muharram

“Asyura” (10 Muharram) Hari Kemenangan Ahli Al-Iman

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Orang Syi’ah menjadikan “Asyura” [10 Muharram], sebagai “Yaum al-Ma’sat” [Hari Tragedi]. Karena, cucu Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, Sayyidina Husain bin ‘Ali, dibantai di Karbala. Peristiwa itu tentu saja menyisakan luka, tidak hanya bagi mereka, tetapi juga umat Islam. Jasad mulia beliau hingga kini disemayamkan di Karbala, Irak, sementara kepalanya disemayamkan di Kaero, Mesir, di Masjid Husein, bersebelahan dengan Jamik al-Azhar.

“Asyura” juga telah dijadikan oleh orang Yahudi, sebagai “Yaum an-Intishar” [Hari Kemenangan]. Ibn ‘Abbas Radhiya-Llahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama datang di Madinah, baginda mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Hari Asyura. Mereka ditanya tentang itu? Mereka menjawab, “Ini adalah hari, dimana Allah memenangkan Musa dan Bani Israil, maka kami berpuasa di hari ini untuk menghormatinya.” Maka, Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Kami lebih layak dengan Musa ketimbang kalian. Maka, baginda Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama memerintahkan untuk berpuasa [di hari itu].” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Dalam hadits ini, Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama menyatakan, bahwa “Kami lebih layak dengan Musa, ketimbang kalian.” Dalam riwayat lain dinyatakan, “Saya lebih berhak dengan Musa, ketimbang kalian.” Maka, ‘Asyura, sebagai “Yaum al-Intishar” [Hari Kemenangan] dikenang, dan Nabi titahkan kepada umat Islam untuk berpuasa, bahkan Puasa ‘Asyura ditetapkan sebagai puasa wajib, sebelum dinasakh, dan diganti dengan Puasa Ramadhan. Artinya, moment kemenangan Nabi Musa dan Bani Israil ini bukan hanya milik mereka, tetapi dikenang sebagai moment kemenangan orang-orang beriman.

Moment ini diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an:

﴿وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ ۝ وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ﴾ [سورة البقرة: 49-50]

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan bala tentaranya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” [Q.s. al-Baqarah: 49-50]

Ini adalah Q.s. al-Baqarah, yang merupakan Surat Madaniyah, surat yang turun setelah Rasulullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama hijrah ke Madinah. Ketika, di Madinah terdapat komunitas Yahudi. Ayat ini telah dikaji dan dipelajari oleh para sahabat, yang mengerti betul bahasa al-Qur’an, yang berbahasa Arab. Coba perhatikan, bagaimana cara Allah menjelaskan kepada kita:

Pertama, ketika Allah menjelaskan cara-Nya menyelematkan Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan Bani Israil, dari kekejaman dan kezaliman Firaun dan bala tentaranya, dan tentu membutuhkan waktu yang lama, bertahun-tahun, maka Allah Subahanahu wa Ta’ala menggunakan ungkapan:

﴿وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ﴾ [سورة البقرة: 49]

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan bala tentaranya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu.” [Q.s. al-Baqarah: 49]

Ungkapan, “Najjainakum” [Kami selamatkan kalian] digunakan Allah, karena waktu yang dibutuhkan oleh Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan Bani Israil untuk menyelamatkan diri dari kekejaman dan kezaliman Fir’aun dan para begundalnya itu lama. Karena, “Najjainakum” [Kami selamatkan kalian] itu menggunakan wazan, “Fa’ala” [dengan ditasydid ‘ain]. Maknanya, Mubalaghah [luar biasa], dan Tadh’if [berlipatganda].

Kedua, bandingkan dengan ayat berikutnya, ketika Allah Subahanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan Bani Israil, dari kejaran Firaun dan bala tentaranya di tengah Laut Merah, yang terjadi dalam waktu singkat, maka Allah menggunakan ungkapan, “Faanjainakum” [Kami selamatkan kalian]:

﴿وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ﴾ [سورة البقرة: 50]

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” [Q.s. al-Baqarah: 50]

Mengapa, Allah menggunakan uangkapan, “Fa Anjainaku” dengan menggunakan wazan, “Af’ala”? Karena, waktu yang dibutuhkan oleh Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan Bani Israil untuk selamat dari Fir’aun dan bala tentaranya sangat singkat.

Bahkan, saking singkatnya, dalam Q.s. al-Fajr, Allah menggambarkannya dengan ungkapan:

﴿وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ ۝ الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ ۝ فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ ۝ فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ﴾ [سورة الفتح: 10-13]

“Dan Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.” [Q.s. al-Fajr: 10-13]

Ungkapan, “Sautha ‘Adzab” [cemeti adzab] itu bisa diartikan, dengan sekali hentakan, atau cambukan, mereka langsung binasa. Begitulah, rapuhnya kekuasan dan bala tentara mereka sombongkan, yang dengannya digunakan untuk melakukan berbagai kezaliman di muka bumi. Bagaimana tidak rapuh, hanya dengan sekali hentakan, dan cambukan, semua “kedigdayaan” mereka rontok.

Ketika ayat-ayat ini dibaca oleh Nabi dan para sahabat, maka moment kemenangan ini begitu istimewa, karena menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Juga generasi berikutnya. Betapa, pertarungan antara al-Haq dan Batil, antara iman dan kekufuran itu, akan berlangsung lama, dan membutuhkan daya tahan yang luar biasa. Meski, pada akhirnya Allah pasti akan memberikan kemenangan kepada pejuang kebenaran. Tetapi, ayat-ayat ini penting disampaikan kepada mereka, agar semangat mereka tak runtuh, dan patah di tengah jalan sebelum sampai pada titik kemenangan.

Karena, kemenangan itu pasti. Kemenangan itu di tangan Allah. Semua ada waktunya. Maka, dibutuhkan kesabaran, hingga kemenangan yang dijanjikan itu tiba. Di sinilah, pentingnya ayat-ayat ini memberikan panduan, sekaligus obat, yang mengobati dahaga para pejuang yang merindukan kemenangan di sisi-Nya.[]

Telah terbit MU Edisi 219