Analisis: Strategi AS di Afghanistan

 Analisis: Strategi AS di Afghanistan

Pertanyaan:

Pada tanggal 15 September 2017, Taliban mengirim sebuah surat terbuka kepada Presiden AS yang menyerukan penarikan mundur pasukan AS dari Afghanistan, dan tidak menambah jumlah pasukan: “Gerakan Taliban meminta Presiden AS, Donald Trump untuk menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan, bahkan dalam sebuah surat terbuka Taliban memperingatkannya untuk tidak menambah jumlah tentara AS di negara yang membangkang pada Washington ini …” (Sumber: Novosti – RT – Rusia Today, 15/8/2017).

Seruan Taliban itu sebagai tanggapan atas niat Trump terkait strategi barunya di Afghanistan, dimana Taliban khawatir ada pengiriman pasukan baru dalam strateginya ini, mengingat adanya banyak pernyataan dari para pejabat Gedung Putih terkait rencana strategi barunya ini.

Situs tersebut, edisi 10/8/2017 mengutip pernyataan Trump kepada para wartawan bahwa sudah “sangat dekat” bagi pemerintahannya untuk mengadopsi strategi barunya di Afghanistan …” Trump  menambahkan: “Ini adalah keputusan yang sangat besar bagi saya … mengingat saya mewarisi kekacauan. Dan kami mencoba untuk menguranginya secara signifikan.”

Apakah dengan semua ini berarti bahwa AS serius dalam merancang strategi barunya di Afghanistan?

Apakah dalam strategi barunya ini akan ada pengiriman pasukan baru, atau mengaktifkan peran Pakistan atau India di Afghanistan tanpa pengiriman pasukan baru? Semoga Allah membalasmu dengan yang terbaik.

Jawab: Ya benar, dapat dikatakan bahwa saat ini AS sedang mengkaji dengan cepat strateginya di Afghanistan, sehingga mungkin saja AS menemukan panduan atas apa yang disebutnya dengan “tahap terakhir” intervensinya di Afghanistan … bahkan Trump sangat marah pada kepemimpinan militer di Afghanistan.

Reuters edisi 3/8/2017 melaporkan sebuah berita pertemuan panas antara Presiden AS, Trump dengan dua orang pejabat tinggi militer di Washington: “Telah terjadi ketegangan sengit selama pertemuan ketika Trump berkata bahwa Menteri Pertahanan James Mattias dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Danford harus mengkaji pemecatan Jenderal John Nicholson, komandan pasukan AS di Afghanistan, karena dia tidak berhasil memenangkan perang.”

Begitulah Trump menunjukkan keraguan dalam menghadapi perang AS di Afghanistan. Jika dulu pemerintahan Obama juga telah mengkaji dan mengubah strategi AS untuk Afghanistan, namun pengkajian ulang yang dilakukan oleh pemerintahan Trump saat ini memiliki kekhususan bahwa pengkajian ulang ini berlangsung dalam keadaan di mana berbagai masalah internasional AS dan posisinya di dunia semakin memburuk, dimana hal tersebut dapat dirinci sebagai berikut ini:

Pertama, Amerika menyatakan perangnya ke Afghanistan pada akhir tahun 2001 dengan dalih untuk menanggapi serangan 11 September, atas dorongan kaum neo-konservatif yang mengelilingi pemerintahan Bush junior.

Setelah kurang dari dua tahun, Amerika menyerang Irak dan mendudukinya, Amerika tenggelam di dalam pasirnya hingga menjadikannya meminta bantuan untuk bisa keluar, dan dengan tenggelamnya Amerika, maka perangnya di Afghanistan menjadi kurang penting, mengingat upayanya difokuskan untuk bisa keluar dari rawa Irak, setelah Irak dan kelompok perlawanan Irak menjadi perhatian utama dari pemerintahan Bush dan kemudian pemerintahan Obama.

Kemudian dengan keberhasilan pemerintahan Obama mengeluarkan sebagian besar pasukan AS dari Irak pada akhir 2011, maka AS mulai mengadopsi strategi baru untuk menghadapi kebangkitan China, bahkan masalah ini mendominasi pada periode kedua pemerintahan Obama.

