[Buletin Kaffah] Haji: Bersatu Dalam Kalimat Tauhid

 [Buletin Kaffah] Haji: Bersatu Dalam Kalimat Tauhid

[Buletin Kaffah No. 100, 30 Dzulqa’dah 1440 H-2 Agustus 2019]

Tak lama lagi jutaan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul di Tanah Suci. Menggemakan kalimat tauhid. Mempersembahkan ibadah haji yang agung ke hadapan Allah SWT.

Pada hari itu tak ada kebanggaan selain mendapatkan gelar sebagai tamu-tamu Allah SWT. Nabi saw. bersabda:

وَفْدُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلاَثَةٌ الْغَازِي وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ

Tamu Allah ada tiga: mujahid, haji dan peserta umrah (HR an-Nasa’i).

Ibadah Sarat Hikmah

Pelaksanaan haji memiliki banyak hikmah yang penting. Pertama: Haji adalah ibadah yang menunjukkan ketaatan dan pengorbanan. Hanya mereka yang kuat tekadnya yang mau berkorban untuk berhaji. Sebaliknya, mereka yang lemah keyakinan tak akan pernah mau melakukan ibadah haji sekalipun punya kelapangan rezeki dan sehat raganya. Padahal dalam hadis qudsi, Allah SWT mengancam siapa saja yang mampu tetapi menunda-nunda berhaji dengan ancaman yang keras:

إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ جِسْمَهُ وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِى الْمَعِيشَةِ تَأْتِى عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لَمْ يَفِدْ إِلَىَّ لَمَحْرُومٌ

Sungguh seorang hamba yang telah Aku sehatkan badannya, Aku lapangkan penghidupannya, lalu berlalu masa lima tahun, sementara dia tidak mendatangi-Ku (menunaikan ibadah haji, red.), dia orang yang benar-benar terhalang (HR al-Baihaqi).

Kedua: Ibadah haji adalah simbol tauhid. Di dalamnya ada penegasan pengesaan Allah SWT dan penafian sekutu bagi-Nya. Selama ibadah haji para jamaah senantiasa mengumandangkan kalimat talbiyah yang berisi seruan tauhid. Kalimat talbiyah juga berisi pengakuan bahwa seluruh kekuasaan hanya milik-Nya semata. Tidak ada pemilik yang hakiki selain Allah SWT (Ibnu Qayyim, Mukhtashar Tahzib Sunan, 2/335-339).

« لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ »

Aku menjawab panggilan-Mu, ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sungguh segala pujian,  kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Seluruh jamaah haji tak henti-hentinya memohon segala kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah SWT. Mereka pun memohon ampunan atas segala dosa. Mereka mengetahui bahwa momen berhaji adalah saat Allah SWT  mengabulkan setiap permintaan dan mengampuni setiap kesalahan hamba-Nya.

« الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ »

Orang yang berperang di jalan Allah, yang berhaji dan yang umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, pasti Allah mengabulkan mereka, dan jika mereka meminta, niscaya Allah memberi mereka (HR Ibnu Majah).

Ketiga: Berhaji juga menapaktilasi jejak bersejarah dan spiritual mulai dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as. hingga Rasulullah saw. Kaum Muslim berkumpul di sekitar Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Mereka berdoa di Hijr Ismail dan Maqam Ibrahim, kemudian melaksanakan sa’i dari Shafa ke Marwa, sekaligus mereguk kesegaran air dari sumur Zamzam yang historis dan berkah.

Kemudian saat menginjakkan kaki ke Masjid Nabawi, tak ada satu pun jemaah haji yang tak membayangkan sosok Baginda Nabi saw. bersama keluarga dan para sahabat. Merekalah yang bahu-membahu memperjuangkan tegaknya agama Allah dan senantiasa membela kemuliaan Rasul-Nya.

Dengan napak tilas itu seharusnya bangkitlah kekuatan ruhiah seorang Muslim. Muncullah semangat ibadah, perjuangan dan pengorbanannya.

Keempat: Ibadah haji juga mengajari kaum Muslim untuk mengendalikan amarah dan permusuhan; sebaliknya mengembangkan sikap ramah serta tolong-menolong kepada sesama. Di tengah cuaca panas terik, lelah dan berdesak-desakkan, para tamu Allah diminta untuk mengendalikan akhlak. Allah SWT berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي اْلأَلْبَابِ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Siapa saja yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat rafats, fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Apa saja yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah. Sungguh bekal terbaik adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (TQS al-Baqarah [2]: 197).

Para ulama menjelaskan: rafats adalah hubungan badan, fasik adalah mencaci-maki, sedangkan jidal adalah berdebat hingga memancing kemarahan. Ketiganya merupakan perkara yang terlarang dalam ibadah haji. Yang dituntut justru sebaliknya: senantiasa melakukan amal kebaikan.

