jalsah ammah makassar

Banggalah Mengibarkan Al-Liwa dan Ar-Rayah

Rabu malam (30/01/2018) Majelis Taqarrub Ilallah Sulawesi Selatan (MTI Sulsel) menyelenggarakan kegiatan Jalsah ‘Ammah bersama para alim ulama, asatidz dan tokoh masyarakat Makassar dan sekitarnya di Gedung Aula Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional Makassar.

Untuk kedua kalinya MTI melaksanakan kegiatan dengan tema Al-Liwa dan Ar-Rayah. Karena pentingnya persatuan bagi umat, maka topik yang kembali dibicarakan pada jalsah ammah adalah Al-Liwa dan Ar-Rayah Simbol Pemersatu Umat. Uraian tema dijelaskan oleh KH. Muh. Ihsan Abdul DJalil selaku narasumber.

Film 212 berdurasi pendek mengantarkan forum tentang betapa umat ini bisa menyatu dalam pijakan yang sama yakni kalimat tauhid. Dimana ia merupakan aqidah umat Islam. Kalimat itulah yang tertera dalam bendera hitam (ar Rayah) dan putih (al Liwa) yang merupakan bendera dan panji Rasulullah Saw. Kesucian kalimat dalam bendera itu telah mengikat hati kaum muslim untuk hadir dalam aksi bela tauhid sebagai bentuk protes 13 juta umat Islam atas pembakaran bendera Islam itu oleh ormas tertentu.

KH. Muh. Ihsan Abdul Djalil kemudian mengurai lebih lanjut tentang bendera Al-Liwa dan Ar-Rayah, baik itu penjelasan tentang warna, bentuk dan penggunaannya sejak masa Rasulullah Saw, masa khulafaurrasyidin hingga penggunaannya oleh beberapa wilayah di nusantara seperti Kesultanan Yogjakarta, Cirebon, Aceh dan juga Kesultanan Bugis.

Beliau menekankan kepada para peserta agar bangga dan tak perlu takut mengibarkan Al-Liwa dan Ar-Rayah, karena keduanya adalah simbol pemersatu umat Islam. Disela uraian beliau juga memutar video singkat kisah heroik para sahabat dalam mempertahankan Al Liwa dan ar Rayah pada perang mu’tah.

“Tadi kita sudah menyaksikan video Al-liwa dan Ar-royah yang sekarang sudah banyak berkibar di beberapa tempat dan mereka sudah makin percaya diri mengibarkan bendera itu, jadi kita harus bangga mengibarkannya sekarang karena pada masa rasul para sahabat pun bangga jika bisa menjadi pengibar bendera tersebut”, ujar beliau.

Beliau kemudian mengingatkan pentingnya persatuan umat islam dalam satu negara meskipun mereka berasal dari berbagai suku, bangsa, ras bahasa juga berbeda mazhab, kelompok ataupun organisasi. Karena semua perbedaan tersebut adalah sesuatu yang fitrah dan tidak mungkin dapat disatukan.

“Bahwa seharusnya umat Islam adalah satu umat dan mereka wajib bersatu. Meskipun mereka diciptakan bersuku-suku berbangsa-bangsa. Kita ini juga ada yang berbeda-beda pemahaman, berbeda mazhab, berbeda organisasi, itu perbedaan biasa. Oleh karena itu, umat islam memang tidak akan mungkin bersatu dalam satu ras, suku, bangsa juga kelompok, mazhab atau organisasi. Yang mungkin bisa kita lakukan adalah saling memahami dan bersikap toleran. Dan yang bisa disatukan itu hanyalah persatuan dalam satu negara yang sama”, pungkasnya. Negara yang beliau maksud adalah Khilafah yang disampaikan pada penjelasan berikutnya.

Uraian beliau menggugah peserta untuk memberikan tanggapan pada sesi diskusi, diantaranya ketua BKPRMI mengajak dengan lantang _“agar sejak saat ini kita kibarkan Al Liwa dan Ar Rayah, mustahil khilafah bisa kita tegakkan jika mengibarkan bendera ini saja tidak bisa”_ ujarnya sambil memekikkan takbir tiga kali dengan suara keras yang membuat perserta terhentak.

Lain halnya dari IMMIM, Ustadz Ridwan Patta Bone, “Menyedihkan kurang pedulinya umat Islam terhadap muslim di belahan lainnya seperti Uyghur. Paling kecaman lewat demo dengan mengibarkan bendera, makanya diperlukan umat bersatu dalam suatu institusi”, ungkap beliau.

Lalu Ustad Syarifuddin, Muballigh Makassar menanggapi, “Dulu di masjid-masjid berkibar bendera tauhid saat khutbah Jumat yang berwarna hijau mengapa sekarang tidak”. 

Sedangkan tokoh lainnya mengingatkan al Liwa dan ar Rayah serta khilafah penting untuk mempersatukan umat secara internasional, tetapi jangan kita lupakan nilai-nilai Islam yang bersifat lokal.[]

Sumber: shautululama.net