Namun sebelum fitur dari strategi AS ini sempurna, bahkan selama persiapan dan elaborasinya, AS menemukan pengaruhnya di kawasan Arab tengah terguncang di hadapan revolusi musim semi Arab, terutama di Suriah, sehingga menjadikan AS harus mendistribusikan tenaganya untuk memerangi ancaman revolusi di kawasan Arab, khususnya Suriah, serta harus melawan China di Timur jauh, hal ini terlihat dari penolakannya atas wortel China dan sebaliknya berusaha menghidupkan militer Jepang, serta memprovokasi Korea Utara.

Sehingga dengan kenyataan ini, dan karena banyaknya korban serta kerugian AS di Afghanistan dibandingkan dengan jenis rata-rata, maka Afghanistan dan perang Amerika di sana semakin jauh dari status siaganya, meskipun itu tidak berarti benar-benar diabaikan dari sekedar mengungkapkan fakta bahwa prioritas baru telah menjadikannya terdepan dalam status siaga Amerika.

Kedua, selama bertahun-tahun perang  (16 tahun) di Afghanistan, dapat dikatakan bahwa tentara AS dan NATO yang terlibat dalam perang telah gagal total untuk membasmi perlawanan Afghanistan, terutama Taliban, yang digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2001 dengan intervensi AS.

Juga dapat dikatakan bahwa semua pilihan AS untuk stabilitas para anteknya di Afghanistan telah mengalami kegagalan yang sama. AS tidak mendapatkan keuntungan dari India yang disusupkan ke Afghanistan dalam rangka menghentikan apa yang AS sebut sebagai pemberontakan.

AS juga tidak mendapatkan keuntungan dari berbagai peperangan yang dilancarkan para anteknya di Pakistan atas Waziristan dan lainnya guna mengurangi laju kekalahan AS di Afghanistan, serta upaya rekonsiliasi dengan Taliban tidak mengalami kemajuan. Oleh karena itu, situasi yang dihadapi AS di Afghanistan tampak sangat suram setelah 16 tahun perang di sana.

Taliban bisa bergerak bebas di daerah yang luas di Afghanistan, sementara pemerintahan boneka di Kabul tidak memiliki pengaruh atasnya.

Sehingga gerakan Taliban tersebut dapat melakukan serangan yang kuat dan mengerikan di sebagian besar Afghanistan, termasuk di ibukota Kabul, di mana militer AS tidak berhasil memaksakan keamanannya, bahkan banyak serangan yang dilancarkan terhadap pasukan AS oleh anggota militer Afghanistan yang dilatih Washington.

Dengan demikian, sungguh semua ini telah mempersempit pilihan AS di Afghanistan.

Dalam menggambarkan realitas Afghanistan terkini dan ancamannya, laporan Carnegie Endowment edisi 22/5/2017 mengatakan “Akumulasi yang dihasilkan dari kelemahan rezim Afghanistan dan kembalinya Taliban tanpa kendali dapat menyebabkan bencana runtuhnya rezim dan pemerintah Afghanistan, yang mengarah baik pada kembalinya kekacauan atau perbaharuan kelompok teroris.”

Laporan tersebut menekankan bahwa konflik Afghanistan harus berakhir tidak hanya karena harganya mencapai 23 dolar miliar pertahun, namun karena sempitnya pilihan untuk solusi di Afghanistan.

Meskipun banyak penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada masa pemerintahan Presiden Obama, sebab yang tersisa hanya sekitar 10 ribu pasukan, ditambah 3 ribu tentara dari NATO, serta 20 ribu tentara dari perusahaan keamanan Amerika, namun penarikan itu tidak pernah sebagai hasil dari kemenangan apapun, atau untuk membuat kemajuan apapun.

Sementara Taliban dengan cepat menempati basis yang ditinggalkan oleh tentara AS, dan tidak tampak bahwa tentara pemerintah boneka Afghanistan bekerja efektif di luar ibukota, Kabul, meskipun jumlahnya besar dan banyak serta mendapat pelatihan dari Amerika, ini dari sisi militer.

Ketiga, sedangkan dari sisi politik, setelah AS menyadari sempitnya pilihan di Afghanistan, dan kebangkrutan opsi India, beralih ke perundingan dengan Taliban dimana harapannya bisa mengintegrasikan Taliban ke dalam pemerintahan Amerika di Afghanistan, dan menggunakan para anteknya di pemerintahan Pakistan untuk menarik para pemimpin Taliban agar bernegosiasi.

Namun demikian, semua upaya tersebut telah gagal, AS tidak berhasil secara militer atau politik mengenai masalah Afghanistan, bahkan AS tidak memiliki rencana khusus untuk masalah ini, dan telah menjadi area kritik karena tidak adanya rencana semisal di Afghanistan.

Kantor berita Interfax mengutip dari seorang sumber di Kementerian Luar Negeri Rusia yang mengatakan bahwa ketidakmampuan pemerintah Presiden AS Donald Trump untuk mengemukakan sebuah kebijakan yang jelas mengenai Afghanistan adalah faktor tambahan ketidakpastian dan ketidakstabilan di negara ini, termasuk juga bahwa hal itu tergantung pada tingkat kekuatan negara Afghanistan dan posisi negara-negara anggota NATO terkait kehadiran militernya di sana, dan prospek penyelesaian situasi di negara ini secara umum. (Rusia Today, 3/8/2017).

Keempat, dengan semua ini terlihat jelas betapa dalamnya krisis AS di Afghanistan, dan sempitnya pilihan, bahkan sangat membutuhkan pendingin perang Afghanistan jika tidak memungkinkan untuk mengakhiri sepenuhnya, itu semua untuk menghentikan penipisan kekuatan militer dan ekonominya.

Beberapa pemimpin militer melihat perlunya peningkatan pasukan AS untuk mengalahkan Taliban. Presiden mensyaratkan untuk menerima sebuah program jangka panjang serta hasil yang jelas dan konkret, yang tidak dapat dilakukan militer karena pengalaman pahit mereka di Afghanistan selama 16 tahun, yang membuat opsi ini secara teoritis adalah air liur Trump yang mengalir karena besarnya kekayaan mineral Afghanistan, yang diperkirakan bernilai 1 triliun dolar, selain posisinya sebagai koridor minyak dari Asia Tengah.

Situs surat kabar Al-Dustour, edisi 26 Juli 2017, mengutip dari New York Times “untuk mengungkap berbagai kemungkinan, Gedung Putih tengah mempertimbangkan untuk mengirim seorang utusan ke Kabul guna bertemu dengan para pejabat pertambangan di sana, melihat bahwa minggu lalu Gedung Putih memasuki sebuah debat yang semakin keras mengenai kebijakan Afghanistan, dimana tiga pembantu utama Trump bertemu dengan Michael N. Silver, salah satu direktur eksekutif perusahaan kimia “American Elements”, untuk membahas kemungkinan penggalian logam tanah yang jarang di sana”. Namun pilihannya untuk mengirim lebih banyak tentara dan investasi di bidang infrastruktur di Afghanistan, seperti perkeretaapian dan jalan untuk membuat penggalian logam ini menjadi mungkin, bukanlah pilihan yang aman bahkan sekalipun dengan kesepakatan bisnis yang mendominasi mental presiden, mengingat fakta bahwa semua potensi tambang di wilayah telah dikuasai Taliban.

Dengan demikian, pilihan yang mungkin akan diambil oleh pemerintahan Trump adalah penarikan militer AS ke pangkalan militer di Afghanistan untuk menjaga pemerintah antek dan mencegah keruntuhannya, dengan pembayaran yang besar ke Pakistan dan kembali ke Afghanistan setelah kebangkrutan India, semua itu untuk meyakinkan Taliban agar berintegrasi ke dalam sistem politik Amerika di Kabul, dan menghentikan revolusi Afghanistan, yakni mengakhiri perang Amerika yang paling lama.

Dengan demikian, AS berharap dapat secara signifikan mengurangi biaya perangnya di Afghanistan dengan mengalihkan kehadirannya ke pangkalan militer yang bergerak hanya saat ada ancaman, sehingga ini serupa dengan sejumlah pangkalannya di Teluk, selain untuk membantu para anteknya di Pakistan yang belum memutus langkah-langkahnya dengan Taliban, hal ini juga dapat merevitalisasi dan membangun kepercayaan dirinya sehingga Taliban menerima persyaratan AS melalui gerbang Pakistan.

Sebelumnya di era Obama, AS berhasil menggunakan para anteknya di Pakistan, sungguh “Pemerintah Afghanistan telah mencapai kesepakatan dengan Partai Islam, kelompok militan terbesar kedua di negara itu, tanpa kehadiran pemimpin kelompok tersebut, Gulbuddin Hekmatyar.

Dan yang menandatangani kesepakatan adalah para perwakilan kelompok bersenjata tersebut dengan Presiden Ashraf Ghani.” (BBC, 22/9/2016).