Kelima: Ibadah haji adalah tempat sekaligus momen meleburnya jutaan Muslim dari segenap penjuru dunia. Tak pandang suku bangsa, bahasa, warna kulit dan strata. Mereka berkumpul di Padang Arafah, di Mina, lalu melaksanakan thawaf dan sa’i, dsb secara bersama-sama. Inilah sebagian kegemilangan ajaran Islam yang mampu mengikat manusia dalam satu buhul (ikatan), yakni akidah Islam.

Menuju Persatuan Hakiki

Yang jadi pertanyaan, mengapa ibadah haji tidak memberikan dampak persatuan yang hakiki dan berkelanjutan? Mengapa nikmat persatuan itu hilang usai ibadah haji dan umat tetap dalam keadaan porak-poranda?

Patut disayangkan, ibadah haji yang mengumpulkan dan melebur jutaan orang dalam satu tempat dan satu waktu, ternyata belum mampu mengantarkan mereka menuju persatuan yang hakiki. Hal ini terus terjadi setiap tahun. Persatuan umat saat berhaji baru sebatas menciptakan ikatan spiritual tanpa sistem (rabithah ar-ruhiyah bi la nizham). Sama persis dengan ibadah shalat berjamaah atau shalat Jumat. Umat berkumpul di satu tempat dan satu waktu, kemudian bubar begitu saja. Tak lagi ada ikatan di antara mereka.

Semestinya ibadah haji menjadi konferensi akbar untuk membangun kesadaran umat, bahwa mereka kini telah tercerai-berai. Tidak lagi menjadi umat yang satu. Banyak permasalahan umat yang harus diselesaikan secara bersama.

Ironinya, hari ini kaum Muslim mementingkan ego kebangsaan masing-masing. Mareka tak peduli pada kondisi saudaranya. Bahkan yang lebih ironis, beberapa negara Muslim seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab memberikan dukungan kepada pemerintah Komunis Cina yang melakukan kezaliman terhadap umat Muslim Uighur.

Jelas, kaum Muslim harus membangun kembali persatuan hakiki di antara mereka. Demikian sebagaimana dulu diawali oleh kaum Muhajirin dan Anshar yang bersatu dalam ikatan akidah Islam. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Kaum Mukmin itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah supaya kalian mendapat rahmat (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Ikatan akidah yang melahirkan ukhuwah islamiyah ini bukan saja tercipta di Madinah, Negara Islam pertama di dunia, namun terus menjalar ke setiap wilayah,  di mana pun Islam tersebar melalui dakwah dan futuhat (penaklukkan). Setiap bangsa yang memeluk Islam kemudian mengganti ikatan kesukuan dan kebangsaan mereka dengan ukhuwah islamiyah. Mereka menyambut saudara seiman mereka sekalipun berbeda suku bangsa, juga sekalipun para pendatang itu yang menaklukkan negeri mereka. Bangsa Spanyol di Andalusia dan Cordoba, Persia, Syams, suku Barbar di Afrika. Semua bersatu dalam ikatan akidah dan ukhuwah islamiyah bersama kaum Muslim yang berasal dari Jazirah Arab.

Sayang, hari ini kaum Muslim berada di titik terlemah karena terpecah-belah. Tak sanggup membela diri dan memberikan perlindungan kepada sesama Muslim. Mereka malah membiarkan saudara seiman sekarat di tengah penderitaan.

Hari ini sudah delapan tahun negeri Syams dilanda peperangan. Diperkirakan 370 ribu warga tewas sebagai korban perang. PBB menghitung ada 13,5 juta warga Suriah membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sekitar 6 juga warga Suriah mengungsi di dalam negeri dan 4,8 juta lagi berada di luar negeri Suriah.

Selain itu, akibat Perang Arab Saudi-Yaman, sekitar 70 ribu warga menjadi korban tewas. Di Cina, ada sekitar 1,5 juta warga Muslim Uighur dipenjarakan oleh Pemerintah Komunis Cina di kam-kam konsentrasi. Umat Islam sedunia tentu wajib memberikan pertolongan kepada mereka dan menyelesaikan pertikaian yang ada serta menghentikan kezaliman (Lihat: QS al-Anfal [8]: 72).

Bersatu di Bawah Kalimat Tauhid

Alhasil, mari kita rekatkan kembali ikatan ukhuwah islamiyah kita. Satukan hati kita. Campakkan ego kebangsaan dan kelompok yang telah membuat kita tercerai-berai, yang telah membuat musuh terus-menerus menguasai kita.

Mari kita jadikan kalimat tauhid sebagai pemersatu kita. Sungguh kita adalah umat yang satu. Bertuhankan satu, Allah SWT. Berhukum satu, Al-Quran. Dengan persatuan di bawah kalimat tauhid itulah Allah SWT akan menolong dan memuliakan kita. []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai. Ingatlah oleh kalian nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan. Lalu Allah mempersatukan hati kalian, kemudian kalian, karena nikmat Allah itu, menjadi orang-orang yang bersaudara. Kalian pun pernah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.
(TQS Ali Imran [3]: 103). []

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *