkat tunduk pada al-Quran.

Kepemimpinan ini berbeda dengan gaya kepemimpinan kaum imperialis Barat yang menindas warga pribumi. Kepemimpinan kaum Muslim dengan al-Quran mendatangkan keadilan dan menjunjung kemanusiaan. Hal ini banyak dicatat oleh para ilmuwan Barat yang menyaksikan langsung keagungan hukum-hukum al-Quran. Simak, misalnya, komentar W.E. Hocking, “Saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan…Sungguh dapat dikatakan, hingga pertengahan Abad 13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh Dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461).

Prof. G. Margoliouth juga menulis, “Penyelidikan telah menunjukkan bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti dan ilmu pengetahuan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab. Al-Quranlah yang—walaupun tidak secara langsung—memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka.” (Prof. G. Margoliouth, dalam De Karacht van den).

Masih banyak cendekiawan Barat yang secara jujur mengakui kehebatan al-Quran. Karena itu tentu aneh jika ada di antara kaum Muslim yang masih meragukan kelayakan al-Quran untuk diterapkan dalam kehidupan.

Hikmah Penerapan al-Quran

Penerapan hukum-hukum Islam telah menjauhkan kaum Muslim dan umat manusia dari krisis multidimensi; sosial, ekonomi, politik dan pemerintahan. Pelarangan praktik ekonomi ribawi dibarengi dengan penggunaan mata uang emas dan perak, misalnya, telah menjaga stabilitas perekonomian umat berupa harga-harga yang stabil. Kejadian itu terjadi bukan saja dalam satu dekade, namun berabad-abad. Ini berkebalikan dengan sistem ekonomi kapitalis yang berulang mengalami guncangan dan krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Kehidupan sosial masyarakat juga berjalan mantap. Jauh dari penyakit sosial. Tingkat perceraian, penelantaran anak dan kriminalitas dapat ditekan sampai titik terendah. Hal ini berkat kaum Muslim dan negara memberlakukan syariah Islam yang dibawa oleh al-Quran. Sebaliknya, hari ini di Tanah Air saja, krisis sosial sudah demikian akut. Tiap jam terdapat 40 pasangan bercerai. Ini merupakan angka perceraian tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Benarlah apa yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT:

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepada kamu agar kamu menjadi susah (TQS Thaha [20]: 2)

Allah SWT pun berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124)

Siapa saja yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh  bagi dia kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 123-124).

Alhasil, tidak selayaknya al-Quran sekadar menjadi hiasan di lisan kita. Hendaknya kita menjadikan hukum-hukum al-Quran sebagai aturan dalam kehidupan kita. Sungguh kita akan dihisab di Akhirat tentang al-Quran; apakah kita memberlakukan isinya dalam kehidupan ataukah kita menelantarkannya? []

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ: ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ :ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

Amalan puasa dan membaca al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, Tuhanku, aku telah menahan dia dari makan dan syahwat pada siang hari. Karena itu izinkanlah aku memberi syafaat kepada dia. Al-Quran berkata,  “Aku telah menahan dia dari tidur pada waktu malam. Karena itu izinkanlah aku memberikan syafaat kepada dia.” Kemudian keduanya pun diizinkan untuk memberikan syafaat.
(HR Ahmad).