Afghanistan dan Perlunya Kesadaran Politik

 Afghanistan dan Perlunya Kesadaran Politik

Surat kabar “Arabi 21” melakukan wawancara langsung dengan juru bicara kantor politik gerakan Taliban di Afghanistan, Muhammad Naim, pada hari Kamis, yang membahas perkembangan lapangan dan politik.

Dalam pertemuan yang disiarkan di halaman Facebook “Arabi 21”, Naim mengatakan, “Diskusi yang telah berlangsung di Doha selama sekitar 10 bulan dengan delegasi pemerintah Afghanistan terus berjalan lancar, untuk memastikan solusi masalah kita di Afghanistan, dan pendirian negara Islam, setelah penarikan semua pasukan asing.” (arabi21.com, 15/07/2021).


Kesadaran politik adalah kewajiban syara’, agar pengorbanan, nyawa orang yang tidak bersalah, dan tangisan orang yang ditinggalkan tidak menjadi tangisan di lembah; dan agar tidak ada pertumpahan darah untuk menetapkan aturan yang tidak berdasarkan hukum Allah, melainkan dengan otoritas, kekuatan dan alat-alat Amerika Serikat. Sayangnya, Taliban tidak belajar dari pengkhianatan para penguasa Pakistan pada Taliban, dan bagaimana mereka berpartisipasi dalam memeranginya setelah Amerika berbalik melawannya dalam apa yang disebut perang melawan terorisme; Taliban tidak belajar dari pengkhianatan dan peran penguasa Iran dalam perang melawannya dan kekuatan Utara; Taliban tidak belajar dari Amerika yang mempersenjatainya untuk mengusir Uni Soviet dari Afghanistan dan kemudian menggulingkannya. Apakah diterima akal, hanya dengan pena dan kertas, Taliban kehilangan apa yang telah mereka capai dalam perang yang panjang. Sungguh, Allah menjanjikan kemenangan kepada orang-orang yang sabar dan tabah, sekalipun jumlah mereka sedikit dibandingkan jumlah musuh. Allah SWT berfirman:

]الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِين[

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 249).

Kesadaran politik bukanlah kesadaran akan situasi politik, konstelasi internasional, insiden-insiden politik, atau mengikuti insiden-insiden politik, bahkan bukan analisis politik dan pemahaman realitas, sekalipun ini diperlukan, sangat penting dan perlu untuk memahami apa yang terjadi guna menentukan sikap terhadapnya, namun kesadaran politik itu adalah melihat dunia dari sudut pandang khusus, yaitu sudut pandang yang bersumber dari akidah yang melahirkan berbagai solusi dan hukum atas segala sesuatu dan perbuatan. Bagi kita, sebagai kaum Muslim, akidahnya adalah akidah Islam, yang darinya berbagai hukum ditetapkan untuk menghukumi semua perbuatan manusia. Kami melihat dunia dari sudut pandang Islam, yaitu sudut pandang La Ilāha Illallāh Muhammad Rasūlullāh (Tidak ada Tuhan selaim Allah, Muhammad utusan Allah); sudut pandang sabda Rasulullah SAW:

«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ، إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ»

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Bukhari Muslim).

Kesadaran akan rencana-rencana Barat terhadap Islam dan kaum Muslim, serta kepentingannya adalah kewajiban besar. Al-Qur’an telah mengajarkan kita kesadaran politik, serta pengungkapan politik di lebih dari satu situasi, di mana Allah SWT berfirman:

]وَإذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أوْ يَقْتُلُوكَ أو يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ ويمكر الله وَاللّهُ خيرُ الْمَاكِرِينَ[

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (TQS. Al-Anfāl [8] : 30).

Wahyu menceritakan berbagai upaya kaum Quraisy untuk membunuh Rasulullah Muhammad SAW, serta mengungkapkan rencana-rencana kaum kafir yang mencoba untuk mencairkan Islam dan membuatnya menerima konsep, peradaban dan hukum kufur. Allah SWT berfirman:

﴿قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ﴾

Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. (Sebaliknya), kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku’.” (TQS. Al-Kāfirūn [109] : 1-6).

Juga mengungkapkan persekongkolan kaum kafir melawan negara Islam dalam perang Khandaq, dan banyak lagi peristiwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an, di mana Al-Qur’an tidak cukup dengan ini saja, melainkan memerintahkan kita untuk mengetahui jalan-jalan orang-orang berdosa. Allah SWT berfirman:

]وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ[

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (TQS. Al-An’ām [6] : 55).

Pada dasarnya kaum Muslim itu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah: “Orang-orang yang mengenal Allah, Kitab-Nya, dan agama-Nya, maka mereka mengetahui jalan orang-orang beriman secara rinci, dan juga jalan para pendosa secara rinci, sehingga kedua jalan itu menjadi jelas bagi mereka. Sebagaimana menjadi jelas bagi orang yang tengah menempuh perjalanan, yaitu jalan yang menghantarkan pada tujuannya, dan jalan yang menghantarkan pada kehancuran. Dengan demikian, mereka adalah makhluk yang paling berilmu, paling bermanfaat bagi manusia, serta paling benar nasihat dan petunjuknya bagi mereka.” (Kitab Al-Fawāid, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah).

Seruan pada Rasulullah adalah seruan juga pada umatnya. Dalam firman Allah di atas tastabīn artinya jelas, yakni jelas dan rinci; sedang sabīl datang dalam format nakirah yang dimudhafkan yang memberi pengertian umum. Dengan demikian wajib bagi mereka yang berjuang untuk Islam agar jelas bagi mereka setiap jalan yang digunakan kaum kafir Barat, cara dan alatnya, agar mereka menyadarinya sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam jebakan-jebakannya. Diriwayatkan bahwa Umat bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku bukan penipu, dan penipu tidak akan mengelabuiku.” Pada dasarnya kaum Muslim harus mencerminkan perkataan Umar yang indah tersebut, “Aku bukan penipu, dan penipu tidak akan mengelabuiku.” Artinya: “Saya bukan penipu yang licik, tetapi penipu yang licik tidak akan bisa mengelabuinya.” Orang beriman itu bukan penipu dan pengkhianat, namun demikian tidak membiarkan orang lain mengkhianatinya.

Sampai kapan kita akan menyadari pentingnya dan perlunya kesadaran politik, agar kita tidak saling berperang untuk kepentingan musuh dan penjajah, dan agar pengorbanan tidak sia-sia?! []

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 19/07/2021.

 

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *