izzah islam

[Buletin Kaffah] Cintailah Islam, Jauhi Islamophobia

[Buletin Kaffah No. 099, 23 Dzulqa’dah 1440 H-26 Juli 2019 M]

Sesungguhnya pergolakan antara kebenaran dan kebatilan akan terus berlangsung sampai Hari Kiamat. Pergolakan itu akan terus ada selama pengikut kebatilan masih ada, yakni mereka yang mengikuti bujuk rayu dan jalan Iblis. Iblis telah divonis kafir karena menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Dia lalu diusir dari surga. Iblis kemudian berkata seperti yang dilukiskan dalam firman Allah SWT (yang artinya): Iblis berkata, “Tuhanku, karena Engkau telah memutus aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (TQS al-Hijir [15]: 39).

Sejak saat itu, para pengikut Iblis terus memerangi kebenaran, sebagaimana Iblis, hingga Hari Kiamat.

Allah SWT juga menjadikan untuk tiap-tiap nabi musuh dari para pendosa (QS al-Furqan [25]: 31) dari golongan jin dan manusia. Allah SWT berfirman:

﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ ﴾

Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin (TQS al-An’am [6]: 112).

Itu artinya, akan selalu ada orang yang memusuhi risalah yang dibawa oleh setiap nabi. Demikian juga terkait Nabi Muhammad saw. dan risalah yang beliau bawa. Akan terus ada musuh dari golongan jin dan manusia yang memusuhi Islam dan kaum Muslim.

Allah SWT menjelaskan dalam banyak ayat, bahwa mereka yang memusuhi Islam dan kaum Muslim itu berasal dari kalangan kaum kafir. Allah SWT memberitahukan bahwa di antara kaum kafir itu, yang paling keras permusuhannya terhadap kaum Muslim adalah kaum Yahudi dan kaum musyrik (QS al-Maidah [5]: 82). Allah SWT pun memberitahukan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kaum Muslim sampai kaum Muslim mengikuti millah mereka (QS al-Baqarah [2]: 120).

Betul, permusuhan dan kebencian tidak otomatis tampak dari setiap orang kafir baik Ahlul Kitab maupun orang musyrik. Namun, permusuhan dan kebencian pasti tampak dari sebagian kaum kafir melalui lisan-lisan mereka. Yang tampak itu barulah sebagian dari kebencian yang tersembunyi di dalam dada mereka. Allah SWT menegaskan:

﴿قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ﴾

Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat lagi (TQS al-Imran [3]: 118).

Islamophobia

Berdasarkan hal di atas, sikap membenci Islam (islamophobia) banyak muncul dari kaum kafir. Kebencian dan permusuhan yang tersimpan di dada mereka itu membuat mereka bersikap nyinyir terhadap berbagai ajaran Islam seperti penerapan syariah secara kaffah dan khilafah. Mereka tidak suka dengan berbagai simbol dan syiar Islam. Mereka menyoal dan merendahkan hijab (jilbab). Mereka meradang melihat Panji ar-Rayah dan al-Liwa dikibarkan oleh siswa-siswa setingkat SMA. Mereka gerah menyaksikan  geliat semangat hijrah menuju Islam di berbagai kalangan, khususnya di kalangan para selebriti. Pasalnya, pengaruh hijrah para selebriti itu bisa saja memicu semangat yang sama secara lebih luas dan massif di tengah kaum Muslim, khususnya di kalangan para pemuda. Tentu masih banyak lagi sikap-sikap islamophobia yang muncul dari mereka.

Islamophobia itu membuat mereka memusuhi apa saja yang mereka nilai menjadi bagian dari ekspresi keislaman atau manifestasi (perwujudan) Islam. Mereka pun berusaha keras untuk menanamkan islamophobia itu pada orang lain, khususnya kepada kaum Muslim.

Tentu sikap islamophobia itu tidak selayaknya muncul dari seorang Muslim. Pasalnya, sikap islamophobia itu hakikatnya adalah kebencian terhadap Islam berikut ajaran dan syiar-syiarnya. Bagaimana mungkin seorang Muslim menampakkan kebencian terhadap Islam? Bagaimana bisa seorang Muslim menaruh curiga terhadap ekspresi keislaman saudara-saudaranya yang ingin “berhijrah” untuk lebih menghayati dan mengamalkan Islam? Apakah patut seorang Muslim memperlakukan secara buruk Muslim lainnya, termasuk para pemuda Islam, yang mengibarkan panji bertuliskan kalimat tauhid, Panji ar-Rayah dan al-Liwa’, yang  notabene Panji Rasulullah saw.?

Ekspresi Ketakwaan

Keimanan yang bersemayam dalam diri seorang Muslim sejatinya melahirkan takwa. Baik secara lahir maupun batin. Secara lahir antara lain tampak dari sikapnya mengagungkan syiar-syiar Islam. Allah SWT berfirman:

﴿ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾

Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan kalbu (TQS al-Hajj [22]: 32).

Imam Fakhruddin ar-Razi di dalam tafsirnya, Mafâtih al-Ghayb, menyatakan bahwa asal sya’âir adalah tanda-tanda yang dengan itu sesuatu dikenali. Imam al-Qurthubi di dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân menyebutkan, sya’âir adalah jamak dari sya’îrah, yaitu apa saja yang di dalamnya Allah memiliki perintah yang Dia beritahukan dan ajarkan. Di antaranya syiar satu kaum dalam perang, yakni alamat mereka yang dengan itu mereka dikenal. Jadi sya’âirulLah adalah tanda-tanda agama-Nya, terutama apa yang berkaitan dengan manasik.

Imam al-Baghawi dalam Tafsîr al-Baghâwi menyebutkan, “Sya’âirulLâh adalah tanda-tanda agama-Nya.”

Imam Abu al-Hasan al-Mawardi di dalam tafsirnya, An-Naktu wa al-‘Uyun (Tafsir al-Mawardi), mengatakan, “Terkait sya’âirulLâh, ada dua pendapat: pertama, berbagai kefardhuan Allah;  kedua: ajaran-ajaran agama-Nya.”

Imam an-Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya, Syarh Sullam at-Tawfiq, menjelaskan ayat tersebut, bahwa di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar-syiar agama-Nya.

Imam Abu Manshur al-Maturidi di dalam tafsirnya, Ta’wilâh Ahli as-Sunnah, menjelaskan ayat di atas: “Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah dengan perbuatan lahiriahnya maka pengagungan itu muncul dari ketakwaan hati. Begitulah perkara yang tampak pada manusia. Jika di dalam hatinya ada sesuatu dari ketakwaan atau kebaikan maka yang demikian itu tampak dalam perilaku lahiriahnya. Demikian juga keburukan, jika ada di dalam hati, maka tampak pada perilaku lahiriahnya.”

Begitulah, sikap mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar dan ajaran Islam, juga simbol dan berbagai ekspresi keislaman, hanyalah cerminan ketakwaan dan kecintaan pada Islam yang terkandung di dalam hati. Begitulah semestinya sikap seorang Muslim.

Sebaliknya, seorang Muslim harus menjauhi sikap-sikap islamophobia, yakni membenci Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kaum kafir. Mereka sejatinya memendam kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslim. Sikap mencemooh hijab, mencurigai semangat hijrah yang sedang merebak, alergi terhadap khilafah yang merupakan bagian ajaran Islam, meradang bahkan mengkriminalisasi Panji Rasulullah saw. ar-Rayah dan al-Liwa’ saat dikibarkan,  dan sikap-sikap islamophobia lainnya—jika  tampak dari seseorang yang mengaku Islam—semua itu justru menampakkan hakikat yang tersembunyi di dalam hati. Pepatah mengatakan, “Kullu inâ`in bimâ fîhi yandhahu (Bejana hanya bisa menumpahkan apa yang ada di dalamnya).”

Seperti pernyataan Imam Abu Manshur al-Maturidi, sikap demikian itu hanyalah penampakan hakikat yang ada di dalam hati. Boleh jadi begitulah Allah SWT berkehendak menyingkap jatidiri kemunafikan yang tersembunyi. Allah SWT berfirman:

﴿وَلَوْ نَشَآءُ لأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ﴾

Kalau Kami menghendaki, niscaya Kami menunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian (TQS Muhammad [47]: 30).

Cintai Islam Sepenuh Hati

Sikap yang harus dibangun dan ditunjukkan oleh seluruh umat Islam tidak lain adalah memenuhi perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴾

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Ini adalah perintah dari Allah kepada semua orang Mukmin untuk mengambil dan mengamalkan semua ajaran Islam dan syariahnya, termasuk mengagungkan syiar-syiarnya. Ini berarti, setiap Mukmin harus mencintai Islam sepenuhnya sebagai wujud totalitas kecintaan kepada Allah SWT. Kecintaan kepada Allah itu harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya, yakni Rasul saw.:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ﴾

Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni  dosa-dosa kalian.” (TQS Ali Imran [3]: 31).

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat yang mulia ini menjadi pemutus atas tiap orang yang mengklaim mencintai Allah, sementara dia tidak berada di atas jalan Muhammad maka dia adalah pendusta dalam klaimnya pada perkara yang sama, sampai dia mengikuti syariah Muhammad dan agama kenabian dalam semua ucapan dan keadaannya.”

Hendaknya setiap Muslim menunjukkan kecintaannya pada Islam dengan mengamalkan syariah Rasul Muhammad saw. secara menyeluruh di tengah kehidupan ini.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

لاَ يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk yang dinyatakan secara terus-terang, kecuali dari orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Mahatahu.
(TQS an-Nisa’ [4]: 148). []

Telah terbit MU Edisi 219