Hal ini yang mendorong AS untuk menggunakan Pakistan dalam masalah Taliban, terutama Hekmatyar setelah rekonsiliasi dan kembalinya ke Kabul, di mana dia meminta Taliban untuk mengintegrasikan ke dalam sistem politik, “pemimpin Partai Islam di Afghanistan Gulbuddin Hekmatyar meminta Taliban untuk masuk dalam rekonsiliasi dengan pemerintah Afghanistan, dan dalam pidato publik pertamanya setelah kedatangannya ke Kabul dia mendesak gerakan Taliban untuk membantu pasukan asing keluar dari negara itu dengan cara damai.”(Al Jazeera Net, 6/5/2017).

Kelima, tampaknya bahwa AS dan ancaman besar di depannya yang dihadapinya dalam percaturan China, terutama situasi yang semakin panas hari demi hari dengan Korea Utara, dan ancaman yang terus menghantuinya di Suriah, juga kegagalan semua kebijakan AS dalam pemulihan ekonomi yang sebenarnya, ini dari satu sisi, sementara dari sisi lain karena kelelahan militer AS di Afghanistan, putus asa untuk bisa menang, serta kebangkrutan peran India di tingkat lokal Afghanistan, juga harapan yang muncul dari kembalinya Hekmatyar, jelas dari semua itu bahwa AS berharap untuk mencapai rekonsiliasi dengan cara yang menjamin dirinya, yang tidak mampu dicapai dengan perang. Untuk itu AS memutuskan kembali untuk mengaktifkan peran Pakistan di Afganistan, dan mengurangi serangan Pakistan baik di dalam negeri maupun di perbatasan dengan Afghanistan.

Pada masa kepemimpinan militer baru yang dipimpin oleh Bajwa selama hampir delapan bulan, arena Pakistan telah dikosongkan dari operasi besar seperti yang dikenal pendahulunya Rachel Sharif, seperti operation Zarb-e-Azb dalam berbagai tahap yang disebut Rachel dengan “para teroris” di perbatasan dengan Afghanistan, dan hanya bentrokan ringan yang suaranya terdengar antara tentara Pakistan dan India di perbatasan Kashmir selama komando militer Jenderal Bajwa.

Itulah yang tidak diragukan lagi telah meningkatkan penerimaannya di dalam negeri, dan pada tingkat pemimpin Taliban.

Begitu juga, panglima militer baru Pakistan, Bajwa telah berusaha untuk memperluas kerjasama ke Afghanistan dengan tema memerangi organisasi negara (ISIS), yakni mengembalikan poros konsep “perang melawan terorisme” dari memerangi Taliban dan Mujahidin di Waziristan ke arah organisasi negara (ISIS).

Pendekatan ini mencakup pemerintah Afghanistan, suku-suku Pakistan yang loyal pada pendahulunya, Rachel, dan yang tersembunyi lebih besar dalam pembicaraannya (Bajwa) dengan gerakan Taliban-Afghanistan. “Panglima Militer Pakistan, Qamar Javed Bajwa memperluas kerjasama keamanan dengan Afghanistan, untuk melawan ancaman organisasi negara, dalam perkembangan langka terkait hubungan bilateral antara kedua negara.

Upaya Jenderal Bajwa ini dilakukan untuk memulai kerjasama keamanan dengan Afghanistan, selama pertemuan pada hari Jumat dengan sejumlah pemimpin suku-suku di Wadi Karam, “pembagian administratif terjadi di wilayah Kesukuan Federal di Pakistan”, di dekat perbatasan Afghanistan.

Panglima Militer Pakistan—dalam perkembangan langkah terkait hubungan bilateral dengan Kabul—mengimbau semua orang di kedua negara untuk “bersatu dan waspada”.

Dia juga berkata dalam pertemuan dengan suku-suku Wadi Karam, “kita harus bersatu, siap siaga dan waspada terhadap setiap ancaman ini …” (alkhaleejonline, 1/7/2017).

Dan yang lebih memperkuat lagi bahwa AS benar-benar tidak berdaya untuk mengalahkan para mujahid Afghanistan khususnya Taliban, adalah pernyataan rekonsiliasi Presiden Afghanistan setelah KTT Trump di Arab Saudi, “Yang paling penting adalah bahwa pemerintahan Afghanistan ingin rekonsiliasi, dan kami meminta Taliban untuk ikut memilihnya.

Jika mereka memilih rekonsiliasi, maka mereka akan mendapatkan semua yang diinginkannya melalui politik dan hukum, kami juga berharap Taliban sudi menjauh dari para teroris.” (Al Syarq Al Ausath, 25/05/2017).

Semua ini menegaskan bahwa kebijakan AS ingin meyakinkan Taliban bahwa Taliban berada di luar lingkup perang Amerika terhadap “terorisme”, bahkan AS bersama dengan barisan pemerintah Afghanistan dalam perang ini, lalu terkait dengan permintaan Taliban untuk menarik pasukan Amerika seluruhnya dari Afghanistan dapat dicapai melalui jalan damai bukan perang.

Keenam, ringkasnya bahwa strategi Presiden Trump di Afghanistan akan dilakukan pengkajian ulang terhadap situasi yang dihadapi oleh kebijakan AS yang memiliki ancaman di seluruh dunia.

Sehingga dengan melihat fakta-fakta tersebut di atas, bahwa kemungkinan AS akan mengkaji ulang kebijakannya di Afghanistan adalah sebagai berikut:

  1. Pengkajian ulang itu dilakukan sebagai pendingin besar untuk arena Afghanistan, membatasi kehadiran militer Amerika hanya di pangkalan militer, dan penggunaannya saat ada ancaman, serta menunjukkan misinya seolah-olah melawan “organisasi negara (ISIS)”.
  2. Tidak mungkin AS mengirim pasukan militer untuk tujuan pertempuran dan peningkatannya, namun pengiriman pasukan itu untuk waktu yang singkat, dan tidak untuk tujuan pertempuran, melainkan sebagai alat tawar negosiasi, yang seakan-akan dengannya AS mengatakan kami dapat “konsesi” untuk menarik kekuatan-kekuatan tambahan dengan imbalan “konsesi” Taliban, dan menerima untuk bernegosiasi guna menciptakan pemerintahan bersama dengan pemerintah Afghanistan, tentu saja tanpa mengurangi kepentingan AS.
  3. Untuk memudahkan godaan agar Taliban menerima, AS akan kembali mengaktifkan peran Pakistan dengan menampilkan kepemimpinan militer baru di Pakistan yang lebih banyak kelonggaran dan simpatinya pada Taliban untuk mendorongnya agar mau duduk dan bernegosiasi dengan pemerintah boneka di Kabul, serta terlibat dalam sistem politik Amerika di Afghanistan.

Ketujuh, terakhir kami memperingatkan untuk tidak berpihak atau condong pada para antek di Pakistan atau puas dengan kelembutannya terhadap Afghanistan yang ditunjukkan oleh pimpinan militernya.

Kita harus belajar dari masa lalu, AS tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya di Afghanistan jika tanpa bantuan para anteknya di pemerintahan Pakistan.

Kebijakan baru dari pemerintah Pakistan terhadap Taliban ini tidak lain hanyalah panggung sandiwara yang dirancang oleh AS sendiri untuk meyakinkan sandiwara yang tidak memiliki tujuan selain untuk menghilangkan ancaman dari kekuasaan para anteknya di Afghanistan tanpa intervensi militer yang berbiaya besar, yakni untuk memperkecil biaya …

Penguasa baru Pakistan tidak lain hanyalah wajah yang berbeda, yang menyingkap rencana AS tersebut.

Kadang-kadang AS meminta para anteknya di Pakistan untuk mempersempit gerakan jihad di Afghanistan dan menghancurkan kekuatannya, seperti kejahatan yang dilakukan Rachel di Waziristan sesuai rencana Obama.

Sekarang para tokoh pemerintah baru berusaha menggoda dan memperdaya Taliban serta membatasi geraknya sesuai rencana Trump, setelah kegagalan kebijakan AS dengan kekuatan untuk memaksakannya ke meja “perundingan” yang membinasakan sebagai cara untuk memberantas rencana jihad yang telah dirancangnya.

Begitulah, AS mencoba untuk mendorong negosiasi dengan pendekatan Pakistan melalui pintu penyesatan dan penipuan.

Sungguh kami memperingatkan untuk tidak jatuh ke dalam perangkap AS dan antek-anteknya, atau berpihak serta condong pada mereka. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” (TQS. Hud [11] : 113).

Sumber: alraiah.net, 23/08/2017.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *